Politisi PDIP: Masyarakat Harus Bijak Sikapi Ujaran Bernuansa Kebencian UAS

Politisi PDIP: Masyarakat Harus Bijak Sikapi Ujaran Bernuansa Kebencian UAS
Habib Luthfi bin Yahya (kiri) dan Ustaz Abdul Somad. ( Foto: Istimewa )
Yustinus Paat / WM Minggu, 18 Agustus 2019 | 20:42 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Politisi PDIP, Restu Hapsari mengatakan, momentum Hari Raya Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74 dicederai oleh ujaran bernuansa kebencian oleh Ustaz Abdul Somad (UAS).

Menurut Restu, kemerdekaan yang sejatinya harus menjadi perenungan kebangsaan dan meneguhkan spirit kebhinekaan dirusak oleh UAS dengan ceramahnya yang tidak bertanggung jawab.

Meski dilakukan di tempat tertutup, kata Restu, namun akhirnya ceramah bernuansa ujaran kebencian tersebut beredar ramai di media massa, facebook dan twitter.

"Ustaz Abdul Somad yang memposisikan diri sebagai intelektual Muslim dan memiliki kecukupan ilmu teologis secara terang-terangan di hadapan umat Islam yang mengikuti ceramahnya telah melecehkan simbol keimanan bagi umat Nasrani jauh dari semangat hidup berbangsa dalam payung Pancasila yang mengedepankan semangat toleransi antarumat beragama," ujar Restu, dalam keterangannya, Minggu (18/8/2019).

Dalam ceramahnya yang sudah beredar luas, kata Restu, UAS begitu eksplisit dan agresif menyatakan bahwa di dalam salib ada jin kafir dalam bentuk patung. Menurut dia, UAS yang merupakan seorang pemuka agama tidak menampakkan semangat toleransi tersebut.

"Menurut saya Ustaz Abdul Somad tidak mencerminkan seorang pemimpin atau pemuka agama yang menjaga toleransi antarumat beragama. Sebagai pemimpin atau pemuka agama, seorang ustaz seharusnya mengedepankan nilai-nilai kerukunan dan saling menghormati antarumat beragama. Bukan malahan mengeluarkan ujaran yang dapat memicu kebencian antarumat beragama," tegas Sekjen DPP Taruna Merah Putih ini.

Dalam perspektif hukum, Restu Hapsari menuturkan, UAS bisa diduga melakukan penistaan atau penodaan agama bila ada yang melaporkan karena tersinggung atau merasa dinistakan agamanya. Dengan menyampaikan penghinaan terhadap simbol suci agama tertentu, kata dia, UAS dinilai telah melakukan kebencian dan dapat berdampak pada retaknya persatuan dan kesatuan bangsa.

"Apalagi ketika ujaran kebencian ini diungkapkan oleh seorang pemimpin atau pemuka agama," ujar Restu.

Lebih lanjut. Restu meminta kepada negara dengan seluruh perangkatnya untuk tegas menyikapi hal ini. Dia beranggapan ketegasan negara perlu agar masyarakat tidak terprovokasi dan isunya tidak melebar ke mana-mana.

"Agar masyarakat kita tidak terprovokasi dan agar isu ini tidak semakin melebar, maka negara dengan perangkatnya harus menyikapi hal ini secara tegas karena kita hidup dalam semangat kebhinekaan yang seharusnya selalu mengedepankan toleransi dan persatuan," imbuh Restu.

Restu juga menuturkan. perlunya kedewasaan bersikap dalam menghadapi ujaran kebencian, sehingga umat agama yang terkait tidak mudah terprovokasi. Dalam hal ini, dia mengaku yakin umat Nasrani tidak mudah terprovokasi dan melakukan tindakan yang bisa merusak kerukunan dan perdamaian antarumat beragama, khususnya dengan umat Muslim.

"Saya berharap umat Nasrani dan umat Muslim makin bijak menghadapi hal-hal seperti ini, karena kita sudah terlalu sering ditempa dengan peristiwa-peristiwa serupa. Perlu kedewasaan dan sikap bijak untuk menjaga persatuan dan perdamaian antarumat beragama," pungkas Restu.

Sebelumnya beredar video potongan ceramah UAS di media sosial. Dalam video itu UAS mengatakan, salib didiami oleh jin kafir karena patung yang tergantung di situ. Ceramah tersebut mendapat pro dan kontra dari warganet dan juga publik.



Sumber: BeritaSatu.com