Pulau Kinde Dijadikan Pilot Project Pengembangan Pariwisata Nasional

Pulau Kinde Dijadikan Pilot Project Pengembangan Pariwisata Nasional
Tim Survei Pulau Kinde dari Kementerian Pariwisata bersama Bupati Nagekeo, Yohanes Don Bosco D (berdasi, tengah). ( Foto: beritasatu.com / Willy Grasias )
Willy Grasias / EHD Kamis, 20 Juni 2019 | 00:00 WIB

Mbay, Beritasatu.com - Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pariwisata akan menetapkan Pulau Kinde di Kecamatan Wolo Wae, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi pilot project nasional dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Nasional dengan pengembangan pariwisatanya secara holistik berbasis peran serta masyarakat.

Untuk itu, tim dari Kementerian Pariwisata bersama konsultan dari Institut Pertanian Bogor (ITB) yang didampingi Longginus Dae, melakukan visiting dan survei awal pada tanggal 19 sampai dengan 22 Juni 2019 ke Pulau Kinde dan sekitarnya. Survei awal ini sebagai prasyarat dan upaya memasukan Kinde dalam Master Plan pengembangan Pariwisata Nasional.

Gusty Ia, Konsultan dari ITB di hadapan Bupati Nagekeo, Yohanes Don Bosko Do di Mbay, Rabu (19/6/2019), mengatakan, mereka hadir di tempat itu untuk mensurvei apakah Pulau Kinde dan sekitarnya dapat dijadikan pilot project nasional pengembangan pariwisata. Dengan dimasukannya Pulau Kinde dan sekitarnya dalam master plan pengembangan pariwisata nasional, banyak kemudahan pembiayaan lintas sektor yang dapat diupayakan secara terintegrasi untuk membangun Kinde, Wolowae, Nagekeo dan NTT.

Turut hadir dalam kesempatan itu adalah Wakil Bupati Nagekeo, Marianus Waja dan Kepala Dinas Pariwisata Ande C. Ndona serta Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.

Menurut Gusty, dengan termuatnya kawasan Pulau Kinde dan sekitarnya dalam Master Plan Pembangunan Pariwisata Nasional, diharapkan ada kepercayaan publik, khususnya para pelaku usaha pariwisata yang sudah mulai melakukan investasi disana sesuai dengan desain dalam master plan.

Bupati Nagekeo menyampaikan baik kehadiran tim tersebut. “Kehadiran tim ini bagaikan durian runtuh, pucuk dicinta ulam pun tiba,” kata dia.

Menurut Don, enam bulan memimpin kabupaten itu begitu banyak perhatian pemerintah pusat untuk membangun wilayah ini sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indoensia.

Don mengatakan, sekarang ini sedang dilakukan survei pemetaan pariwisata dengan menghadirkan konsultan pengembangan pariwisata dalam rangka identifikasi, iventarisasi potensi yang ada dalam rangka pengembangan pariwisata berkelanjutan.

“Kami terus mengembangkan pariwisata berkelanjutan sesuai kondisi geografi, topografi Kabupaten Nagekeo dengan karakter perbukitan savanna, kawasan perairan bagian utara dan bagian selatan,” kata dia.

Selain itu, kata dia, pihaknya juga terus mengembangkan wilayah kampung adat yang tersebar di mana-mana dan terpola dalam suku-suku. “Maka untuk menjangkau destinasi wisata dan cara menikmatinya menggunakan konsep nomadic tourism, cara ini cocok dengan wilayah yang terbatas secara aksesibilitas dan amenitas tetapi kuat secara konten atraksi,” kata dia.

Konsep nomadic tourism sangat ideal. Sebab dalam menikmati perjalanan wisata, tamu dapat berpindah pindah dalam kurun waktu tertentu dengan variasi moda transportasi amenitas yang beragam.

“Semoga visiting tim dengan didamping saudara Longginus ini menjadi awal dari mimpi besar pembangunan dan kemajuan Wolowae dan Flores yg dimulai dari laut melalui Pulau Kinde dan sekitarnya,” kata dia.

Bersamaan dengan itu di tempat yang sama turut memberikan masukan Romo (pastor) Paulus Imam yang bertugas di Paroki Boawae, berharap agar masyarakat Kaburea Toto dapat mengambil manfaat dan menjadi leading tim dalam menggalang investasi di sana.

“Sadarkan masyarakat untuk dapat menyesuaikan diri dengan investasi dengan tetap mempertahankan keaslian dan kearifan budaya dan alam dengan tidak menjual tanah secara serampangan. Karena kalau salah beradaptasi maka cepat atau lambat, orang-orang Kaburea Toto kelak bisa menjadi "penonton" sebagaimana telah terjadi di Labuan Bajo,” kata dia.



Sumber: BeritaSatu.com