Konser Kolaborasi Demi Menyelamatkan Alam

Konser Kolaborasi Demi Menyelamatkan Alam
Head of Nature & People Partnership YKAN, Sally Kailola berfoto bersama anggota Wolftank dalam temu media di "I Like Monday, I Like Nature: Music for Conservation", Jumat 11 Oktober 2019. ( Foto: SP/Dina Fitri Anisa )
Dina Fitri Anisa / EAS Sabtu, 12 Oktober 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Grup musik rock asal Indonesia, Wolftank berkolaborasi dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) untuk memulihkan kondisi alam Indonesia. Salah satu kegiatan yang akan mereka lakukan adalah membuat konser bertajuk I Like Monday, I Like Nature: Music for Conservation, di Hard Rock Cafe Jakarta, pada 28 Oktober 2019.

Head of Nature & People Partnership YKAN, Sally Kailola menuturkan, kolaborasi ini terjalin sebagai respons terhadap buruknya kualitas udara Jakarta. Berdasarkan data dari Airvisual.com pada Senin (7/10/2019), Jakarta kembali berada di peringkat keempat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia.

Dirinya juga menyebut riset dari The Nature Conservancy yang dilakukan pada 2016, salah satu solusi untuk menciptakan kota yang sehat adalah dengan memanfaatkan infrastruktur alami. Dalam hal ini, hutan mangrove menjadi salah satu infrastruktur alami dengan kemampuannya menyerap karbon hingga 1.000 ton per hektare.

"Saat ini kita tengah menghadapi tantangan krisis iklim terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Laju pemanasan global kian cepat akibat pelepasan emisi gas rumah kaca yang terus berlangsung. Wilayah perkotaan pun menghadapi isu yang hampir seragam seperti kualitas udara yang buruk, pulau panas perkotaan (urban heat island), serta kelangkaan air bersih dan sumber pangan," ujar Sally saat taklimat media, di kawasan Jakarta Pusat, Jumat (11/10/2019).

Namun disayangkan, meski memiliki kemampuan menyerap karbon tiga sampai lima kali lebih besar dari hutan tropis, hutan mangrove di Indonesia terus tergerus. Perubahan areal lahan mangrove untuk kebutuhan budidaya perikanan dan permukiman menjadi penyebab utama luas hutan mangrove terus berkurang.

Hutan Angke Kapuk kini menjadi salah satu ekosistem mangrove yang masih tersisa di ibukota dengan luas sekitar 195 hektare. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta, berupaya untuk melestarikan dan memanfaatkan potensi mangrove dengan mengajak keterlibatan berbagai pihak.

Perubahan
Sally pun menjelaskan, kerja sama dengan band yang beranggotakan para musisi senior Indonesia yaitu, Tyo Nugros dari Dewa, Ariyo Wahab dari The Dance Company, Kin Aulia dari The Fly, dan Noey dari Java Jive ini diharapkan menyadarkan masyarakat akan pentingnya ekosistem mangrove bagi kawasan pesisir maupun perkotaan. Sejatinya, setiap individu dapat melakukan perubahan.

"Alam seringkali menjadi inspirasi dalam berkarya. Kami pun percaya, musik dan kegiatan konservasi dapat berkolaborasi untuk menginspirasi dan mengajak semakin banyak orang terlibat, berkontribusi melestarikan bumi," ungkap vokalis Wolftank Ariyo Wahab.

Seluruh hasil pengumpulan dana dari kegiatan ini nantinya diperuntukkan bagi konservasi dan restorasi ekosistem mangrove di Jakarta. Setiap pembelian satu buah tiket I Like Monday, I Like Nature: Music for Conservation menandai satu buah bibit mangrove yang akan ditanam bersama-sama.

"Ini bukan acara hura-hura, tetapi kontribusi untuk alam. Kita buat event akan ada bintang tamu seorang musisi senior yaitu, Tony Wenas. Kolaborasi ini berupaya untuk membangun kesadaran, dan ini saatnya kita bergerak melakukan perubahan untuk bumi kita. Jadi, anak cucu kita masih bisa merasakan indahnya Indonesia,” tukas Tyo Nugros.



Sumber: Suara Pembaruan