Penumpang KRL Membeludak, Bima Arya: Pembagian Jam Kerja Tak Maksimal

Penumpang KRL Membeludak, Bima Arya: Pembagian Jam Kerja Tak Maksimal
Wali Kota Bogor Bima Arya saat meninjau Stasiun Bogor, Senin (6/7/2020). (Foto: istimewa)
Vento Saudale / BW Senin, 6 Juli 2020 | 09:44 WIB

Jakarta, Beritasatu.com – Penumpang kereta rel listrik (KRL) di Stasiun Bogor harus mengantre 1,5-2 jam untuk dapat masuk kereta, Senin (6/7/2020).

Wali Kota Bogor Bima Arya menyebut, penumpukan penumpang KRL awal pekan ini luar biasa membeludak dibanding Senin pekan lalu.

Bima menilai, saat ini kondisi stasiun hampir normal dan sistem pembagian shift kerja yang belum berjalan maksimal.

“Bapak Menteri Perhubungan, dan Gubernur DKI Jakarta pagi ini warga Bogor harus mengantre selama 1,5-2 jam untuk bisa masuk ke kereta. Bis yang kita siapkan sudah maksimal dan memang tidak bisa jadi solusi permanen,” kata Bima saat meninjau Stasiun Bogor.

Bima melihat, hal itu terjadi karena jumlah penumpang sudah dekati angka normal. Hal itu karena banyak sektor sudah dibuka di Ibukota. Namun, kapasitas gerbong tetap dibatasi 35%. Sistem pembagian jam kerja, ujarnya, tidak berjalan.

Bima pun meminta agar sistem pembagian kerja dievaluasi total implementasinya. Idealnya waktu kerja lebih berjarak dan dipastikan berjalan dengan baik.

“Tidak bisa ini, saya selalu sampaikan. Tiap senin penumpang selalu bertambah. Hari ini saja kenaikan terlihat sekali. Saya melihat shift kerja tidak berjalan. Kemarin Pak Doni Monardo (Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19) bilang di berbagai tempat shift sudah berjalan. Tetapi sepertinya, kebiasan berangkat penumpang tidak berubah,” papar Bima.

Ia menilai, ada beberapa faktor bisa saja masuk ke kantornya mungkin sesuai dengan shift, tetapi keberangkatan para penumpang tidak bisa dikontrol, sehingga terjadi penumpukan di stasiun.

“Mungkin yang mesti diubah jarak shift-nya kurang jauh. Ini tidak bisa begini terus. Kita juga kewalahan. KCI juga kewalahan,” lanjut Bima.

Bima menyebut, ketersediaan bus tidak akan berhasil, karena daya angkut bus sedikit. Penumpang KRL di tiap kereta mencapai maksimal 74 saat ini, sedangkan bus berkapasitas 15 orang. Pada waktu normal, kereta bisa mengangkut sekitar 200 penumpang per kereta.

“Bus tidak bisa. Mau seribu bisnya, tidak bisa. Siapa yang mau menyediakan bus, intinya evaluasi total kerja,” tambah Bima.



Sumber: BeritaSatu.com