Polda Jatim Bongkar Praktik Aborsi Ilegal Bertarif Tarif Rp 1 Juta

Polda Jatim Bongkar Praktik Aborsi Ilegal Bertarif Tarif Rp 1 Juta
Ilustrasi ( Foto: Istimewa )
Aries Sudiono / JEM Rabu, 26 Juni 2019 | 12:58 WIB

 Surabaya, Beritasatu.com - Tim Unit III Subdit V Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) Ditreskrimsus Polda Jatim membongkar kasus jasa layanan aborsi ilegal dan menangkap tujuh tersangka. Para tersangka terdiri dari seorang perempuan tenaga medis berinisial LP (28) warga Maspati Surabaya, RM (26) perempuan pembantu LP asal Tawangsari Sidoarjo, laki-laki MS (32) penyandang dana, juga MB (34) laki-laki beserta dua orang perempuan VN (26) dan apoteker FT (32) selaku pemasok obat dan alat kesehatan, serta seorang pasien perempuan berinisial TS (32) yang sengaja menggugurkan kandungannya.

“Mereka itu lima orang warga Surabaya, satu warga Sidoarjo dan satu orang lagi warga Sukoharjo, Jawa Tengah,” ujar Direktur Ditreskrimsus Polda Jatim Kombes Pol Akhmad Yusep, didampingi Kasubdit III Tipidter Ditreskrimsus Polda Jatim AKBP Amran Asmara, Selasa (25/6/2019) sore.

Menurut hasil pemeriksaan, pelaku utama kasus aborsi adalah LP yang ditetapkan sebagai tersangka yang membuka praktik aborsi, baik di rumah maupun kamar hotel di Surabaya dengan menggunakan obat-obatan.

Informasi pertama masuk ke Tipidter Ditreskrimsus pada Maret 2019 yang lalu tentang praktik aborsi ilegal, karena pelakunya bukan tenaga ahli dokter kandungan atau dokter bedah. Lebih dari itu aborsi yang dilakukan di rumah dan atau kamar hotel itu tanpa memiliki izin dari instansi berwenang. Sesudah melakukan pengintaian dan penyelidikan, baru April, petugas melakukan penggeledahan di kamar 1.120 Hotel Great Diponegoro di Jalan Raya Diponegoro 215 Surabaya.

Dalam praktiknya, tersangka LP warga Maspati Surabaya itu menggunakan obat Chromalux Musoprostol tablet 200 Mcg, Cytotec Misoprostol tablet 200 ug, dan lnvitec Misoprostol tablet 200 Mcg. Ramuan obat-obat ini yang menyebabkan janin dalam kandungan gugur. Tidak pernah ada korban ibu pemilik janin yang mengalami gangguan kesehatan pascaaborsi.

Amran menyatakan masih terus mengembangkan penyelidikan atas kasus tersebut karena adanya dugaan kemungkinan pelaku lain. Dalam pengungkapan kasusnya, selain menangkap tujuh tersangka, penyidik juga telah memeriksa 11 orang saksi yang menggunakan jasa layanan aborsi tersebut. Sekarang ini pihaknya masih terus melakukan pemeriksaan secara intensif.

Sementara itu TS mengaku terpaksa menggugurkan kandungannya akibat keterbatasan ekonomi. Perempuan berambut panjang ini juga mengungkapkan, jika janin yang dikandungnya bukan dari hasil hubungan gelap.

“Semata-mata karena tekanan ekonomi keluarga yang tidak mencukupi jika saya punya anak. Makanya ketika baru usia satu bulan, saya menggugurkannya,” ujar TS asal Sukoharjo, Jateng.

Tersangka LP mengaku melayani praktik layanan aborsi selama dua tahun terakhir tanpa operasi. Usia bayi dalam kandungan yang diaborsi maksimal berumur tiga bulan. Dalam sekali layanan, dia mematok tarif Rp 1 juta. Kepada polisi, LP mengaku sudah menggugurkan sebanyak 20-an bayi dalam kandungan yang tidak dikehendaki pasangan.

Menurut AKBP Amran Asnara, pasa tersangka dijerat pelanggaran Pasal 83, Pasal 194 UU Nomor 36 Tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan, serta Pasal 56 KUHP, Pasal 346 KUHP, dan Pasal 346 KUHP.



Sumber: Suara Pembaruan