Warga DKI Cenderung Anggap Remeh Wabah Covid-19

Warga DKI Cenderung Anggap Remeh Wabah Covid-19
Kegiatan di Pasar Tanah Abang di masa PSBB Transisi, Senin 15 Juni 2020. (Foto: BeritaSatu Photo / Bayu Marhaenjati)
Hotman Siregar / JAS Minggu, 5 Juli 2020 | 13:49 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Hasil survei yang dilakukan dilakukan LaporCovid-19.org bersama Social Resilience Lab, Nanyang Technological University (NTU), menemukan warga DKI Jakarta secara umum memiliki tingkat persepsi risiko terhadap pandemi Covid-19 yang cenderung masih rendah.

Selama sekitar sebulan sejak diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi pada fase tatanan kehidupan baru atau “New Normal,” angka penambahan kasus Covid-19 di wilayah DKI Jakarta terus meningkat. Seiring dengan meningkatnya jumlah tes berbasis molekuler yang dilakukan, transmisi kasus masih menunjukkan peningkatan.

Merespons hal ini,  melakukan studi berbasis survei untuk memetakan persepsi risiko warga terhadap Covid-19. Studi ini dilakukan dari tanggal 29 Mei hingga 20 Juni 2020 dan berhasil mendapatkan lebih dari 200.000 responden yang tersebar di seluruh wilayah DKI Jakarta.

Sosiolog Bencana, Associate Professor NTU, Singapura Sulfikar Amir mengatakan, dengan skor tersebut berarti warga DKI secara umum memiliki tingkat persepsi risiko yang cenderung masih rendah. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa kebijakan, skor ini mengindikasikan masih kurang siapnya warga DKI memasuki era new normal, di mana kegiatan sosial ekonomi dibuka secara penuh.

Secara keseluruhan, skor risk perception index (RPI) Jakarta adalah sebesar 3,30 (skala 5) atau turun 0,16 dari temuan di awal studi. Selain skor RPI yang rendah, ada tiga temuan penting dari survei persepsi risiko ini. Pertama, secara keseluruhan warga DKI memiliki perilaku menjaga diri yang baik.

“Ini ditunjukkan dari skor variabel self protection yang tinggi yang mencakup tiga aspek utama, yakni penggunaan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan. Tetapi di sisi lain, nilai variabel persepsi risiko sangat rendah,” kata Sulfikar dalam webinar di Jakarta, Minggu (5/7/2020).

Hal ini mengindikasikan kuatnya kecenderungan warga DKI untuk menganggap remeh wabah Covid-19. Sebagian besar responden percaya bahwa kemungkinan mereka tertular Covid-19 itu sangat kecil.

“Hal ini berkorelasi dengan kondisi ekonomi di mana sebagian besar responden merasakan dampak ekonomi secara signifikan sehingga mempengaruhi persepsi atas risiko Covid-19,” katanya.



Sumber: BeritaSatu.com