Logo BeritaSatu
INDEX

AGRI 1577 (0)   |   BASIC-IND 938 (0)   |   BISNIS-27 477 (-5)   |   COMPOSITE 5975 (-53)   |   CONSUMER 1621 (0)   |   DBX 1411 (-16)   |   FINANCE 1361 (0)   |   I-GRADE 166 (-1)   |   IDX30 471 (-4)   |   IDX80 128 (-1)   |   IDXBASIC 1248 (-11)   |   IDXBUMN20 358 (-2)   |   IDXCYCLIC 736 (-3)   |   IDXENERGY 747 (1)   |   IDXESGL 129 (-1)   |   IDXFINANCE 1325 (-12)   |   IDXG30 135 (-1)   |   IDXHEALTH 1296 (-14)   |   IDXHIDIV20 416 (-3)   |   IDXINDUST 956 (-21)   |   IDXINFRA 871 (-0)   |   IDXMESBUMN 102 (-0)   |   IDXNONCYC 740 (-6)   |   IDXPROPERT 877 (-12)   |   IDXQ30 135 (-1)   |   IDXSMC-COM 282 (-1)   |   IDXSMC-LIQ 337 (-1)   |   IDXTECHNO 3348 (-40)   |   IDXTRANS 1056 (-1)   |   IDXV30 127 (-1)   |   INFOBANK15 952 (-11)   |   INFRASTRUC 1036 (0)   |   Investor33 406 (-3)   |   ISSI 176 (-1)   |   JII 577 (-4)   |   JII70 205 (-1)   |   KOMPAS100 1130 (-11)   |   LQ45 888 (-8)   |   MANUFACTUR 1250 (0)   |   MBX 1590 (-13)   |   MINING 1939 (0)   |   MISC-IND 1036 (0)   |   MNC36 301 (-2)   |   PEFINDO25 297 (-3)   |   PROPERTY 351 (0)   |   SMinfra18 295 (-1)   |   SRI-KEHATI 340 (-3)   |   TRADE 872 (0)   |  

Patek: Saya Ingin Berjihad di Afghanistan

Selasa, 11 Oktober 2011 | 14:50 WIB
Oleh : B1

"Sejak awal saya sudah yakin dan berpendapat, Indonesia bukan medan jihad."

Mengenakan sandal santai berwarna abu-abu, dengan Al Quran ukuran mini di tangan, Hisyam Ali Zein alias Umar Patek (45), tersangka kasus terorisme Bom Bali 2002, menyelesaikan seluruh adegan rekonstruksi di terminal keberangkatan internasional Bandara Soekarno-Hatta, Senin malam, dengan lancar. Patek bersama istrinya Ruqaiyyah tampak rileks.

"Istri saya, ya, cuma satu ini," kata tersangka kelahiran Pemalang, Jawa Tengah, itu mengomentari pertanyaan jaksa, saat dia hendak memasukkan tas ke dalam mesin x-ray di bandara, lalu tertawa kecil. Sang jaksa pun tersenyum simpul dan melanjutkan kalimatnya, "Yang saya maksud satu itu bukan soal berapa jumlah istrimu, tapi soal berapa banyak tas yang kamu bawa saat itu. Apakah satu, ataukah dua?" Patek menjawab, "Satu, Bu Jaksa."

Ada sekitar 20 adegan yang diperagakan Patek dalam rekonstruksi yang berlangsung sekitar satu jam, mulai pukul 23.00 WIB, untuk melengkapi berkas pemeriksaan miliknya itu. Adegan diawali saat Patek datang memasuki bandara, lalu memasukkan tas ke mesin x-ray, ke konter check in, hingga memasuki gate sebelum terbang ke Pakistan via Thailand. Setiap adegan digambarkan seperti aslinya, sesuai keberangkatan Patek bersama istri pada 31 Agustus 2010.

"Alhamdullilah, saya rileks, karena memang saya tak dipaksa. Apa adanya. Ini takdir," kata Patek secara eksklusif kepada BeritaSatu yang mengikuti rekonstruksi. Patek yang berulangkali mengelus jenggotnya yang panjang dan tampak memutih serta disemir itu, nampak sehat. Ini adalah kali pertama Patek berbicara kepada media.

Kendati begitu, nada suara Patek terdengar perlahan. Dengan tinggi sekitar 160 cm dan berat 60 kg, nada suaranya kontras dengan tatap matanya yang tajam, maupun dengan 'karir'-nya sebagai tokoh teroris penting di kawasan Asia Tenggara yang berkaitan langsung dengan Al Qaeda. Saking pentingnya, AS bahkan membanderol penangkapannya, hidup atau mati, dengan hadiah 1 juta USD atau sekitar Rp 9 miliar.

Patek sendiri kini berjalan pincang, karena kaki kirinya sempat tertembak saat ditangkap oleh polisi Pakistan di Abbotabad, 25 Januari lalu. "Saya lebih senang diproses di Indonesia dibanding di sana (Pakistan). Yang penting selalu dengan istri saya," imbuhnya, seraya terus menggenggam tangan atau memeluk pundak istrinya. Patek bebas memeluk, karena borgol yang ada di tangannya sempat dilepas oleh polisi untuk mempermudah rekonstruksi.

Lalu, mengapa dirinya terbang ke Pakistan? Apakah takut akan berakhir seperti nasib sahabatnya, Dulmatin, yang ditembak mati polisi di Pamulang, Tanggerang Selatan, pada 9 Maret 2010? "Saya ingin hijrah. Saya ingin tinggal dan berjihad di Afghanistan. Di sana jelas adalah medan jihad, karena orang Islam dijajah oleh Amerika dan NATO. Tak terbantah," jelas Patek lugas.

Selama di Abbotabad, Patek mengaku tak bertemu dengan Osama bin Laden yang juga ditangkap dan terbunuh di sana pada 2 Mei 2011. "Tak ketemu dengan Syekh Osama. Saya hanya transit di Pakistan dalam perjalanan ke Afghanistan. Itu seharusnya jadi perjalanan kedua saya ke Afghanistan. Tapi takdirnya, saya ditangkap," bebernya. Patek memang pernah berlatih di kamp Mujahidin Afghanistan pada 1994, seangkatan dengan terpidana seumur hidup Bom Bali 2002, Ali Imron.

Lalu mengapa ia tak berjihad di Indonesia saja? Patek yang belum dikarunia anak itu menjawab, "Sejak awal saya sudah yakin dan berpendapat, Indonesia bukan medan jihad. Di sini kita masih bisa berdakwah, dan pimpinannya ada yang orang Islam."

Untuk alasan itu, Patek mengklaim bahwa dirinya sudah sempat memperingatkan mendiang Imam Samudera, koordinator lapangan Bom Bali 2002, untuk tidak melakukan pengeboman di Bali. "Saya sarankan waktu itu untuk berjihad ke Pakistan saja. Tapi Imam malah mempersilakan saya saja yang ke Pakistan. Saya hanya memberi saran, karena waktu itu persiapan Bom Bali sudah hampir selesai dan tak mungkin dibatalkan," tuturnya.

Lebih jauh, Patek membantah soal dirinya mengikuti persiapan, bahkan membantu merakit bom untuk digunakan di Bali, yang merenggut 202 nyawa itu. "Tak benar itu. Saya itu hanya dimintai pendapat. Dan saya sempat katakan, tak tepat dilakukan di Bali," katanya. Kendati begitu, Patek tak menyesali perbuatannya, karena yakin semua ini adalah takdir Allah.

Umar Patek akan dijerat dengan sejumlah pasal, antara lain yakni UU Terorisme 15 tahun 2003 soal keterlibatannya di dalam menyembunyikan Dulmatin dan mengetahui informasi soal senjata dan latihan paramiliter di Aceh. Juga lewat pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dalam kasus Bom Bali. Dia juga akan dikenakan pasal 266 junto 263 KUHP, soal pemalsuan paspor. Dia diancam hukuman mati.

BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA



Menkumham: UU Intelijen Takkan Ganggu Kebebasan Pers

Patrialis malah menyebut kalangan pers (mestinya) tahu mana yang rahasia dan yang tidak.

NASIONAL | 11 Oktober 2011


354 Calhaj Berangkat dari Padang Siang Ini

Kloter ke-9 dari total 22 kloter yang berangkat dari Padang.

NASIONAL | 11 Oktober 2011

Sutanto: UU Intelijen akan Lindungi Masyarakat

UU ini disebut sudah memperhatikan nilai-nilai demokrasi, nilai-nilai HAM dan penegakan hukum.

NASIONAL | 11 Oktober 2011

UU KY Bolehkan Penyadapan Hakim

Pengawasan bagi hakim penting untuk menjaga kode etik hakim agung.

NASIONAL | 11 Oktober 2011


RUU Intelijen Negara Disahkan

Meski menuai banyak kecaman dan penolakan, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) hari ini mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Intelijen Negara menjadi Undang-undang (UU) melalui sidang paripurna.

NASIONAL | 11 Oktober 2011



TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS