Pelaku Kasus Penyiraman Soda Api Frustrasi

Pelaku Kasus Penyiraman Soda Api Frustrasi
Polda Metro Jaya merilis sketsa wajah terduga pelaku kasus penyiraman cairan kimia terhadap dua siswi Sekolah Menengah Pertama (SMP), di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. ( Foto: Beritasatu Photo / Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / FMB Sabtu, 16 November 2019 | 18:28 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Polisi telah membekuk tersangka FY (29), pelaku kasus penyiraman cairan kimia di tiga tempat, di Jakarta Barat, Jumat malam. Pelaku diduga mengalami frustrasi atas pengalaman hidupnya.

Kendati demikian, berdasarkan hasil pemeriksaan kejiwaan sementara yang bersangkutan melakukan aksi teror itu secara sadar atau bisa mempertanggungjawabkan perbuatan dan tidak ditemukan halusinasi.

Psikolog Kasandra Putranto mengatakan, tersangka sudah menjalani pemeriksaan kejiwaan tadi pagi. Namun, hasilnya belum lengkap.

"Dari yang kami peroleh tadi, setidaknya bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya, artinya sadar. Tidak ditemukan adanya indikasi delusi atau halusinasi atau apaun yang bisa meragukan kesehatan jiwanya. Walaupun mungkin ada beberapa ciri khas khusus misalnya, keterbatasan kemampuan komunikasi atau membina hubungan interpesonal," ujar Kasandra, di Mapolda Metro Jaya, Sabtu (16/11/2019).

Dikatakan Kasandra, tersangka memiliki perasaan frustasi atas peristiwa yang pernah dialami, sehingga melampiaskannya kepada orang lain.

"Yang bersangkutan juga memiliki perasaan frustasi atas kejadian yang pernah dialami sebelumnya. Jadi sebelumnya pernah mengalami kecelakaan jatuh dari lantai tiga, lalu mengalami kesulitan untuk pembiayaan pengobatan. Nah karena rasa marah dan frustasinya dilampiaskan kepada orang lain dengan harapan orang lain merasakan apa yang dia rasakan," ungkap Kasandra.

Soda Api, Cairan Kimia yang Dipakai Pelaku Teror di Jakbar

Menyoal apakah memang menargetkan korban perempuan, Kasandra menilai, tidak ada sasaran khusus. Namun, mungkin karena perempuan lemah sehingga lebih mudah.

"Memang sebenarnya mungkin karena ketidakberdayaan, akhirnya menjadi pilihan. Tapi sebenarnya, kalau dari pelaku sendiri tidak ada tujuan khusus, sasaran khusus bahwa memang mengejar perempuan atau anak perempuan. Jadi memang secara acak. Kebetulan saja, mungkin ketika sedang melakukan aksinya ya, yang paling mudah menjadi korban adalah anak perempuan barangkali karena lengah atau sedang tidak konsentrasi. Memang korbannya kebanyakan perempuan, tapi secara khusus tidak ada intensi bahwa korbannya perempuan," katanya.

Sementara itu, Panit II Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKP Adi menuturkan, penyidik masih mendalami kemungkinan adanya motif lain dari tersangka terkait aksi teror yang dilakukannya.

"Motif untuk lebih dalamnya masih pendalaman ditingkat penyidikan kami. Jadi memang dilakukan secara acak, kemudian adanya dorongan dari kejiwaannya," katanya.

Berdasarkan catatan, telah terjadi tiga kali kasus penyiraman cairan kimia, di Jakarta Barat. Kasus pertama menimpa dua siswi SMP bernama Aurel dan Prameswari. Mereka menjadi korban penyiraman cairan kimia oleh orang tak dikenal menggunakan sepeda motor, ketika pulang sekolah, di Jalan Kebon Jeruk Raya, Jakarta Barat, Selasa (5/11/2019) kemarin.

Cairan kimia itu membuat korban Aurel menderita luka bakar di bahu, badan dan tangan. Sementara, rekannya Prameswari mengalami luka ringan di bagian tangan.

Tiga hari berselang, Jumat (8/11/2018), seorang pedagang sayur bernama Sakinah (60) juga mengalami peristiwa penyiraman cairan kimia ketika dirinya berjalan pulang ke rumah setelah berdagang, di kawasan Meruya. Korban mengalami luka bakar di punggung, leher dan kening.

Terakhir, enam pelajar SMPN 207 Jakarta, menjadi korban penyiraman cairan kimia, di Jalan Mawar, Srengseng, Kembangan, Jakarta Barat, Jumat (15/11/2019) siang. Beruntung, para korban hanya mengalami luka ringan terkena cairan kimia yang juga berceceran dan meninggalkan bekas di jalan itu.



Sumber: BeritaSatu.com