Industri Perikanan Berkomitmen Selamatkan Perikanan Kakap dan Kerapu

Industri Perikanan Berkomitmen  Selamatkan Perikanan Kakap dan Kerapu
Ilustrasi budi daya ikan kerapu. ( Foto: Antara )
Unggul Wirawan / WIR Kamis, 15 Agustus 2019 | 08:05 WIB

Jakarta, Beritasatu.com- Sejumlah 12 perusahaan perikanan Indonesia dan internasional menunjukkan komitmen keberlanjutan dengan bergabung dengan The Nature Conservancy’s Fisheries Improvement Project untuk perikanan kakap dan kerapu di Indonesia.

Pada Rabu (14/8), di Ayana Midplaza Jakarta, The Nature Conservancy (TNC) Indonesia merayakan peluncuran Comprehensive FIP (Fisheries Improvement Project) untuk industri perikanan kakap dan kerapu Indonesia bersama dengan dua belas perusahaan perikanan yang mewakili nelayan, distributor lokal, dan eksportir.

Kerja sama dengan sektor swasta ini dilakukan untuk mengatasi permasalahan dalam pengelolaan perikanan di Indonesia.
Dalam usaha menyelamatkan bisnis sebesar US$ 1 juta perikanan laut-dalam kakap dan kerapu Indonesia, satu koalisi dibentuk dari perusahaan domestik dan internasional bergabung dengan The Nature Conservancy untuk menjaga kelangsungan industri dengan lebih dari 100.000 tenaga kerja dan menghidupi jutaan orang di seluruh dunia.

Indonesia adalah salah satu produsen kakap dan kerapu terbesar di dunia dengan produksi tahunan 85.000 ton yang menyuplai pasar di seluruh dunia. Namun, perikanan di Indonesia terancam dengan kurangnya transparansi dan tekanan oleh permintaan pasar terhadap ikan utuh dan filet berukuran panci yang memicu nelayan untuk menangkap ikan berukuran kecil yang belum mencapai usia produktif.

Kajian pemerintah menunjukkan perikanan Indonesia yang kaya ini, dengan 100 spesies kakap, kerapu, dan ikan lencam (emperor), dalam kondisi terancam. Jumlah untuk beberapa jenis ikan yang ditangkap telah berkurang hingga hanya terdapat kurang dari 20% dari jumlah populasi yang seharusnya.

Ubah Sistem

Sementara itu, dengan tidak menangkap ikan yang belum dewasa dan mengubah sistem insentif nelayan, industri ini dapat mencapai populasi kakap dan kerapu yang lebih ideal untuk Indonesia, mulai dari proses penangkapan hingga konsumsi.

“Nelayan tradisional merupakan tulang punggung perikanan. Sekitar 70% dari nelayan Indonesia bergantung pada mata pencaharian ini untuk menghidupi mereka,” ujar Direktur Program Perikanan TNC Dr. Peter Mous.

FIP menggandeng kedua belas perusahaan yang mewakili nelayan, distributor lokal, dan eksportir dari sektor swasta tersebut untuk mengatasi permasalahan dalam pengelolaan perikanan di Indonesia.

“Bekerja sama dengan jaringan logistik seafood dan industri yang terlibat, kita dapat mengembangkan manajemen kuat dan menjaga industri yang berkelanjutan bagi para nelayan yang mengandalkan industri perikanan tersebut,” ujarnya.

Dalam peluncuran ini, para mitra mendiskusikan komitmen mereka untuk tidak hanya menghindari pembelian ikan yang belum dewasa, tetapi juga membahas rencana jangka panjang untuk mengawasi hasil tangkapan dan membuat sistem kepatuhan yang kredibel. Hal ini diperlukan untuk memenuhi persyaratan standar perikanan berkelanjutan, seperti sertifikasi Marine Stewardship Council (MSC).

“Pemerintah Amerika dengan bangga mendukung upaya menyeluruh untuk memperkuat pengelolaan perikanan berkelanjutan di Indonesia. Melalui program Supporting Nature and People-Partnership for Enduring Resources (SNAPPER), kami mendukung pemerintah Indonesia dalam mengembangkan strategi penangkapan yang berkelanjutan dan membantu sektor swasta memperoleh sertifikat MSC untuk perikanan kakap dan kerapu laut dalam,” ujar Environment Office Director dari U.S. Agency for International Development (USAID) Matthew Burton.

Jangka Panjang

Burton mengatakan langkah-langkah ini dapat menstabilkan industri perikanan dalam jangka panjang, memberi kesempatan bagi konsumen secara global untuk memperoleh seafood yang berkelanjutan dari Indonesia dan mempertahankan mata pencaharian bagi rakyat Indonesia.

“Berkembangnya kemitraan ini merupakan langkah penting untuk mencapai perikanan keberlanjutan di Indonesia dan kami berharap akan lebih banyak perusahaan untuk bergabung dalam program ini demi menjamin masa depan industri perikanan kakap dan kerapu,” tambah Executive Director TNC Rizal Algamar.

Saat ini, ada sekitar 80 proyek FIP di seluruh dunia, dari ikan tuna di Laut India sampai lobster di pesisir pantai Nikaragua di Karibia. FIP dinilai secara berkala berdasarkan perkembangan pencapaian, dari “Sangat Berkembang / Advanced” (A) hingga “Tidak Terlihat / Inegligible” (E). Kinerja FIP di Indonesia dapat dipantau melalui fisheryprogress.org.

Inisiatif FIP teranyar yang dipandu oleh TNC bekerja sama dengan para mitra merupakan bagian dari proyek yang dibiayai oleh berbagai institusi seperti USAID/Indonesia, Walton Family Foundation, dan Packard Foundation untuk menciptakan industri perikanan yang berkelanjutan.

Proyek ini dijalankan di bawah Memorandum of Understanding (MoU) dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Progam ini juga bekerja sama dengan berbagai institusi tingkat nasional dan provinsi untuk merancang rencana pengelolaan dan strategi penangkapan.



Sumber: Suara Pembaruan