Dokter yang Ditangkap Kasus Ninoy Buka Suara

Dokter yang Ditangkap Kasus Ninoy Buka Suara
Ilustrasi dokter. ( Foto: Istimewa )
Bayu Marhaenjati / WBP Kamis, 17 Oktober 2019 | 17:15 WIB

Jakarta, Beritasatu.com -Polisi mengamankan seorang dokter berinisial IZH, terkait kasus penganiayaan terhadap pegiat media sosial Ninoy Karundeng. Merespons hal itu, pengacara IZH menyampaikan, kliennya sedang menjalankan tugas dan profesinya ketika peristiwa penganiayaan itu terjadi, di Masjid Al-Falah Pejompongan, Jakarta Pusat. Seorang dokter yang sedang menjalankan tugas dilindungi secara hukum oleh Undang-undang (UU) Praktik Kedokteran.

Gufroni selaku pengacara IZH menilai, penetapan tersangka terhadap kliennya yang menjadi tim medis di Masjid Al-Falah dinilai tidak memperhatikan nilai-nilai etik profesi kedokteran yang diatur dalam UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran.

"Dalam Pasal 66 UU Praktik Kedokteran ditegaskan terhadap dugaan pelanggaran undang-undang seorang dokter yang sedang menjalankan tugas profesinya diadukan dan diputuskan oleh Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI)," ujar Gufroni dari Majelis Hukum dan HAM (MHH) PP Muhammadiyah, Kamis (17/10/2019).

Ini Alasan Polisi Tangkap Dokter IZH di Kasus Ninoy

Terlebih lagi, tambah Gufroni, telah ada nota kesepahaman antara Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Kapolri tahun 2017 terkait dokter yang dilaporkan kasus pidana, sebagai tindak lanjut dari UU Praktik Kedokteran. "Apalagi dokter IZH merupakan salah satu anggota atau member dari IDI organisasi para dokter bernaung," ungkap Gufroni.

Seorang Dokter Turut Ditangkap Terkait Kasus Ninoy

Gufroni menyampaikan, berdasarkan keterangan, kliennya berada di Masjid Al-Falah, dalam konteks sedang menjalankan tugas profesinya sebagai dokter yang memberi pengobatan kepada pelajar yang terluka karena aksi unjuk rasa, termasuk mengobati Ninoy Karundeng. "Seorang dokter yang sedang menjalankan tugas profesinya dilindungi secara hukum oleh UU Praktik Kedokteran," kata Gufroni.

Gufroni berharap, kepolisian meninjau kembali penetapan tersangka terhadap kliennya, dan membawa laporan kasus itu terlebih dahulu ke MKDKI untuk diproses terkait ada tidaknya pelanggaran yang dilakukan dokter IZH.

"Jika MKDKI memutuskan ada pelanggaran etik profesi, kuasa hukum mempersilahkan proses hukum berjalan. Tetapi jika MKDKI memutuskan tidak ada pelanggaran, dokter IZH harus dibebaskan dari segala sangkaan atau tuduhan," tandas Gufroni.



Sumber: BeritaSatu.com