Konser I Like Monday, Wolftank Galang Dana untuk Mangrove

Konser I Like Monday, Wolftank Galang Dana untuk Mangrove
Grup band Wolftank saat jumpa pers konser I Like Monday, I Like Nature: Music for Conservation di Jakarta ( Foto: ist / ist )
Mardiana Makmun / MAR Minggu, 13 Oktober 2019 | 16:22 WIB

JAKARTA, Beritasatu.com – Grup band Wolftank bakal menggelar konser I Like Monday, I Like Nature: Music for Conservation pada 28 Oktober mendatang. Konser yang digelar atas kolabirasi Yayasan Konservasi Alam Nusantara, afiliasi dari The Nature Conservancy, dengan Tony Wenas (Dewan Penasihat YKAN), dan Hard Rock Café itu bertujuan untuk menggalang dana bagi restorasi dan penanaman hutan bakau (mangrove) di Teluk Jakarta.

WOLFTANK merupakan sebuah band beraliran Pop Rock beranggotakan para musisi senior Indonesia yang kiprahnya lebih dulu dikenal lewat kelompok band legendaris. Tyo Nugros dari Dewa, Ariyo Wahab dari The Dance Company, Kin Aulia dari The Fly, dan Noey dari Java Jive.

“Alam seringkali menjadi inspirasi dalam berkarya. Kami pun percaya, musik dan kegiatan konservasi dapat berkolaborasi untuk menginspirasi dan mengajak semakin banyak lagi orang terlibat, berkontribusi langsung melestarikan bumi,” ungkap Ariyo Wahab, vokalis WOLFTANK.

Seluruh hasil pengumpulan dana dari konser ini akan diperuntukkan bagi konservasi dan restorasi ekosistem mangrove di Jakarta. Setiap pembelian satu buah tiket “I Like Monday, I Like Nature: Music for Conservation” menandai satu buah bibit mangrove yang akan ditanam bersama-sama YKAN, Tony Wenas, WOLFTANK, Hard Rock Café Jakarta, dan media yang akan diselenggarakan pada November 2019.

Berdasarkan data dari Airvisual.com pada Senin (7/10), Jakarta kembali bertengger di peringkat keempat sebagai kota dengan kualitas udara terburuk di dunia. Melansir riset dari The Nature Conservancy yang dilakukan pada 2016, salah satu solusi untuk menciptakan kota yang sehat adalah dengan memanfaatkan infrastruktur alami. Dalam hal ini, hutan mangrove menjadi salah satu infrastruktur alami dengan kemampuannya menyerap karbon hingga 1.000 ton per hektar.

“Saat ini kita tengah menghadapi tantangan krisis iklim terbesar dalam sejarah peradaban manusia. Laju pemanasan global kian cepat akibat pelepasan emisi gas rumah kaca yang terus berlangsung. Wilayah perkotaan pun menghadapi isu yang hampir seragam seperti kualitas udara yang buruk, pulau panas perkotaan (urban heat island), serta kelangkaan air bersih dan sumber pangan,” ujar Head of Nature & People Partnership YKAN Sally Kailola.

Sayangnya, meski punya kemampuan menyerap karbon 3-5 kali lebih besar dari hutan tropis, hutan mangrove di Indonesia terus tergerus. Perubahan areal lahan mangrove untuk kebutuhan budidaya perikanan dan permukiman menjadi penyebab utama luas hutan mangrove terus berkurang.

Hutan Angke Kapuk kini menjadi salah satu ekosistem mangrove yang masih tersisa di ibukota dengan luas sekitar 195 hektar. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, melalui Balai Konservasi Sumber Daya Alam Jakarta, berupaya untuk melestarikan dan memanfaatkan potensi mangrove dengan mengajak keterlibatan berbagai pihak. Salah satunya adalah Yayasan Konservasi Alam Nusantara yang menginisasi dan memprakarsai aliansi kemitraan lewat program Mangrove Ecosystem Restoration Alliance (MERA). Aliansi kemitraan ini bertujuan mengembangkan, memperkenalkan, dan mengimplementasikan pengelolaan kawasan pesisir yang terpadu dan berkelanjutan.

“Kami mendukung pemerintah dalam mengupayakan pengurangan polusi udara di Jakarta, antara lain lewat restorasi ekosistem mangrove di Teluk Jakarta demi kualitas udara Jakarta yang lebih baik. Pendekatan pengelolaan kawasan pesisir terpadu dan berkelanjutan menjadi jawaban, yang sekaligus mendorong peningkatan taraf hidup masyarakat yang tinggal di sekitarnya,” jelas Direktur Program MERA M Imran Amin.

Secara umum, hutan mangrove dikenal sebagai benteng pertahanan terakhir yang melindungi wilayah perkotaan dari ancaman banjir rob, erosi, tsunami, maupun sebagai penyaring air bersih. Mangrove juga menjadi area pembibitan yang penting bagi ikan dan invertebrata, tempat persinggahan bagi burung-burung yang bermigrasi, serta menjadi sumber pangan maupun perekonomian masyarakat sekitarnya. Sebagai catatan, Indonesia adalah negara dengan lahan mangrove terbesar di dunia. Luasannya mencakup 23% dari total mangrove di seluruh dunia dan memiliki peran penting dalam upaya mitigasi dampak perubahan iklim. Menghentikan laju kerusakan mangrove dapat memenuhi ¼ target Indonesia dalam mengurangi emisi 26% pada 2020.



Sumber: Investor Daily