Saldo Tak Berkurang, Kasatpol PP DKI Pertanyakan Sistem Bank DKI

Saldo Tak Berkurang, Kasatpol PP DKI Pertanyakan Sistem Bank DKI
Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta. ( Foto: Antara )
Lenny Tristia Tambun / JAS Senin, 18 November 2019 | 14:32 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Munculnya kabar 12 anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI melakukan pembobolan Bank DKI atau pencucian uang senilai Rp 32 miliar dan kini tengah diperiksa di Polda Metro Jaya, membuat Kepala Satpol (Kasatpol) PP DKI Arifin mempertanyakan sistem perbankan dari Bank DKI yang merupakan BUMD milik DKI ini.

Dijelaskannya, dari laporan yang ia terima sementara, 12 anggotanya itu mengambil uang di anjungan tunai mandiri (ATM) Bersama dengan rekening mereka di Bank DKI. Namun saat mereka sudah mengambil uang, ternyata saldo tidak berkurang. Mereka pun mencoba lagi mengambil uang untuk kedua kalinya. Dan saldo tetap tidak berkurang.

“Melihat saldonya tidak berkurang, padahal sudah diambil uangnya, kan jadi ada semacam penasaran. Makanya dicoba lagi. Nah yang jadi pertanyaannya kok bisa begitu. Itu juga perlu dipertanyakan ke pihak sana (Bank DKI) dong,” kata Arifin, Senin (18/11/2019).

Arifin menegaskan sekali lagi, tidak ada pencucian uang, korupsi atau pembobolan Bank DKI yang dilakukan oleh anggotanya. Yang terjadi hanyalah mereka mengambil uang di rekening Bank DKI melalui ATM Bersama. Namun saldo tidak berkurang meski uang sudah diambil.

Berdasarkan pengakuan anggotanya, kasus seperti ini sudah lama terjadi. Ada yang bilang sejak bulan Mei sampai Agustus. Yang menjadi pertanyaannya adalah, mengapa sistem Bank DKI bisa seperti itu dengan kasus yang terus berulang.

“Sekali lagi saya luruskan tidak ada itu pencucian uang dan korupsi ya. Tetapi mereka ambil uang tapi saldo tidak berkurang. Dan ini menurut pengakuan mereka sudah lama. Bukan dalam sekali ambil sebesar itu, tidak. Ada yang bilang sejak Mei, lanjut sampai Agustus. Kenapa pihak yang sana juga baru hebohnya sekarang. Itu juga jadi pertanyaan saya, sistem mereka seperti apa,” tegas Arifin.

Kendati demikian, agar kasus ini tidak terulang kembali, Arifin mengimbau jajarannya agar menghindari cara-cara yang tidak halal. Jika menemukan kesalahan sistem dalam rekening mereka, maka harus segera dilaporkan kepada pihak yang berwenang.

“Ya saya katakan pada jajaran saya untuk mensyukuri berapapun penghasilan yang didapat, berapapun itulah yang menjadi hak kita. Hindari cara-cara yang tidak baik, tidak halal. Kalau ada kerusakan harusnya melaporkan. Iya, harus seperti itu,” tukas Arifin.



Sumber: BeritaSatu.com