DPRD Minta DKI Optimalkan Contact Tracing
Logo BeritaSatu
INDEX

BISNIS-27 513.144 (-1.14)   |   COMPOSITE 6258.75 (-10.28)   |   DBX 1361.34 (-0.65)   |   I-GRADE 179.18 (-0.62)   |   IDX30 502.509 (-1.33)   |   IDX80 134.874 (0.02)   |   IDXBUMN20 393.542 (-2.05)   |   IDXESGL 138.721 (0.08)   |   IDXG30 140.869 (-0.28)   |   IDXHIDIV20 444.908 (-0.07)   |   IDXQ30 144.657 (-0.05)   |   IDXSMC-COM 296.3 (0.74)   |   IDXSMC-LIQ 351.212 (3.56)   |   IDXV30 132.413 (1.76)   |   INFOBANK15 1051.36 (-9.47)   |   Investor33 433.839 (-1.51)   |   ISSI 179.41 (0.06)   |   JII 608.801 (0.64)   |   JII70 214.954 (0.38)   |   KOMPAS100 1205.85 (-1.58)   |   LQ45 941.363 (-1.13)   |   MBX 1692.14 (-3.13)   |   MNC36 321.868 (-1.1)   |   PEFINDO25 321.871 (0)   |   SMInfra18 304.318 (3.57)   |   SRI-KEHATI 368.746 (-1.3)   |  

DPRD Minta DKI Optimalkan Contact Tracing

Senin, 21 September 2020 | 20:10 WIB
Oleh : Hotman Siregar / YUD

Jakarta, Beritasatu.com - Dalam kurun waktu seminggu terakhir, setelah PSBB kembali diterapkan, kasus Covid-19 di Jakarta masih terus naik, tanpa ada tanda-tanda penurunan. Ini artinya penularan adalah tinggi di minggu sebelumnya.

"Maka sebaiknya PSBB sekarang diperpanjang, setidaknya seminggu. Memerpanjang juga memperburuk keadaan, data dari negara yang PSBB ketat justru diikuti masalah ekonomi serius dan angka penyebaran yang tinggi. Sebaliknya negara yang mampu menahan penyebaran di angka yang baik, membuka perekonomian dengan terukur dan diawasi ketat," ujar anggota DPRD DKI yang juga epidemolog Dr. Gilbert Simanjuntak, Sp.M(K) kepada SP di Jakarta, Senin (21/9).

Anggota Fraksi PDIP DPRD DKI itu mengatakan, sejak rencana PSBB kedua, dia telah meminta dievaluasi kegagalan PSBB Transisi, namun Pemprov DKI tidak berani terbuka.

Karena itu harus Gilbert menyampaikan bahwa penyebab kegagalan PSBB transisi adalah karena pengawasan yang lemah. Kedua karena komunikasi dengan hampir semua lini yang buruk dan ketiga adalah contact tracing tidak optimal.

Sewaktu PSBB awal, kata Gilbert, penularan masih dapat dikendalikan. Setelah PSBB Transisi, mulailah pandemi tidak terkendali, tetapi selalu dikatakan terkendali.

"Bagaimana pun PSBB bukanlah target, tetapi suatu kegiatan ad hoc untuk masalah wabah. PSBB harus diakhiri atau dilonggarkan, tetapi penggantinya harus dipersiapkan matang-matang," katanya.

Pada saat pelonggaran agar ekonomi bisa berjalan, menurut Gilbert, ada hal-hal yang harus diperhatikan. Pertama pengawasan harus diperkuat, dan pelibatan TNI-Polri juga dipertahankan, selain RT dan RW.

Agar ada data untuk intervensi, maka dicari tingkat kepatuhan orang mengikuti protocol dengan survey , metode langsung seperti ditanya langsung atau tertutup. Selanjutnya tidak langsung dengan diamati dan dicatat berapa yang patuh.

"Ini bisa dilakukan di tempat yang diperkirakan pelanggaran tinggi seperti pasar, angkutan umum, kantor, dan pemukiman padat. Data ini digunakan untuk membuat kebijakan dan evaluasi, apakah tingkat kepatuhan sudah tercapai atau belum," tuturnya.

Berdasarkan data Tim Satgas Covid-19, kepatuhan di DKI adalah 70%, sangat jauh dari yang optimal. Sekelompok masyarakat yang tidak peduli harus dididik/dihukum, dan disitulah perlunya Pemprov DKI berlaku tegas. Tanpa mendidik kelompok ini, maka yang terjadi adalah herd immunity atau pembiaran.

Selain itu, Gilbert menyarankan agar komunikasi harus diperbaiki dengan semua pihak, terlebih dengan Pusat dan legislative. Menurutnya, lebih baik focus mengatasi wabah daripada kompetisi dengan Pusat.

Ia mengatakan, bekerja sendiri mengatasi wabah ini tidak akan berhasil, dan terbukti dari kemampuan Pemprov DKI yang terbatas sehingga beberapa kali minta bantuan Pusat. Komunikasi dengan masyarakat juga tidak baik sehingga berbuah denda.

Denda bagi pelanggar protokol kesehatan juga dinilai tidak efektif dan tidak mendidik dalam wabah, karena masyarakat harus diawasi baru patuh. Harusnya kesadaran yang perlu dibangun.

"Contact tracing harus optimal," katanya.

Gilbert menjelaskan, data yang diperoleh terakhir adalah bulan Mei, 1 kasus ditelusuri 3, seharusnya 1:30. Memang ini sulit dibayangkan bisa dilakukan Pemprov DKI, tetapi seharusnya 1:10 masih sangat mudah misalnya 1 kasus ditelusuri di keluarga, tetangga, teman sekerja, dan sahabat dekat. Kelemahannya adalah penularan di pasar, mal, angkutan dan lingkungan.

Tetapi menelusuri orang-orang terdekat tadi (tracing 1:10) secara akal sehat sudah jauh lebih baik. Selama ini, kata Gilbert, Gubernur DKI terkesan selalu terlalu percaya diri mengatakan bahwa tes sudah dilakukan 5x standar WHO.

"Ini harus dikoreksi, bahwa yang perlu dites adalah mereka yang bergejala dan yang terpapar atau kontak. Melakukan tes secara sporadis adalah sia-sia, dan gampang menemukan orang yang mau dites agar melebihi standar WHO. Indikasi tes secara medis juga sangat jelas, seperti saya sebutkan di atas. Setelah tes lalu contact tracing pada yang positif, ini yang tidak pernah dilaporkan gubernur, dan angkanya di bulan Mei sangat jelek, 1:3," jelasnya.

Pada bulan Juni-September, kata Gilbert, tidak pernah dibuka angka contact tracing.
"Selama ini kita misleading oleh paparan yang selalu menyampaikan Rt, positivity rate, dan fatality rate. Sebaiknya hal tersebut diserahkan ke Satgas Covid DKI dan Gubernur focus ke policy," tuturnya.

Memperbaiki ketiga faktor penyebab kegagalan PSBB di Jakarta, diharapkan dapat memperbaiki kondisi secara keseluruhan. Kondisi kesehatan, kondisi ekonomi dan kondisi lainnya.

"Sekalipun nanti vaksin sudah ada, kita belum memiliki data tingkat perlindungannya atau coverage, berapa persen. Prosedur sekarang masih yang terbaik asal sungguh-sungguh dijalankan," katanya.



Sumber: BeritaSatu.com


BAGIKAN


REKOMENDASI



BERITA LAINNYA

Wali Kota Bekasi Pantau Kepatuhan Pedagang Pasar Pakai Masker

Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi meninjau langsung kepatuhan terhadap penerapan protokol kesehatan pedagang pasar tradisional.

MEGAPOLITAN | 21 September 2020

Dinas Sosial Depok Berikan Bantuan untuk Warga Korban Kebakaran

Untuk sementara para korban kebakaran Depok berada di posko pengungsi yang berada di Posyandu RW 01.

MEGAPOLITAN | 21 September 2020

Bogor Hujan Deras, Katulampa Level Waspada Banjir Jakarta

Hujan mengguyur sejak pukul 15.00 WIB, bertahan hingga pukul 18.00 WIB hampir merata terjadi di wilayah Bogor.

MEGAPOLITAN | 21 September 2020

PSBB Tangerang Raya Kembali Diperpanjang

PSBB di Tangerang Raya kembali diperpanjang hingga 8 Oktober mendatang.

MEGAPOLITAN | 21 September 2020

Pemkot Tangerang Siapkan Rumah Singgah Baru untuk Pasien Covid-19

Pemkot Tangerang menyiagakan fasilitas kesehatan untuk menampung para pasien yang harus dirawat dan menjalani isolasi akibat terpapar Covid-19.

MEGAPOLITAN | 21 September 2020

Sepekan 46.134 Pelanggar Protolol Kesehatan Terjaring Operasi Yustisi

Polda Metro Jaya mencatat, 46.134 orang yang melakukan pelanggaran protokol kesehatan terjaring Operasi Yustisi, di Jakarta dan sekitarnya.

MEGAPOLITAN | 21 September 2020

Kebakaran Kejagung, Polisi Juga Periksa Tukang dan Cleaning Service

Dikatakan polisi, pada hari H Pukul 11. 30 WIB sampai 17.30 WIB (di hari kejadian) ada tukang yang sedang renovasi di Gedung Kejagung.

MEGAPOLITAN | 21 September 2020

1 Orang Tewas Diserang Geng Motor di Bintaro, Polisi Buru Pelaku

Sekelompok orang yang mengendarai sepeda motor dan membawa senjata tajam menyerang satu warung, di Bintaro Permai, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

MEGAPOLITAN | 21 September 2020

352 Karyawannya Positif Covid-19, Epson Bekasi Ditutup Sementara

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bekasi telah berkoordinasi dengan manajemen perusahaan untuk melakukan penutupan sementara sejak 19 September hingga 2 Oktober 20

MEGAPOLITAN | 21 September 2020

Kemhub: Spakbor dan Helm Opsional Saat Bersepeda

Meski tidak wajib, masyarakat tetap bisa menggunakan helm sebagai bagian dari keselamatan saat bersepeda.

MEGAPOLITAN | 21 September 2020


TERKONEKSI BERSAMA KAMI
Copyright © 2021 BeritaSatu
Allright Reserved
CONTACT US
Berita Satu Plaza, Lantai 11 Kav. 35-36,
Jl. Jend. Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Jakarta 12950
Telp: +62 21 2995 7500
Fax: +62 21 5277975
BeritaSatu Media Holdings
CLOSE ADS