ASN ESDM Bantu Listriki Penduduk Miskin di NTT

ASN ESDM Bantu Listriki Penduduk Miskin di NTT
Dirjen Listrik Rida Mulyana menyalakan lampu di rumah penduduk Desa Sonraen, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timut (NTT), Rabu, 14 Agustus 2019. Pemasangan listrik rumah ini dibiayai dana sumbangan pegawai Kementerian ESDM. ( Foto: Beritasatu Photo / Primus Dorimulu )
Primus Dorimulu / JAS Rabu, 14 Agustus 2019 | 15:23 WIB

Kupang, Beritasatu.com - Mengusung tagline one man, one hope, pegawai Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membantu pemasangan listrik penduduk tidak mampu di NTT. Sekitar 1.000 rumah tangga mendapat bantuan dari dana yang bersumber dari sumbangan sukarela pegawai Kementerian ESDM.

Hingga akhir tahun ini, 17.366 rumah tangga tidak mampu di NTT  akan tersambung listrik dengan dana yang bersumber dari CSR dan sumbangan sukarela ESDM dan PLN.

"Kita sudah 74 tahun merdeka tetapi masih banyak saudara kita yang belum terlistriki. Mudah-mudahan sebagian bisa terlistriki pada 17 Agustus 2019," kata Dirjen Listrik Kementerian ESDM Rida Mulyana saat meresmikan program sambungan listrik gratis kepada rumah tangga miskin di NTT yang belum teraliri listrik. Acara persemian secara simbolik digelar di Desa Sonraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, Rabu (14/8/2019).

Dalam tiga pekan, sejak pertengahan Juli 2019, Menteri ESDM Ignasius Jonan mengimbau aparatur sipil negara (ASN) di Kementerian ESDM untuk menyisihkan sebagian pendapatan dengan sukarela untuk membantu penduduk miskin yang tidak mampu membiayai penyambungan listrik ke rumah tinggal. Dana yang terhimpun mencapai Rp 1,8 miliar.

Dana itu cukup untuk membiayai pemasangan 1.250 rumah penduduk miskin di NTT. Sekitar 1.000 rumah penduduk miskin sedang dalam pemasangan dan akan rampung saat mereka merayakan HUT Kemerdekaan RI ke-74, Sabtu, 17 Agustus 2019.

Selama ini, sebagian penduduk miskin, kata Rida, hanya bisa menyaksikan tiang listrik di depan rumahnya. Ketika tetangga menikmati listrik, mereka tetap dalam kegelapan. Saat ini terdapat 17.366 penduduk miskin di NTT. Dari jumlah itu, sekitar 11.000 sudah mendapatkan bantuan penyambungan dan listrik sudah masuk rumah.

"Masuk dalam jumlah itu adalah 1.000 rumah yang penyambungan listriknya dibiayai oleh dana sukarela ASN Kementerian ESDM, dan 10.000 rumah dibiayai dengan dana CSR PT PLN," papar Rida.

Dari 1.000 pemasangan listrik di rumah penduduk miskin yang dibantu, sebanyak 253 di Kabupaten Kupang. Penduduk miskin di 21 kabupaten lainnya di NTT juga akan mendapatkan bantuan, termasuk Manggarai Timur dan Nagekeo, dua kabupaten baru di Flores.

Pada akhir Desember 2019, semua penduduk miskin di NTT akan tersambungi listrik. Dana CSR PLN membiayai 12.000 rumah, 11.000 sudah selesai. Kementerian ESDM akan membiayai 250 rumah lagi, sehingga total 1.250 rumah. CSR swasta akan membiayai 4.000 rumah dan sisanya dana sukarela karyawan PLN yang mencapai 40.000.

"Kami baru membuka dompet berbagi pekan lalu lewat Link Aja," kata Djoko Abumanan, Direktur Pengadaan Strategis II PLN kepada Beritasatu.com di Kupang. Gagasan Ignasius Jonan yang dimulai di Kementerian ESDM diikuti oleh PLN. Rida mengatakan, dana untuk membantu penduduk miskin yang belum terlistriki akan terus digalang.

Selain PLN, dana CSR untuk membiayai pemasangan rumah penduduk miskin di NTT juga berasal dari CSR PT Sumber Segara Prima, Cikarang Listrindo, dan Pelindo. Diharapkan, perusahaan lain ikut terletak untuk membantu sesama saudara sebangsa yang kini masih dalam kegelapan karena miskin.

"NTT adalah prioritas kami. Selanjutnya, Kementerian ESDM akan membiayai penduduk tidak mampu di NTB dan wilayah lain di Indonesia," ungkap Rida. Total rumah penduduk Indonesia yang belum terlistriki sekitar 1,5 juta, di antaranya 710.000 rumah penduduk miskin berdasarkan data Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K).

Direktur Jenderal Kelistrikan Rida Mulyana (kedua dari kiri) dan Direktur Pemberitaan Beritasatu Media Holdings Primus Dorimulu (tengah) di Desa Sonraen, Kecamatan Amarasi Selatan, Kabupaten Kupang, 14 Agustus 2019.

Secara nasional, rasio elektrifikasi sudah mencapai 98,81 persen. Djoko mengatakan, tahun depan, 2020, rasio elektrifikasi sudah harus 100 persen. Masalah yang dihadapi bukan hanya jumlah pembangkit yang tidak seimbang dan jaringan transmisi serta distribusi yang sedang dibangun, melainkan juga kemiskinan dan pertambahan konsumen atau rumah baru sekitar 800.000 setahun.

Sedang rasio elektrifikasi di NTT baru 72,27 persen. Tahun ini akan diupayakan hingga 90 persen. "Tahun depan, rasio elektrifikasi NTT harus sama dengan nasional," ujar GM Wilayah NTT Ignasius Rendroyoko kepada Beritasatu.com.

Penduduk Miskin
Masalah utama penduduk miskin adalah membiayai pemasangan listrik. Untuk membayar langganan bulanan, sekitar Rp 50.000 hingga Rp 100.000, umumnya mereka mampu. Apalagi penduduk miskin pelanggan 450 KVA yang disubsudi dan sebagian pelanggan listrik 900 KVA yang juga disubsidi.

"Kami hanya memberikan sesuai data TNP2K. Di luar itu, kami tidak layani," kata Djoko. Tapi, dalam kenyataan, banyak penduduk yang menyatakan diri miskin ketika mendengar ada bantuan. Namun, nama mereka tidak terdaftar di TNP2K.

Normalnya, demikian Rida, biaya pemasangan listrik rumah penduduk 450 KVA dan 900 KVA berkisar Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta. Tapi, untuk penduduk miskin hanya dikenakan biaya pemasangan Rp 734.500, termasuk biaya penyambungan ke PLN dan pajak.

"Inisiatif Kementerian ESDM bukan untuk dipuji. Namun, ini bentuk kepedulian dari Ignasius Jonan yang mengajak seluruh jajaran di ESDM membantu NTT. Pak Jonan sangat peduli NTT," ungkap Rida.

Saksikan videonya di sini:



Sumber: BeritaSatu.com