Ekspedisi Nusa Manggala Jadi Bukti Kehadiran Negara

Ekspedisi Nusa Manggala Jadi Bukti Kehadiran Negara
Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko (ketiga kanan) bersama tim ekspedisi Nusa Manggala yang berlayar ke delapan pulau terluar di Indonesia. ( Foto: Beritasatu Photo / Ari Supriyati Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / FER Rabu, 14 Agustus 2019 | 19:48 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim ekspedisi riset Nusa Manggala berhasil menggali potensi keanakeragaman hayati dan kelautan di delapan pulau terluar Indonesia selama 60 hari. Selain ingin mengungkap banyak hal yang belum diketahui, ekspedisi ini sekaligus membuktikan kehadiran negara di pulau-pulau terluar itu.

Tim riset Nusa Manggala ini terdiri dari 55 peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia. Delapan pulau terluar itu yakni Yiew, Budd, Fani, Brass dan Fanildo, Liki, Bepondi dan Meossu serta satu gugusan kepulauan Ayau di kawasan Raja Ampat, Papua.

Kepala LIPI, Laksana Tri Handoko mengatakan, ekspedisi Nusa Manggala menjadi bukti kehadiran negara di pulau-pulau terluar lewat aktivitas riset yang dilakukan LIPI.

"Kita memiliki 111 pulau terluar dan baru 8 yang diriset," kata Handoko di sela-sela penayangan film dokumenter Kisah 8 Pulau Terluar di CGV Pacific Place, Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Dari ekspedisi ini, lanjut Handoko, ada sejumlah rekomendasi yakni, mengungkap sumber daya yang tersembunyi di pulau tersebut untuk bisa dieksplorasi, menentukan pembangunan infrastruktur di pulau terluar dan memastikan masyarakat yang bermukim di sana adalah bagian dari bangsa Indonesia.

"Inilah tugas pelaku iptek untuk memperhatikan pulau terluar. Orang iptek dulu yang masuk baru ada bisnis, infrastruktur atau lainnya sehingga bisa tepat sasaran," ucap Handoko.

Koordinator ekspedisi Nusa Manggala, Udhi Eko Hernawan menjelaskan, pemilihan delapan pulau terluar ini karena paling dekat dengan Samudera Pasifik.

Tim ekspedisi pun saat ini sedang menyiapkan naskah rekomendasi yang akan disampaikan ke pemerintah daerah dan kementerian lembaga terkait. Menurutnya hal yang penting adalah menjaga sumber daya alam sebagai kawasan konservasi perairan.

"Di sana juga diperlukan infrastruktur yang membuktikan kehadiran negara," ujar Udhi.

Selain itu juga bagaimana upaya membangun ketahanan sosial masyarakat di pulau-pulau tersebut. Jaringan komunikasi juga perlu diperkuat, karena wilayah tersebut dekat dengan Pasifik yang rentan gempa dan tsunami.

Saat ini tim ekspedisi masih menginventarisasi biota, terumbu karang sekaligus pengelolaan sampelnya.

Delapan pulau yang merupakan kawasan segitiga karang dunia juga diperkirakan punya 500 spesies ikan. Dalam ekspedisi ini ditemukan hampir 300 spesies ikan dan 30 di antaranya masuk dalam daftar terancam punah.

Ekspedisi Nusa Manggala ini menelan anggaran hampir Rp 9 miliar. Sekitar Rp 6 miliar untuk operasional kapal Baruna Jaya milik LIPI atau dalam sehari menghabiskan Rp 100 juta.



Sumber: Suara Pembaruan