James Riady Makan Siang Bersama Pengungsi di Kalideres

James Riady Makan Siang Bersama Pengungsi di Kalideres
Pendiri Yayasan Pendidikan Pelita Harapan sekaligus WKU KADIN Indonesia Bidang Pendidikan dan Kesehatan James Riady (kedua dari kiri) bersama dengan Ketua Dewan Pers Nasional Mohammad Nuh (keempat dari kiri) serta Senior Protection Officer UNHCR Julia Zajkowski (ketiga dari kiri), Assistant Protection Officer UNHCR Isa Soemawidjaja (kiri) ikut dalam perayaan Hari Raya Idul Adha di Pengungsian Kalideres dengan makan siang bersama 1151 pengungsi, Jakarta, Selasa 13 Agustus 2019. Program Helping Hands Outreach dengan menyediakan paket makan siang berupa nasi kari kambing lebih dari 1151 paket makan siang ini menjadi wujud berbagi dengan sesama dalam merayakan Hari Raya Idul Adha. ( Foto: BeritaSatu Photo / Emral Firdiansyah )
Bayu Marhaenjati / HA Selasa, 13 Agustus 2019 | 18:42 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Para pencari suaka turut merasakan semangat kebersamaan dan indahnya berbagi kepada sesama manusia selama perayaan Iduladha, di Indonesia. Mereka menyantap menu makan siang berbeda kali ini, yakni gulai kambing dan sapi, di tempat penampungan sementara, Jalan Bedugul, Komplek Daan Mogot Baru, Kalideres, Jakarta Barat, Selasa (13/8/2019).

Bantuan kemanusiaan itu diberikan langsung oleh Pendiri dan Ketua Pembina Universitas Pelita Harapan (UPH) James T Riady bersama Ketua Dewan Pers Muhammad Nuh, kepada para pengungsi pencari suaka.

"Kita melihat 1.000 sekian saudara-saudara kita dari berbagai negara, dari Afganistan, Somalia dan lainnya. Mereka beragama Islam dan mereka juga merayakan Hari Raya Iduladha. Jadi hari ini, kita menunjukkan kebersamaan, kita siapkan gulai kambing sama nasi, makan bersama dengan mereka," ujar James di tempat penampungan sementara pengungsi pencari suaka, Jalan Bedugul, Komplek Daan Mogot Baru, Kalideres, Jakarta Barat.

Dikatakan James, pada saat ini, mereka hanya dapat menunggu kapan bisa berada di negara akhir untuk ditinggali seperti Australia, Kanada, Amerika dan lainnya.

"Mereka pada akhirnya hanya menantikan satu hal, kapan bisa tiba di negara akhir, negara yang dijanjikan untuk mereka ditempatkan, Australia, New Zealand, Kanada, Amerika ya. Prosesnya lambat sekali. Banyak di antara mereka yang sudah empat-lima tahun, ada yang tujuh tahun, dan mereka setiap hari menunggu, menunggu, dan menunggu. Kan itu kasihan juga. Jadi jika kita bisa memperhatikan sedikit saja kesehatan mereka, pendidikan mereka, anak-anak mereka, setidaknya memberikan mereka satu harapan, supaya mereka tidak mudah menyerah," ungkap James.

Menurut James, sesungguhnya kondisi para pengungsi saat ini tidak lebih baik dibanding negara asalnya. Mereka tinggal di tempat penampungan yang sempit dan tidak nyaman.

"Sering kali mata kita tidak melihat yang sesungguhnya. Dan banyak di antara mereka saya kenal, tentu (kondisinya) lebih baik. Tapi sesungguhnya kan secara mendalam itu kan tidak lebih baik. Karena mereka setiap hari tumbuh kan, kesehatan mereka juga tidak selalu dalam kondisi prima. Apalagi mereka punya keluarga, anak, ibu tua, tidak mudah ya. Tempat tinggal yang begitu kecil, berdesakan, berjejeran tidur malam, nyamuk, panas. Anak-anak tengah malam pada nangis. Dari 1.100 lebih hampir 300 balita, jadi malam pasti nangis, ibunya bangun, kasih makan, masakin sesuatu, semua itu terjadi dalam kamar yang sama. Sudah pasti malam-malam itu sulit tidur," katanya.

"Jadi siang hari mereka juga lelah. Di saat lelah mereka harus cuci baju, mereka mencari tempat mandi. Di sini hanya ada 10 toilet untuk 1.150 orang, kan kurang sekali. Dan, tidak ada tempat shower untuk mandi. Jadi ngantrenya lama. Orang tua yang tidak bisa bergerak, banyak yang tidak bisa bergerak, anaknya atau saudaranya harus mengangkat mereka. Kondisinya seperti itu," tambahnya.

James menuturkan, para pengungsi berasal dari negara yang mengalami perang seperti Afganistan, kemudian konflik etnis, agama, dan sebagainya. "Mereka mengatakan di sini, ya masih oke dibanding di sana. Tapi kita tahu tidak layak, tidak layak berada di tempat yang kecil ini, dan tidak layak juga di tengah-tengah tempat pemukim, dan tidak sehat."

James menyampaikan, pemerintah sudah mengambil keputusan politis untuk memindahkan para pengungsi. Namun, sedang dicari tempat yang lebih permanen.

"Selama itu belum terjadi, ya kami-kami dan warga melakukan apa yang kami bisa untuk menunjukan kami juga peduli. Supaya mereka bisa mencicipi sentuhan. Saya tidak meragukan, mereka-mereka itu secara umum bukan kriminal. Mereka orang-orang yang punya talenta, punya kemampuan, punya keinginan yang besar untuk maju dalam hidup, dan mereka akan berada dalam satu negara asing suatu hari. Mereka semua akan berada di negara-negara di dunia, dan nggak tahu masih tunggu berapa lama. Pada saat mereka sudah ditempatkan di negara yang ditentukan, mereka akan membicarakan betapa baiknya orang Indonesia," tandas James.

Sementara itu, M Nuh menilai, permasalahan para pencari suaka merupakan persoalan kemanusiaan lintas etnik, lintas suku dan lintas bangsa.

"Karena itu, apa yang dilakukan pak James dan lainnya merupakan sentuhan kemanusian. Minimal memberikan, memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya mendasar," kata Nuh.

Nuh mengungkapkan, ada tiga persoalan utama yang dihadapi saat ini. Pertama adalah persoalan makan dam minum.

"Kedua, kebutuhan tempat tinggal. Dengan 1.100 sekian dan lokasi seperti ini, ya memang sangat terbatas. Tapi ini yang bisa diupayakan. Karena itu, dukungan terhadap tempat ini mulai MCK (mandi, cuci, kakus) dan seterusnya itu juga harus kita penuhi," katanya.

Ketiga, tambah Nuh, mereka bukan hanya butuh tempat tinggal, makan dan minum, tapi juga mengeksplorasi apa yang ada di dalam dirinya.

"Sehingga apa yang dilakukan, memberikan kesempatan pendidikan meskipun tidak formal bagi anak-anak itu sungguh luar biasa. Karena itu kami mau mengajak masyarakat Indonesia, meskipun kita juga punya persoalan sendiri, tapi ini pun juga bagian masalah yang harus kita selesaikan, dasarnya adalah kemanusiaan," terangnya.

Nuh menegaskan, ke depan perlu solusi permanen karena para pengungsi tidak bisa hidup terus menerus seperti ini.

"Ini kan solusi-solusi temporer, ujungnya harus ada solusi permanen. Karena mereka tidak bisa bertahun-tahun kayak begini terus. Sehingga harus dicari, duduk barang antara lembaga-lembaga internasional seperti UNHCR dengan pemerintahan dan seterusnya untuk mencari solusi permanen. Tidak bisa terus menerus kayak begini, kalau begini terus masa depannya kayak apa. Karena itu yang harus didorong sekarang duduk bareng mencari solusi permanen. Tapi solusi temporernya tetap harus jalan, karena mereka semua juga butuh untuk menyambung hidup," katanya.

Pada kesempatan itu, James dan Nuh nampak makan siang bersama dengan para pencari suaka di pelataran gedung penampungan sementara.



Sumber: BeritaSatu.com