Warga Desak Tindak Lanjut Pencemaran Sungai Cileungsi-Bogor

Warga Desak Tindak Lanjut Pencemaran Sungai Cileungsi-Bogor
Temuan ikan sapu-sapu yang mati akibat pencemaran berat di sungai Cileungsi oleh Ombudsman RI Perwakilan Jakarta Raya, 27 Agustus 2019. ( Foto: Ombudsman Jakarta )
Heriyanto / HS Selasa, 10 Desember 2019 | 12:13 WIB

Bogor, Beritasatu.com - Pencemaran Sungai Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, masih terus berlangsung, meskipun sejumlah lembaga dan pemerintah sudah membuat rencana dan terjun langsung untuk mengatasinya. Pemerintah diminta lebih tegas karena berdampak ekonomi dan sosial kepada masyarakat di kawasan Gunung Putri dan Cileungsi, Bogor.

“Sejak tahun lalu kami mendengar dan membaca berbagai rencana pemerintah kabupaten, provinsi, dan tingkat pusat dalam menghentikan pencemaran di Sungai Cileungsi. Ironisnya, pencemaran tetap saja berlanjut,” kata warga Bogor yang juga pemerhati lingkungan Vayireh S kepada SP, Selasa (10/12).

Dikatakan, pemerintah seharusnya tetap mengacu pada berbagai aturan dan legalitas yang ada. Bukan sebaliknya, malah terlihat tidak berdaya menghadapi sejumlah industri atau pabrik yang terus membuang limbahnya.

Seperti diketahui, pada akhir Agustus lalu, Ombudsman RI Perwakilan Jakarta melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke sungai yang membentang di kawasan Gunung Putri dan Cileungsi, Bogor, tersebut. Namun, setelah tiga bulan mengangkat persoalan itu ke publik, pencemaran dari sejumlah industri dan limbah pabrik masih meresahkan warga sekitar.
Protes dan keluhan warga tentang pencemaran itu masih ada, sedangkan solusi dan tindak lanjut atas pelanggaran hukum dalam pencemaran itu juga belum jelas.

Informasi yang diperoleh SP menyebutkan pencemaran tidak saja terjadi pada sungai yang melintas di Kecamatan Cileungsi dan Kecamatan Gunungputri, tetapi hingga ke wilayah Kabupaten Bekasi. Demikian juga berdampak pada pemukiman dan sumber air warga di sekitar industri yang beroperasi.

Baca : Pemprov Jabar Ambil Alih Penanganan Pencemaran Sungai Cileungsi

Salah satu protes terakhir dilakukan sejumlah ibu rumah tangga dan karang taruna di Desa Dayeuh, Kecamatan Cileungsi karena terdampak akibat pencemaran sebuah pabrik aluminium, PT TWP. Protes dilakukan pada Rabu (4/12) karena dampak air limbah menyebabkan sumber air menjadi berwarna kuning yang diduga akibat pewarnaan logam alumunium.
Seperti diketahui, persoalan limbah masih menjadi masalah kronis Sungai Cileungsi sejak industri berkembang pada 2000-an. Perubahan penampilan mulai terjadi pada sungai yang membentang dari Kabupaten Bogor (hulu) hingga Kali Bekasi (hilir), Kota Bekasi di Jawa Barat itu.

Limbah industri tanpa diolah hasil kreasi sejumlah korporasi nakal, telah bersemayam dan meracuni air sungai. Puncaknya, dua tahun silam ketika gumpalan busa muncul mengalir hingga ke Kali Bekasi. Belakangan ini, air sungai berubah warna menjadi hitam pekat, juga bau yang menusuk hidung. Pada akhir Agustus lalu, Ombusdman Perwakilan Jakarta menurunkan tim dan menemukan ribuan ekor ikan mati. Pemkab Bogor dan Pemprov Jawa Barat didesak untuk menangani pencemaran tersebut. Inspeksi medadak (Sidak) Ombudsman dilakukan sebagai tindak lanjut dari LAHP (Laporan Akhir Hasil Pemeriksaan) tahun sebelumnya.

Ditemukan bahwa DLH (Dinas Lingkungan Hidup) Kabupaten Bogor tidak mampu menangani pencemaran lingkungan di sungai tersebut. Ombudsman sempat memeriksa dua industri yang tidak mengelola limbah mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) dan tak memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang baik. Akibat pencemaran ini, PDAM Bekasi sudah tak bisa mengambil air baku dari Sungai Cileungsi.

Pada awal Oktober lalu, Bupati Bogor Ade Yasin meninjau dan menelusuri Sungai Cileungsi di Desa Bojongkulur, Kecamatan, Gunungputri, Bogor. Terkait pencemaran ini, Pemkab Bogor juga sudah meminta Pemprov Jabar untuk membantu mengatasinya karena melibatkan sejumlah stakeholder antarkabupaten.



Sumber: Suara Pembaruan