Terduga Teroris di Cilincing Sudah Siap Ledakkan Bom

Terduga Teroris di Cilincing Sudah Siap Ledakkan Bom
Barang bukti yang diamamankan polisi dalam penggrebekan yang dilakukan anggota Densus 88 Mabes Polri di Jalan Kavling Tipar Timur Nomor 14 Blok VI, RT13/RW04, Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Kota Jakarta Utara Senin pagi, 23 September 2019. ( Foto: Suara Pembaruan/Carlos Roy Fajarta )
Carlos Roy Fajarta / CAH Senin, 23 September 2019 | 11:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Densus 88 mengamankan total delapan tersangka dalam penggerebekan yang dilakukan anggota Densus 88 Mabes Polri di dua lokasi berbeda di Jakarta Utara. Satu tersangka diantaranya diciduk di Jalan Kavling Tipar Timur Nomor 14 Blok VI, RT13/RW04, Kelurahan Semper Barat, Kecamatan Cilincing, Kota Jakarta Utara Senin (23/9/2019) pagi. 

Ia menyebutkan komplotan tersangka berencana akan melakukan pengeboman. Namun pihaknya belum mendapatkan informasi yang jelas akan di bom dimana.

"Kita masih lakukan pendalaman jenis bom yang sudah siap ada di dalam rumah, akan kita evakuasi. Agar tidak membahayakan warga sekitar. Kita membenarkan ada jaringan terduga teroris baik yang di Bekasi dan Cilincing ini," tambah Argo kepada awak media di lokasi Taman Laba-laba depan kediaman rumah tersangka didampingi Kapolres Metro Jakarta Utara, Kombes Pol Budhi Herdi Susianto.

Ia menyebutkan di rumah tersangka didapat sebuah surat yang berisikan pamitan bahwa dirinya melakukan pengeboman. Tersangka memang diduga akan melakukan pengemboman. Pihak kepolisian masih mendalami peran tersangka Arsad apakah sebagai pengantin atau pembuat bom.

"Tersangka sudah diamankan oleh pihak Densus," tandasnya.

Sementara itu, Evi (58) salah satu warga di lokasi rumah tersangka menyebutkan tersangka Arsad yang merupakan warga asli Makassar diketahui melakukan syukuran di masjid pada 2018 lalu tersangka pulang ke pondok

Istri tersangka juga diketahui selalu menggunakan jilbab bercadar penuh di lingkungan sekitar rumah.

Baca juga: Densus 88 Gerebek Rumah Terduga Teroris

"Jadi dia syukuran di masjid sempet minta surat pengantar nikah, kemudian kembali ke pondok pesantren. Si Arsad ini keluar masuk rumah sakit selama ini, soalnya dia gejala Lupus," kata Evi

Sementara itu Abdul Ghani (69) ayah tersangka menyebutkan anaknya yang bekerja di pabrik sabun disekitar KBN. Arsad merupakan anak ke-9 dari 11 bersaudara. Ia sekeluarga sudah tinggal di rumah tersebut sejak 1974.

"Anak saya itu tertutup, diajak ngomong juga susah. Dia nikah tidak lama cuman beberapa hari saja. Sempat pisah rumah, diusir istrinya. Padahal dia nikah itu semua kita keluarga repot patungan. Memang dia ada sakit kayak Paru-paru begitu pas berobat pakai BPJS," kata Abdul.

Ia mengaku baru pertama kali melihat benda-benda yang diduga bom di dalam rumah yang disembunyikan dalam lemari pakaian di kamarnya tersebut.

"Dia biasanya ikut pengajian di Masjid di daerah Bekasi. Di rumah terus, kalau saya nanya juga diem-diem saja. Dengan adanya kejadian begini saya malu dan kesal juga," tambah Abdul. 



Sumber: Suara Pembaruan