Ananda Sukarlan Berkarier dengan Identitas

Ananda Sukarlan Berkarier dengan Identitas
Ananda Sukarlan ( Foto: Suara Pembaruan / Maria Fatima Bona )
Maria Fatima Bona / IDS Senin, 17 September 2018 | 15:04 WIB

Jakarta - Ananda Surkarlan adalah pianis Indonesia pertama yang berhasil mencatatkan namanya dalam The International who’s Who Music Book pada 2011. Apa rahasianya? Ternyata sebagai pianis, Ananda harus memiliki identitas atau keistimewaan tersendiri. Meski ia selalu menampilkan karya musik klasik Mozart atau Beethoven, Ananda tidak lantas berkarakter kebarat-baratan.

“Musik klasik tentu stigmanya sangat kebarat-baratan. Bahkan 10 tahun yang lalu Indonesia tidak terlalu mengenal genre musik ini. Karena itu, saat pertama kali memainkan musik klasik, saya mencoba menampilkan sosok Ananda Sukarlan, bukan Mozart atau Beethoven,” kata lulusan Kolese Kanisius Jakarta ini saat ditemui SP pada acara "TEDxYouth by Sekolah Pelita Harapan", di @America, Jakarta, Sabtu (15/9).

Sebagai musisi Indonesia, Ananda menuturkan sudah menemukan kunci dalam berkarier musik klasik. Ia memilih untuk memperkenalkan Indonesia dalam setiap penampilannya. Menurut dia, Indonesia yang kaya akan budaya dan bahasa menjadi identitasnya.

“Indonesia ini kaya akan budaya. Tiap daerah memiliki lagu dengan kekhasan melodi dan irama. Ini yang saya tawarkan dalam setiap permainan piano,” kata Ananda.

Proyek Baru
Ia memilih memperkenalkan Indonesia melalui permainan piano karena alat musik tersebut dapat temukan di seluruh dunia. Sehingga, akan mudah baginya untuk memberikan warna baru dalam setiap permainannya.

Bahkan saat ini Ananda sedang menjalani proyek musik klasik piano yang diberi nama Rapsodia Nusantara. Dijelaskan, proyek tersebut mengkompilasikan lagu-lagu dari setiap daerah yang diaransemen dengan piano dan dikemas secara menarik.
Ananda mengatakan, sejauh ini Rapsodia Nusantara mendapat sambutan luar biasa. Pasalnya, banyak pianis mancanegara yang bermain musik itu, dan secara tidak langsung mereka memperkenalkan Indonesia ke dunia.

Perkembangan Rapsodia Nusantara, dituturkan Ananda, sudah mencapai 24 nomor. "Saya ingin membuat Rapsodia untuk semua provinsi. Materi Rapsodia bisa membantu pianis muda Indonesia menemukan identitas. Mereka bisa memilih mau genre apa," ujar pria yang saat ini menetap di Bilbao, Spanyol itu.

Pada kesempatan sama, ia juga berbagi cerita tentang proyek terbarunya, yakni kolaborasi dengan musisi Indonesia dari Rangkas Bitung untuk mempersiapkan Opera Multatuli. Opera mengisahkan tentang orang Belanda di Rangkas Bitung, Kabupaten Lebak, Banten. Nantinya sebuah opera utuh akan direalisasikan pada 2020 untuk merayakan 200 tahun Multatuli.



Sumber: Suara Pembaruan