Menteri Basuki Hadimuljono: Banjir Jakarta Februari karena Manajemen Drainase yang Buruk

Menteri Basuki Hadimuljono: Banjir Jakarta Februari karena Manajemen Drainase yang Buruk
Menteri PUPR Basuki Hadimuljono (keempat kiri) bersama Wakil Menteri John Wempi (ketiga kiri), Kepala Basarnas Bagus Puruhito (kiri), Kepala BMKG Dwikorita Karnawati (kedua kiri), Asisten Deputi Gubernur Bidang Tata Ruang Pemerintah Provinsi DKI Jakarta Vera Revina Sari (ketiga kanan), Sekda Provinsi Jawa Barat Setiawan Wangsaatmaja (kedua kanan) dan Sekda Provinsi Banten Al Muktabar mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi V DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/2/2020). ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Markus Junianto Sihaloho / DAS Rabu, 26 Februari 2020 | 14:07 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Banjir Jakarta pada Februari ini mayoritas disebabkan oleh manajemen drainase yang buruk.

Hal itu terungkap dari penjelasan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Menpupera) Basuki Hadimuljono dalam rapat dengan Komisi V DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (26/2/2020).

"Kalau kita rekap, pada banjir 1 Januari disebabkan limpahan air sungai dan kiriman. Banjir 23 Februari, 86 persen karena masalah drainase. Dan pada 25 Februari karena drainase 65 persen," kata Basuki.

Pihaknya sendiri terus bekerja sesuai dengan masterplan Pengendalian Banjir Jakarta. Dalam konteks itu, berbagai pekerjaan sudah dilakukan oleh Kempupera mulai dari pembangunan kanal banjir, sodetan, bendungan, hingga upaya-upaya pembersihan maupun pengerukan kali.

Untuk Kali Ciliwung, sudah dilaksanakan 16 km dari 33 km yang direncanakan. Bendungan Ciawi sudah dibangun dan diperkirakan bisa selesai pada Desember 2020. Gunanya adalah sebagai dry dam, yang membantu mengendalikan banjir saat musim hujan tiba.

Untuk Kali Pesanggrahan, direncanakan 42,8 km dan baru direalisasikan 21,7 km. Kali Sunter, direncanakan 35 km dan realisasinya sudah 28,6 km. Sementara Kali Angke, dengan panjang 48,2 km dan terealisasi 30,4 km.

"Kami bangun rusunawa Pasar Rumput, untuk merelokasi masyarakat di bantaran sungai. Bawahnya pasar, atasnya apartemen," kata Basuki.

Untuk underpass Kemayoran yang langganan terendam, disainnya akan direview dan dikerjakan usai selesainya musim hujan. Untuk penanganan sementara, kapasitas Waduk Kemayoran diperbesar 6.000 m3 dengan cara diperdalam.

Untuk mencegah listrik Jakarta tak mati, maka sudah dilakukan tindakan pengamanan terhadap Gardu Induk Kembangan Jakarta Barat.

Untuk Cisadane, Banten, normalisasinya juga ditangani. Rencananya panjang 72 km dan baru terealisasi 14,8 km.

Penanganan juga dilakukan terhadap Kali Bekasi, yang terhubung dengan Kali Cikeas dan Kali Cileungsi. Diperkirakan Kali Bekasi bisa ditangani sejak September tahun ini karena sudah ada lahan yang dibebaskan sepanjang 6 km.

Khusus untuk wilayah Bekasi, Menteri Basuki sempat menjelaskan kendala berupa sejumlah perumahan berada di wilayah yang seharusnya merupakan wilayah resapan air. "Mungkin kalau direlokasi, kita akan bikinkan rusun. Sehingga nanti daerah itu dijadikan daerah tampungan air," ulasnya.



Sumber: BeritaSatu.com