Cover Lagu Jalan Menuju Pintu Ketenaran

Cover Lagu Jalan Menuju Pintu Ketenaran
Penyanyi Isyana Saraswati beraksi di atas panggung Java Jazz Festival 2016, JiExpo Kemayoran, Jakarta, 5 Maret 2016. Isyana tampil energik membawakan sejumlah lagu andalannya seperti "Kau Adalah" dan "Tetap Dalam Jiwa". ( Foto: Beritasatu.com/Danung Arifin )
Dina Fitri Anisa / CAH Sabtu, 6 Januari 2018 | 16:29 WIB

Jakarta - Mengintip nama penyanyi papan atas di Indonesia saat ini, seperti Isyana Sarasvati ataupun Raisa Andriana. Taukah Anda, sebelum nama-nama tersebut muncul di layar kaca, terlebih dahulu mereka telah mendapatkan ketenaran di sosial media, yaitu Youtube?

Ya memang sekarang ini, kita cukup dimanjakan dengan kehadiran salah satu situs streaming video terbesar di dunia, YouTube. Yap, situs yang satu ini memang selalu menjadi tujuan utama baik para penikmat musik hingga artis dan musisi yang ingin menunjukkan talentanya.

Namun, permasalahannya kini banyak orang dengan kemampuan menyanyi, tetapi tidak semua orang bisa menciptakan lagu, dari sini ide meng-cover lagu di mulai. Ada banyak Youtubers yang meraih popularitas dan kini menjadi penyanyi idola banyak orang. Hal ini menjadi daya tarik tertentu bagi banyak orang yang berfikir, cover lagu Youtube adalah jalan untuk meraih ketenaran.

Hal ini pun ditanggapi oleh Isyana Sarasvati yang memulai kariernya dari bawah. Sebelum menjejakkan kakinya di Industri musik Indonesia, Isyana memulai karirnya bermusiknya dengan mengunggah video cover di YouTube dengan saudara laki-lakinya.

Menurutnya, dengan datangnya banyak cover video di Youtube itu sangat bagus. Artinya, semua orang dapat dengan bebas berkreasi dan mengekspresikan talenta yang mereka miliki.

“Menurut aku ke arah digital ke arah yang lebih baik. Jadi kenapa kita harus menolaknya atau bingung kayak 'haduh ada media sosial gimana ni', seharusnya kita mempergunakannya secara positif, atau mempergunakannya secara bijak. Dengan orang orang cover di Youtube bagus karena untuk era sekarang, ini adalah wadah mereka untuk berkarya dan jauh lebih mudah daripada zaman zaman dahulu. Jadi tanggapan aku ya aku sangat support dengan media sosial saat ini,” ungkapnya saat dihubungi Beritasatu.com, Sabtu (6/1).

Ia pun merasa sangat beruntung karena bisa memanfaatkan Youtube menjadi batu loncatan kesuksesannya di bidang musik. Karena pada awal mulanya, dirinya memang tidak menyangka akan besar seperti ini. Dan sampai saat ini tidak ada dalam benaknya, bahwa penyanyi cover dapat mengganggu eksistensi penyanyi yang melalui lajur rekaman.

“Setiap musisi punya karakter sendiri, dan seharusnya jangan menanamkan pribadi yang membanding bandingkan dengan orang lain, karena menurut aku itu tidak sehat. Jadi kalau kita melakukan hal tersebut, kelamaan mikir banding bandinginnya tapi tidak berkarya,” ungkapnya.

, Yura Yunita. Menurut Yura, tidak boleh ada pemikiran apakah nantinya ketika para penyanyi cover semakin mreambah, dan menghalangi masuknya para musisi jalur rekaman. Alasannya adalah, kalau sampai kapanpun bila penyanyi cover hanya bisa mengcover lagu dan tidak menciptakan karyanya sendiri, maka tidak ada peningkatan dalam karirnya.

“Jadi menurut aku, tidak akan mengancam penyanyi yang baru masuk jalur rekaman. Semua orang bebas berekspresi dan berkarya, di manapun itu. Dan untuk menjadi penyanyi yang sukses, hanya bisa besar karena karyanya sendiri. Ketenaran adalah apresiasi dari karya-karya kita yang memang bagus dan dinikmati para pencinta, musk. Karya yang disampaikan dengan hati dan konten yang dikemas menarik bisa jadi bonus,” ungkap peraih penghargaan di ajang Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards 2017, dalam kategori Pencipta Lagu Pop Terbaik.

Lalu, ia pun setuju apabila media sosial tidak mudah dihindari dewasa ini. Berbeda dengan zaman dulu, serba sulit untuk berkarya. Tetapi sekarang justru kemudahan media sosial harus bisa dimanfaatkan setiap insan untuk berkarya.

“Terus berkarya dan konsisten jangan ikuti arus. Apapun yang naiknya cepat pasti turunnya cepat, kalau tidak diiiringi dengan konsistensi karya. Jangan bikin sensasi yang membuat pengaruh negatif itu hal-hal yang harus dihindari. Dan bangga dengan karya sendiri,” katanya.

Imbas Teknologi

Maraknya penyanyi cover yang kian melejit di dunia maya ataupun layar kaca, menurut pengamat musik dan juga CEO Label rekaman Greenland Indonesia, Bayu Randu adalah dikarenakan ini imbas dari kemajuan teknologi dan imbas dari industri musik indonesia saat ini.

“Maksudnya adalah, banyak tallent bagus yang susah dapat tempat di label rekaman, dan ahirnya mereka dapat tempat sendiri atau panggung sendiri untuk mereka. Yaitu dengan media sosial, salah satunya Youtube,” ungkapnya.

Ia pun menuturkan, kemajuan teknologi dan maraknya para penyanyi cover nyatanya bisa menjadi tantangan buat penyanyi yang sudah terkenal. Bahwa teknologi sekarang memposisikan artis baru dan artis lama sama kedudukanya. Ia pun mencontohkan dari beberapa artis terkenal lewat Youtube seperti Isyana dan Justin Bieber.

“Artinya kalau artis artis lama tidak mengikutin tren baru, ya pasti dia akan tenggelam. Makanya sekarang banyak artis yang punya chanel sendiri, dan selalu aktif di sosmed, seperti Anji, ataupun Rian Dmasiv,” katanya.

Selain itu, hal yang terpenting adalah. Bagaimana nasib pembuat lagu yang dicover oleh orang lain. Apakah ini ancaman terkait Hak Cipta? Ataupun sebuah dukungan untuk mempromosikan lagu tersebut?

Seperti belum lama ini, dari sekian versi cover yang tersedia di YouTube, lagu Akad milik Payung Teduh, sepertinya menempati posisi puncak dengan jumlah viewer yang tidak main-main. Salah satu pencetak viewer pertama adalah Hanin Dhiya yang ditonton sekitar 48 juta pasang mata.

Menurut pengamat musik Adib Hidayat, penyanyi cover dengan membawakan sebuah lagu lalu terkenal akan bisa menguntungkan bagi pemiliknya. Karena pada akhirnya mereka membantu untuk mempromosikan lagu-lagu karya mereka. Jadi tidaklah merugikan.

“Musisi cover hanya pintar membawakan lagu orang lain dengan kesulitan apapun. Namun ketika menciptakan lagu sendiri itu jadi perkara lain. Jadi untuk cover hanya beda media saja di zaman sekarang. Namun jangan lupa, pencipta lagu harus mendaftarkan lagunya ke publisher terlebih dahulu. Dengan demikian meskipun lagu tersebut dinyanyikan oleh penyanyi lain, pencipta lagu tetap mendapatkan royalti,” ungkapnya.

Namun permasalahannya adalah ketika, para pembuat musik di Indonesia belum sadar betul pentingnya mendaftarkan karyanya ke music publisher. Hal ini diungkapkan oleh gitaris band Samson, Irfan Aulia Isral.

Co founder dari music publishing, Samsons & Public Relations at Massive Music Entertainment. Mengatakan bahwa Music Publishing adalah bagian utama dari industri musik yang secara khusus mengurus administrasi, eksploitasi, dan manajemen Hak Cipta dari seorang atau lebih pencipta lagu. Segala bentuk izin pemakaian lagu, pengurusan hak cipta akan dikelola oleh music publishing.

“Para pencipta lagu tersebut dalam lima tahun terakhir ini baru menyadari. Di indonesia sendiri selama 50 tahun terakhir ini , karya musik dibesarkan oleh industri rekaman, jadi urgensi nya adalah orang lebih banyak mencari label rekaman dan manajemen artis karena hal tersebut merupakan hal yang paling cepat dirasakan manfaatnya oleh para musisi. Akan tetapi tidak banyak orang yang tahu bahwa hak cipta berlaku seumur hidup bahkan 70 tahun setelah orang tersebut meninggal. Jadi jika berbicara menulis lagu dan hak cipta, itu merupakan aset yang dapat diwariskan nantinya,” katanya.



Sumber: Suara Pembaruan