Cyber Indonesia: Setop Caci Maki di Medsos

Cyber Indonesia: Setop Caci Maki di Medsos
Ketua Umum Cyber Indonesia Muannas Alaidid (kiri), dalam Talk show Cokro TV dan Cyber Indonesia bertajuk 'Ancaman Radikalisme Pasca Pilpres, Rekonsiliasi Vs Ijtima' ( Foto: Ismewa )
Siprianus Edi Hardum / EHD Rabu, 14 Agustus 2019 | 19:29 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Pandangan, komentar serta cuitan masyarakat yang bermuatan negatif terutama yang terdapat dalam media sosial, sesudah pertemuan Joko Widodo-Prabowo Subianto seusai Pilpres beberapa waktu lalu, menuai perhatian serta sorotan dari berbagai pihak.

Hal tersebut dinilai dapat merusak persatuan dan kesatuan Indonesia karena bertentangan dengan karakter bangsa ini terutama mengenai keberagaman.

Demikian diungkapkan Ketua Umum Cyber Indonesia, Muannas Alaidid, dalam Talk Show Cokro TV dan Cyber Indonesia bertajuk “Ancaman Radikalisme Pasca Pilpres, Rekonsiliasi versus Ijtima di Jakarta, Rabu (14/8/2019). "Hasil kajian dari kita perkembangan medsos, masih ada tetap caci maki, amukan. Ini yang berbahaya," ujar Muannas.

Muannas menuturkan, keadaan tersebut jika terus berlanjut sangat rentan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu yang bertujuan untuk merusak tatanan dasar negara.

"Suasana seperti ini ketika kemudian ada sekelompok orang yang memanfaatkan sebagai upaya untuk punya agenda sendiri, ini yang berbahaya apalagi bertujuan untuk mengubah sistem dan dasar negara. Oleh karena itu, kami imbau agar setop caci maki," kata dia.

Oleh karena itu, pihaknya terus mengimbau masyarakat luas untuk bersikap bijaksana dimulai dari hal terkecil yakni dalam memanfaatkan media sosial. "Berupaya terus membangun konten-konten positif. Untuk menanggulangi permasalahan di dunia siber ini, Cyber Indonesia melakukan kerja dan program non-profit dalam bentuk Edukasi, Advokasi dan Monitoring terhadap dunia siber," tukasnya.

Sebagai informasi, Cyber Indonesia adalah perkumpulan yang didirikan oleh kumpulan advokat, aktivis, ahli IT, influencers, bloggers pada tahun 2017 yang memiliki perhatian pada dunia siber (The Cyber World) khususnya terkait penyebaran kebencian, hoax, fitnah, isu SARA, kejahatan siber.