Paparan Radioaktif, Kinerja Batan dan Bapeten Dinilai Perlu Diaudit

Paparan Radioaktif, Kinerja Batan dan Bapeten Dinilai Perlu Diaudit
Tim Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) bersama Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) melakukan Dekontaminasi terhadap temuan paparan tinggi radioaktif di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan, Banten, Senin (17/2/2020). Kepala Batan Anhar Riza Antariksawan memastikan temuan Bapeten tentang adanya zat radioaktif di area kosong Komplek Batan Indah tidak berasal dari kecelakaan atau kebocoran reaktor riset G.A. Siwabessy, dan hingga saat ini reaktor yang dioperasikan sejak 1987 tersebut tetap beroperasi dengan aman dan lancar. ( Foto: ANTARA FOTO / Muhammad Iqbal )
Ari Supriyanti Rikin / FER Kamis, 27 Februari 2020 | 17:34 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Temuan paparan limbah radioaktif di tanah kosong disusul kepemilikan ilegal radioaktif di sebuah rumah warga di Perumahan Batan Indah, Serpong, Tangerang Selatan menunjukkan adanya kelemahan dalam sistem pengawasan dan pengelolaan radioaktif.

Baca: Asal Limbah Radioaktif di Perum Batan Indah Mulai Terkuak

Pakar energi, Fabby Tumiwa, menegaskan, perlu dilakukan audit atau investigasi independen terhadap Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) dan Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Hal ini untuk memastikan dan menghindari kejadian serupa tidak terulang lagi.

"Perlu dilakukan audit terhadap kinerja Batan dan Bapeten selama ini. Hasil audit itu untuk melihat apa yang salah sebagai bahan rekomendasi dan mengubah safety culture," kata Fabby dalam focus group discussion (FGD) Kebocoran Radiasi Nuklir di Serpong, Masihkah akan Membangun PLTN di Indonesia? di Jakarta, Kamis (27/2/2020).

Fabby yang juga Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform ini berpandangan, kasus paparan radioaktif di Serpong diibaratkan puncak gunung es.

Baca: Batan Petakan Area Terpapar Radioaktif di Batan Indah

"Persoalannya selama ini kita tidak tahu bagaimana limbah-limbah radioaktif diurus, diawasi, masuk dan keluarnya, perpindahannya (transportasinya)," ucapnya.

Menurutnya, Bapeten juga selama ini tidak menyampaikan berapa limbah radioaktif yang dihasilkan, berapa material radioaktif yang diimpor, berapa limbah radioaktif yang dikembalikan ke negara asalnya. Ia menegaskan, radioaktif adalah bahan berbahaya yang bisa mencemari lingkungan dan bisa membahayakan kesehatan manusia dari paparan radiasinya.

Begitu pula limbah radioaktifnya, harus diperlakukan hati-hati dengan persyaratan ketat. "Ada kelalaian di dalam pengawasan dan pengelolaan limbah radioaktif. Dua lembaga ini (Batan dan Bapeten) harus diinvestigasi," kata Fabby.



Sumber: BeritaSatu.com