Kabar Suami Gadaikan Istri, Ini Cerita Sebenarnya

Kabar Suami Gadaikan Istri, Ini Cerita Sebenarnya
Lasmini, seorang istri yang dikabarkan jadi jaminan suaminya dalam melakukan peminjaman uang. ( Foto: istimewa )
Aries Sudiono / CAH Senin, 17 Juni 2019 | 08:17 WIB

Lumajang, Beritasatu.com - Terungkap alasan Lasmin (35), perempuan cantik berkulit kuning langsat asal Medan, Sumatera Utara (Sumut) yang akhirnya menikahi Hartono (39), si pemberi pinjaman untuk uang "mantan" suaminya. Sebelumnya ramai dikabarkan seorang suami, Mat Hori (40) tega menjadikan istrinya jaminan peminjaman uang. Mat Hori yang kesal karena sang istri tidak dikembalikan Hartono berniat melakukan pembunuhan kepada Hartono.

Namun, aksi Mat Hori salah sasaran. Bukannya Hartono, Mat Hori ternyata melakukan pembunuhan kepada Muhammad Toha (40), seorang warga Desa Sombo, Kecamatan Gucialit, pada Rabu (12/6) petang.

Setelah Mat Hori diciduk polisi, terungkap kalau sang istri Lasmin telah menikahi Hartono secara siri. Lasmin sengaja berpaling dari Hori dan memilih bersuamikan Hartono karena mantan suaminya suka bertindak kasar dan sudah berulang kali akan membunuhnya dengan senjata tajam clurit jika menolak perintahnya. Bahkan selama tujuh bulan ia dibiarkan terlantar tanpa diberi nafkah lahir-bathin.

“Saya ikut suami baru Hartono atas kesadaran sendiri walaupun sebelumnya saya katanya dijadikan jaminan utang Hori. Saya terlanjur jatuh cinta dengannya karena orangnya berhati jauh lebih baik dari Hori,” ujar Lasmini yang mengaku merasa bahagia menikah siri dengan Hartono.

Selama enam setengah bulan menjadi suami siri Hartono, ia mengaku hidup tenang dan merasakan kebahagian yang tidak pernah ia peroleh dari suami terdahulu (Mat Hori).

Perempuan bertubuh ramping itu menampik pernyataan Mat Hori bahwa ia dijadikan agunan pinjaman yang tidak kunjung dikembalikan karena ia belum bisa melunasi hutangnya.

“Saya tidak digadaikan seperti pernyataan Mat Hori yang menghilang berbulan-bulan ke Kalimantan, tetapi atas kesadaran saya sendiri yang kemudian justru jatuh hati dan bersedia dinikahi siri dengan Hartono, yang tinggal di Desa Sombo, Kecamatan Gucialit, Kabupaten Lumajang,” aku Lasmini polos yang didengar keterangannya oleh penyidik sebagai saksi tersangka pelaku pembunuhan Muhammad Toha oleh Mat Hori.

Lebih lanjut Kapolres Lumajang AKBP Arsal Sahban mengungkapkan, kasus itu sendiri terbongkar ketika Mat Hori, tersangka tunggal pelaku pembunuhan terhadap korban Muhammad Toha (40), warga Desa Sombo, Kecamatan Gucialit, pada Rabu (12/6) petang dengan cara dibuntuti dan kemudian dibacok lehernya dari belakang hingga tewas. Korban Muhammad Toha yang justru masih sepupu tersangka pelaku, merupakan korban salah sasaran.

Rencananya menghabisi Hartono karena Hori belum bisa segera melunasi hutangnya. Tersangka berjanji segera melunasinya begitu tanah miliknya di Kalimantan terjual.

“Dendam dengan Hartono karena istrinya tidak kunjung dikembalikan, itu hanya alasan belaka,” ujar Kapolres sambil menambahkan.

“Tersangka Hori juga menyatakan, bahwa dalam pinjam-meminjam uang itu tidak ada perjanjian dengan gadai istri. Karena justru Lasmini yang minta dinikahi Hartono,” ujar Kapolres yang dibenarkan Hori maupun Lasmini.

Untuk mengusut kasus tersebut, penyidik akan memanggil Hartono. Penyidik juga masih memeriksa tersangka secara intensif dan Hori mengaku sangat menyesal karena korban yang dibunuhnya justru sepupunya sendiri.

“Saya pikir dia (korban Muhammad Toha) itu Hartono, pas naik motor saya kejar dan langsung saya bacok celurit di bagian lehernya,” aku Hori yang mengaku hutangnya ke Hartono sebenarnya hanya Rp 120 juta, dan diitung dengan bunganya hingga menjadi Rp 250 juta.

Hori mengaku sudah tujuh bulan istri (siri)-nya dibawa Hartono. Tersangka merasa heran karena ketika pulang ke Lumajang, tahu-tahu isterinya sudah tinggal di rumah Hartono. “Saya bilang, kalau masalah utang akan saya lunasi dengan jual kebun di Kalimantan, tapi istri saya tolong kembalikan. Sampai sekarang belum juga dikembalikan,” aku Hori yang mengaku penjualan kebunnya belum juga ada pembeli



Sumber: Suara Pembaruan