Manowakri Membara, Polri: 3 Anggota Polri Terluka

Manowakri Membara, Polri: 3 Anggota Polri Terluka
Asap membubung dari gedung kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Papua Barat di Manokwari, yang dibakar massa, Senin (19/8/2019). Aksi masyarakat Papua ini merupakan buntut dari kemarahan mereka atas peristiwa yang dialami mahasiswa asal Papua di Surabaya, Malang dan Semarang. Selain membakar gedung DPR, mereka juga memblokade jalan dengan membakar ban. ( Foto: ANTARA FOTO / Toyiban )
Farouk Arnaz / JAS Senin, 19 Agustus 2019 | 11:53 WIB

Jakarta, Beritasatu.com — Mabes Polri melansir jika gedung DPRD Papua Barat, gedung eks kantor gubernur, dan beberapa fasilitas publik lainnya terbakar dalam rusuh di Manokwari, Papua pagi ini. Aparat serta pemda fokus meredam dan meminimalisasi agar kerusuhan tak meluas.

Tiga anggota Polri terluka saat mengamankan kerusuhan ini.

“Saat ini dari aparat kepolisian ada tiga korban. Karo Ops Polda dan dua anggota yang tadi, saat proses negosiasi antara kapolda, wagub, pangdam dengan massa, ada lemparan batu dari masyarakat,” kata Karo Penmas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri Senin (19/8/2019).

Aparat dan pemda berupa semaksimal mungkin mengendalikan situasi di Manokwari. Ada beberapa titik seperti di pertigaan Swissbell yang masih panas karena massa masih marah dan sementara pasukan mundur untuk meredam agar massa lebih tenang.

“Silakan menyampaikan aspirasinya di muka publik, aparat kepolisian akan mengamankan mereka yang menyampaikan aspirasinya. Diimbau tidak boleh melakukan tindakan anarkis seperti perusakan fasum dan pemblokiran,” tegasnya.

Di sisi lain polisi mencari akun yang menyebarkan konten berita provokatif itu sekaligus melakukan profiling dan mengecek siapa pemilik akun itu. Apabila ada perbuatan melawan hukum akan dilakukan penegakan hukum.

Tapi siapa yang mengucapkan kalimat hinaan “kebun binatang” itu? Dedi menjawab, “oknum lah. Kita sebut oknum.” Tidak dijelaskan apakah itu oknum aparat atau ormas. Yang jelas rusuh Manokwari dipicu kalimat rasis itu.

Yakni saat mereka meneriakkan sejumlah kata “kebun binatang” saat menangkap mahasiswa asal bumi Cendrawasih di Surabaya pada Jumat (16/8/2019). Mereka ditangkap dengan dugaan perusakan bendera yang diadukan ke kepolisian pada 16 Agustus 2019.

Dalam insiden itu para mahasiswa mengaku tak tahu menahu atas rusaknya bendera, selain itu tak ditemukan bukti lain yang menyatakan mahasiswa merusak bendera. Akhirnya mereka dilepaskan pada 17 Agustus tengah malam.



Sumber: BeritaSatu.com