Keburu Hujan, Pesawat TMC Belum Terbang

Keburu Hujan, Pesawat TMC Belum Terbang
Kepala Balai Besar Tim Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Tri Handoko Seto ( Foto: Suara Pembaruan / Ari Rikin )
Ari Supriyanti Rikin / FMB Jumat, 24 Januari 2020 | 14:35 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Tim teknologi modifikasi cuaca (TMC) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pagi hingga siang hari ini belum berhasil menerbangkan pesawat TMC untuk mereduksi curah hujan yang jatuh di Jabodetabek.

Kepala Balai Besar TMC BPPT Tri Handoko Seto mengatakan, tim TMC pagi tadi gagal terbang karena hujan sudah turun.

"Untuk sorti penerbangan pertama tidak berhasil kita lakukan, tapi tim tetap bersiap," katanya di sela-sela Focus Group Discussion Penguatan Ekosistem TMC Mitigasi Banjir Jabodetabek di Jakarta, Jumat (24/1).

Seto mengungkapkan, tim TMC akan terus siaga dan mengupayakan yang terbaik sehingga ketika ada peluang menerbangkan pesawat, maka tim pun segera terbang untuk menyemai awan sebelum masuk ke Jabodetabek.

Ia mengaku, TMC pada hari sebelumnya, Kamis (23/1/2020) tim sudah melakukan operasi dengan maksimal. Hal ini didasari adanya perkiraan hujan lebat pada 23-25 Januari 2020.

Dalam pelaksanaan TMC ini, BPPT juga bekerja sama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyampaikan informasi prakiraan cuaca. Selain itu juga bekerja sama dengan TNI Angkatan Udara dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana.

"Kemarin kita sudah berhasil (operasi TMC). Tetapi hari ini ternyata pagi-pagi sekali sudah hujan. Tapi kita akan tunggu terus, begitu ada kesempatan kita langsung terbang hari ini," paparnya.

Penerbangan sorti pertama TMC biasanya dilakukan pagi hari dengan persiapan dimulai pukul 05.00 pagi. Jika dalam kondisi maksimal, penerbangan TMC bisa dilakukan hingga empat kali dalam satu hari.

Terkait prakiraan cuaca, Deputi Bidang Meteorologi BMKG Mulyono R Prabowo menyebut dari prakiraan BMKG, masyarakat perlu mewaspadai potensi hujan lebat pada 24-29 Januari 2020.

Dalam penjelasan tertulisnya, Mulyono menjelaskan, sirkulasi siklonik di sekitar Samudera Hindia selatan Lampung yang diprakirakan akan terbentuk pada tanggal 24-26 Januari 2020 menyebabkan terbentuknya pola konvergensi serta belokan angin di wilayah Indonesia bagian barat.

"Selain itu, kondisi atmosfer Indonesia yang labil menyebabkan massa udara lembab dari lapisan bawah cukup mudah untuk terangkat ke atmosfer," ucapnya.

Kedua faktor tersebut lanjutnya, menyebabkan peningkatan potensi pertumbuhan awan hujan di wilayah Indonesia bagian barat.

Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprakirakan dalam periode 24-26 Januari 2020, curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir berpotensi terjadi di wilayah Sumatera Utara, Sumatera Barat, Bengkulu, Jambi, Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan dan Papua.

Sementara untuk periode 27-29 Januari 2020, potensi hujan lebat berpeluang terjadi di Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Lampung, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan dan Papua.

Berdasarkan prakiraan berbasis dampak hujan lebat, status siaga potensi banjir/genangan pada 24-25 Januari 2020, perlu diwaspadai di wilayah sebagai berikut DKI Jakarta (siaga), Jawa Barat (siaga), Jawa Tengah (siaga), Sulawesi Tengah (siaga), Sulawesi Barat (siaga).

"Masyarakat diimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin," ungkap Prabowo.



Sumber: Suara Pembaruan