Polisi Gagalkan Penyelundupan Kosmetik dan Suku Cadang Senilai Rp 67 Miliar

Polisi Gagalkan Penyelundupan Kosmetik dan Suku Cadang Senilai Rp 67 Miliar
Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono memberikan keterangan pers pengungkapan penyelundupan kosmetik, obat, suku cadang kendaraan, dan barang elektronik ilegal, di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Rabu (14/8/2019). ( Foto: Beritasatu.com / Bayu Marhaenjati )
Bayu Marhaenjati / AMA Rabu, 14 Agustus 2019 | 12:11 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Aparat Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya menggagalkan penyeludupan kosmetik, obat-obatan, suku cadang kendaraan, dan barang elektronik ilegal asal Tiongkok senilai Rp 67 miliar, di Pelabuhan Tegar -Marunda Center Terminal-, Tarumajaya, Bekasi dan Perumahan Dadap Residence, Kosambi, Tangerang Kota.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono di Jakarta, Rabu (14/8/2019) mengatakan, penyidik menangkap empat tersangka dalam pengungkapan kasus barang-barang ilegal itu. Mereka berinisial PL (63) -sudah menjalankan aksi selama 8 tahun-, H (30) -menjalankan aksi selama 8 tahun-, EK (44) -menjalankan aksi selama 5 tahun-, dan AH (40), warga negara Republik Rakyat Tiongkok, -menjalankan aksi selama 1 tahun-.

"Tersangka ada empat orang, salah satunya warga negara asing dari RRT, dan mereka semua sudah dilakukan penahanan," ujar Gatot Eddy Pramono, di Mapolda Metro Jaya.

Gatot Eddy Pramono menyampaikan, pengungkapan kasus ini bermula dari informasi yang diterima anggota Ditreskrimsus, kemudian dilaksanakan penyelidikan dan pengungkapan pada tanggal 27 Juli, 29 Juli dan 7 Agustus 2019.

"Setelah penyelidikan dan A1, dilaksanakan penindakan. Barang-barang yang dilakukan penindakan dan disita berupa alat-alat kosmetik, obat-obatan, suku cadang kendaraan, dan barang elektronik," ungkap Gatot Eddy Pramono lagi.

Barang-barang ilegal yang berasal dari Tiongkok itu, kata dia, masuk ke Indonesia tanpa izin Balai POM dan izin edar, sehingga tidak tahu apa kandungan dan kualitas barang, dan dapat berdampak pada kesehatan. "Kedua, barang-barang ini masuk tanpa bayar pajak sehingga negara dirugikan," kata Gatot Eddy Pramono.

Barang bukti yang disita antara lain 1.024.193 picis kosmetik dan obat-obatan berbagai jenis dan merek; 4.350 bungkus bahan pangan; 774.036 picis suku cadang (sparepart) berbagai jenis kendaraan; 48.641 picis berbagai jenis barang elektronik; dan dekapan unit kendaraan truk besar jenis Fuso.

"Barang yang diamankan itu senilai Rp 67 miliar. Kerugian negara yang dihitung Rp 17 miliar. Itu sekali meraka memasukkan barang. Kalau itu dimasukkan empat kali dalam satu bulan bisa mencapai Rp 68 miliar, kalau setahun Rp 818 miliar," jelasnya.

Menurut Gatot, para pelaku ada yang sudah menjalankan aksi selama 8 tahun, 5 tahun dan 1 tahun. "Tentunya hitungannya bukan miliaran lagi, (8 tahun) bisa 6,4 triliun lebih. Ini satu kelompok," sebutnya.

Menyoal apakah masih ada kelompok lain, Gatot menerangkan, penyidik masih melakukan pengembangan dan pendalaman. Namun, apabila ada, penyidik akan melakukan tindakan tegas.

"Kami tidak akan main-main dengan kelompok ini karena merugikan kesehatan, dan kedua merugikan pemasukan negara kita. Barang bukti ini berasal dari satu jaringan, dari China, dibawa ke Malaysia, masuk Kalimantan Barat, masuk ke Jakarta melalui pelabuhan Marunda dan kita ambil di gudang Perumahan Dadap. Kegiatan ini akan terus kita gelorakan ke depannya supaya pemasukan negara akan bertambah, dan produk ilegal bisa diminimalisir. Sehingga produk dalam negeri bisa bersaing, menumbukhkan industri masyarakat kita di dalam negeri," tandasnya.



Sumber: BeritaSatu.com