Kasus Novel Baswedan

Dikritik Tak Masukkan Motif Buku Merah, Ini Respons Tim Pakar

Dikritik Tak Masukkan Motif Buku Merah, Ini Respons Tim Pakar
Kadiv Humas Polri Irjen Pol M. Iqbal (tengah) menerima laporan investigasi dari Ketua Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kasus Novel Baswedan, Nur Kholis (dua kiri) dan Anggota TGPF Hendardi (dua kanan) saat rilis hasil investigasi TGPF Novel Baswedan di Mabes Polri, Jakarta, Rabu 17 Juli 2019. ( Foto: Suara Pembaruan/Joanito De Saojoao )
Farouk Arnaz / JAS Kamis, 18 Juli 2019 | 11:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim pakar pencari fakta bentukan Kapolri tak ambil pusing dengan kritik sejumlah pihak karena dianggap terlalu melompat dalam menyimpulkan probabilitas motif dalam kasus penyiraman air keras yang menimpa penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan 11 April 2017 lalu.

Tim yang gagal menemukan pelaku dan aktor di balik kasus ini tersebut memang menyarankan dibentuk tim teknis untuk mengusut kasus yang diduga punya motif karena Novel terlalu berlebihan dalam menggunakan kewenangan.

Atas dasar itu, Tim Pakar merekomendasikan kepada Kapolri untuk mendalami probabilitas motif sekurang-kurangnya enam kasus high profile yang ditangani oleh Novel. Enam kasus tersebut yakni korupsi proyek e-KTP, suap sengketa pilkada yang melibatkan eks Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Akil Mochtar, kasus Sekretaris MA.

Selain itu juga, kasus Wisma Atlet, kasus suap perizinan yang melibatkan Bupati Buol Amran Batalipu serta satu kasus lagi yang bukan perkara korupsi atau suap, melainkan pidana umum, yakni kasus pencurian sarang burung walet di Bengkulu.

Tim Pakar pun menanggapi banyaknya kritik untuk mereka. “Biar saja. Kritik kan boleh, bahkan hak. Semua kasus yang ditangani Novel berusaha kita tengok dan gali infonya termasuk motif. Sumbernya dari Novel dan siapapun kami minta jika memiliki petunjuk,” kata mantan anggota tim pakar Hendardi saat dihubungi Beritasatu.com, Kamis (18/7/2019).

Saat ditanya mengapa Tim Pakar tidak memasukkan kasus Buku Merah, Hendardi menjawab, “Semua kasus. Tapi yang diberikan adalah asumsi atau opini. TPF juga tidak mau didikte siapapun untuk mengarahkan pelaku pada siapapun atau motif apapun yang tidak cukup memiliki petunjuk.”

Kasus Buku Merah adalah dugaan perobekan buku warna merah yang merupakan barang bukti kasus korupsi impor daging yang melibatkan Basuki Hariman yang awalnya diungkap Indonesialeaks.

Buku itu berisi catatan aliran dana dari Basuki kepada sejumlah pejabat negara. Dua penyidik KPK asal Polri, Ronald dan Harun, diduga menyobek beberapa lembar buku itu karena terdapat nama petinggi Polri. Kasus perobekan ini telah dibantah.

Novel disiram air keras oleh orang tak dikenal pada 11 April 2017 silam. Kedua matanya rusak parah. Novel pun berobat di Singapura dan cacat hingga kini.



Sumber: BeritaSatu.com