PSI DKI: Ganjil Genap Kontraproduktif dengan Upaya Lawan Covid-19

PSI DKI: Ganjil Genap Kontraproduktif dengan Upaya Lawan Covid-19
Petugas kepolisian mengatur lalulintas saat hari pertama penindakan sistem ganjil-genap di kawasan Matraman, Jakarta, Senin (9/9/2019). (Foto: ANTARA FOTO / Galih Pradipta)
Yustinus Paat / JAS Minggu, 2 Agustus 2020 | 22:30 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Fraksi Partai Solidaritas Indonesia (PSI) DKI Jakarta mengkritik pemberlakuan sistem ganjil genap oleh Pemprov DKI pada masa perpanjangan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) Transisi. PSI menilai kebijakan tersebut kontraproduktif dengan penanganan Covid-19.

Dinas Perhubungan DKI Jakarta beralasan, kebijakan ganjil genap diberlakukan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas. Pasalnya, volume lalu lintas meningkat mendekati normal (dibandingkan dengan kondisi lalu lintas pada Februari 2020 sebelum diberlakukan PSBB).

“Kebijakan ganjil genap bertujuan untuk mendorong masyarakat menggunakan transportasi umum. Namun, di masa pandemi Covid-19, transportasi umum memiliki risiko tinggi. Oleh karena itu, kebijakan ganjil-genap justru akan meningkatkan penyebaran virus," kata anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PSI Anthony Winza di Jakarta, Minggu (2/8/2020).

Berdasarkan data Satgas Covid-19 hingga 31 Juli 2020, di DKI Jakarta terdapat 21.339 kasus. Selama seminggu terakhir, rata-rata jumlah kasus sekitar 400 orang per hari. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan pada masa PSBB sekitar 100 orang per hari.

“Lalu lintas memang mulai macet, tetapi pandemi Covid-19 belum terkendali. Bahkan saat ini kondisinya jauh lebih parah jika dibandingkan dengan masa PSBB. Jika ganjil genap diberlakukan, maka akan semakin banyak warga Jakarta yang berdesak-desakan di transportasi umum. Kebijakan ini sangat membingungkan,” jelas Anthony.

Anthony menduga kebijakan ganjil genap ini hanya memikirkan transportasi, namun mengabaikan kesehatan masyarakat. Dia menyarankan agar Pemprov DKI mempertimbangkan kepentingan yang lebih besar, bukan berpikir secara sektoral.

“Di tengah pandemi begini, buat apa memaksakan ganjil genap? Mungkin Pak Anies lelah dan bingung, sehingga akhirnya mengeluarkan kebijakan yang saya rasa bertentangan dengan logika akal sehat," pungkas Anthony.



Sumber: BeritaSatu.com