Napi Kasus Narkoba Dominasi Penghuni Lapas di Bengkulu

Napi Kasus Narkoba Dominasi Penghuni Lapas di Bengkulu
Ilustrasi tahanan. ( Foto: Antara )
Usmin / FER Minggu, 11 Agustus 2019 | 23:36 WIB

Bengkulu, Beritasatu.com - Sekitar 50 persen dari 660 orang warga binaan lembaga pemasyarakatan (Lapas) Curup, Rejang Lebong, Bengkulu, berasal dari napi kasus tindak pidana penyalahgunaan narkoba.

"Saat ini, sekitar 50 persen dari 660 orang penghuni Lapas Kelas IIA Curup Rejang, Bengkulu merupakan napi kasus tindak pidana narkoba. Sedangkan sisanya, merupakan napi kasus tindak pidana korupsi dan tindak pidana umum, seperti kriminal dan sebagainya," kata Pelaksana tugas (Plt) Kepala Lapas Curup, Hari Winarka, di Bengkulu, Minggu (11/8/2019).

Heri menjelaskan, jumlah penghuni Lapas Curup mengalami kelebihan kapasitas. Idealnya, Lapas Curup hanya dihuni sebanyak 250 orang. Namun, kenyataan saat ini lapas tersebut dihuni 660 napi. Kelebihan daya tampung tersebut, sudah berlangsung sejak lama.

"Hal ini bukan hanya terjadi di lapas Curup semata. Kondisi yang sama juga dialami hampir seluruh lapas yang ada di Tanah Air, termasuk lapas lainya yang ada di Bengkulu," jelas Heri.

Heri menambahkan, untuk mengatasi masalah kelebihan kapasitas tersebut, Kementerian Hukum dan HAM (Kemkumham) berupaya membangun lapas baru di berbagai daerah di Tanah Air, termasuk di Provinsi Bengkulu.

"Di Bengkulu sendiri, rencananya akan dibangun lapas khusus untuk napi kasus narkoba. Lapas tersebut, direncanakan akan dibangun di wilayah Kabupaten Bengkulu Tengah," tambah Heri.

Untuk merealisasikan rencana tersebut, kata Hari, Kantor Wilayah (Kanwil) Kemkumham Bengkulu, sudah menyiapkan lahan sebagai lokasi lapas khusus narkoba.

"Kita berharap rencana pembangunan lapas napi kasus narkoba segera direalisasikan, sehingga napi narkoba yang ada beberapa lapas di Bengkulu, dapat dipindahkan ke lapas baru tersebut. Dengan demikian, penghuni lapas dan rutan di Bengkulu, tidak mengalami kelebihan kapasitas seperti yang terjadi saat ini," pungkas Heri.

 



Sumber: Suara Pembaruan