Wapres: Ricuh Papua Perlu Klarifikasi dan Informasi
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 524.475 (0)   |   COMPOSITE 6109.17 (0)   |   DBX 1194.89 (0)   |   I-GRADE 181.466 (0)   |   IDX30 517.087 (0)   |   IDX80 138.626 (0)   |   IDXBUMN20 407.246 (0)   |   IDXESGL 143.85 (-0.25)   |   IDXG30 142.274 (0)   |   IDXHIDIV20 456.023 (0)   |   IDXQ30 148.355 (0)   |   IDXSMC-COM 276.257 (0)   |   IDXSMC-LIQ 347.018 (0)   |   IDXV30 137.723 (0)   |   INFOBANK15 1047.79 (0)   |   Investor33 444.391 (0)   |   ISSI 179.418 (0)   |   JII 631.935 (0)   |   JII70 220.815 (0)   |   KOMPAS100 1231.17 (0)   |   LQ45 966.883 (-3.74)   |   MBX 1681.26 (0)   |   MNC36 329.297 (-2.07)   |   PEFINDO25 325.051 (0)   |   SMInfra18 313.073 (0)   |   SRI-KEHATI 379.382 (0)   |  

Wapres: Ricuh Papua Perlu Klarifikasi dan Informasi

Senin, 19 Agustus 2019 | 16:33 WIB
Oleh : YUD

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan bahwa kericuhan yang terjadi di Papua merupakan konflik sebab-akibat yang berawal dari kejadian di Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, Jawa Timur, sehingga perlu klarifikasi dan permintaan maaf dari pihak terkait.

"Apa yang terjadi di Surabaya, di Malang, itu tentunya perlu dijelaskan dengan terbuka, diklarifikasi. Karena apa yang saya lihat itu, masyarakat Papua hanya minta klarifikasi dan minta maaf,” kata Wapres JK usai membuka Simposium Cendekia Kelas Dunia di Kantor Wapres Jakarta, Senin (19/8/2019).

Klarifikasi dari semua pihak yang terlibat dalam konflik tersebut harus dilakukan secara terbuka dan tanpa diprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak berkepentingan khususnya di media sosial.

“Yang terjadi kemarin di Surabaya itu jelaskan saja secara terbuka apa yang terjadi. Kita kan hanya mendapat informasi, tapi informasi itu harus dilihat secara betul,” tambahnya.

Wapres menegaskan insiden di Surabaya dan Malang harus dijelaskan secara rinci akar masalahnya dan pihak yang terbukti bersalah dalam peristiwa tersebut harus meminta maaf.

Berdasarkan keterangan polisi, kericuhan di Papua berawal dari adanya pengepungan terhadap asrama mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang pada Jumat (16/8/2019), kata Wapres.

“Kan itu sebab-akibat saja. (Pengepungan) Itu tentu ada sebabnya lagi. Nah, apa sebab itu terjadi? Jadi, semua terbukalah, apa sebabnya, apakah benar ada yang bicara ada yang membuang Bendera Merah Putih di selokan? Apa benar itu, ini juga harus semua terbuka,” tegasnya.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto menyebut aksi di Papua dan Papua Barat dipicu oleh pernyataan negatif dari sejumlah oknum terkait pelecehan Bendera Merah Putih di Jawa Timur.

Di Papua Barat, massa memblokade beberapa ruas jalan utama di Manokwari, dengan membakar ban hingga membuat arus transportasi di daerah itu lumpuh. Sementara di Papua, ribuan warga berjalan kaki menuju Kantor Gubernur Dok II Jayapura untuk menemui Gubernur Papua Lukas Enembe. Aksi itu menyebabkan jalan utama macet dan pertokoan tutup.



Sumber: ANTARA


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Menristekdikti Dorong Rektor Asing Masuk Universitas Swasta Lebih Dulu

Menristekdikti Mohamad Nasir mendorong rektor asing masuk ke perguruan tinggi swasta terlebih dulu, tidak langsung masuk ke perguruan tinggi negeri.

NASIONAL | 19 Agustus 2019

AGP AGN Gelar HUT RI di 46 Lokasi

Artha Graha Peduli (AGP) Artha Graha Network (AGN) serentak mengadakan HUT Kemerdekaan RI di 46 titik di seluruh Indonesia

NASIONAL | 19 Agustus 2019

TPNPB-OPM Bertanggung Jawab atas Penembakan 2 Anggota TNI di Nduga

Panglima Daerah Kodap III TPNPB-OPM Ndugama, Bridgen Egianus Kogeya, bertanggung jawab atas penembakan tersebut.

NASIONAL | 19 Agustus 2019

Lakukan Donasi Tepat untuk Indonesia Sehat lewat Pedulisehat.id

Pedulisehat.id adalah satu-satunya platform yang dapat mendukung GoPay, OVO, dan Linkaja secara bersamaan.

NASIONAL | 13 Agustus 2019

Ribuan Warga Kaltara Ramaikan Jalan Sehat BUMN

Jalan sehat diikuti sekitar 5.000 peserta.

NASIONAL | 18 Agustus 2019

KLHK Sebut Karhutla Masih Bisa Dikendalikan

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya menyebutkan dari fluktuasi titik panas yang ada saat ini, Karhutla masih bisa dikendalikan.

NASIONAL | 19 Agustus 2019

Pertamina Harus Tata Kembali Peran dalam Pengelolaan Migas

Fahmy juga menyebut cadangan minyak di Blok Mahakam, begitu juga di Blok Rokan dan Blok Koridor masih besar.

NASIONAL | 17 Agustus 2019

Kapolri: Situasi di Papua Barat Berangsur Kondusif

Kepada masyarakat Papua, Tito yang pernah menjadi Kapolda Papua itu meminta untuk tidak mudah terpancing dengan berita yang tidak benar.

NASIONAL | 19 Agustus 2019

Eva Bande: Terjadi Ekspansi Ilegal Perkebunan Kelapa Sawit di Suaka Margasatwa Bangkiriang

Eva menandaskan bahwa telah ditemukan fakta bahwa PT KLS telah mengalihfungsikan seluas 562,08 hektare menjadi perkebunan sawit di dalam kawasan tersebut.

NASIONAL | 19 Agustus 2019

Gubernur Jatim Minta Maaf kepada Warga Papua Atas Kejadian di Surabaya dan Malang

Khofifah juga menyampaikan bahwa untuk meredam kejadian agar tidak semakin meluas, Gubernur Papua Lukas Enembe berencana berkunjung ke Jatim.

NASIONAL | 19 Agustus 2019


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS