Diduga Tercemar, Air Sungai Cileungsi Terlihat Hitam Pekat dan Bau

Diduga Tercemar, Air Sungai Cileungsi Terlihat Hitam Pekat dan Bau
Air Sungai Cileungsi terlihat hitam pekat, berbau busuk menyengat, serta berbusa sejak beberapa hari belakangan ini. ( Foto: Beritasatu Photo / Vento Saudale )
Mikael Niman / JAS Sabtu, 20 Juli 2019 | 17:30 WIB

Bekasi, Beritasatu.com - Sungai Cileungsi, di Kabupaten Bogor berbatasan dengan Kota Bekasi, kembali tampak hitam pekat dan berbau busuk menyengat, sejak beberapa hari belakangan ini. Diduga kuat, pencemaran limbah kembali terjadi di sungai tersebut.

"Baunya semakin menyengat dan air tampak hitam pekat," kata Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C), Puarman, Sabtu (20/7/2019).

Dia mengatakan, pihaknya turun langsung ke bibir sungai pagi tadi dan menegaskan sungai tersebut kembali tercemar. "Kami harus memakai masker untuk mengurangi bau menyengat," tuturnya.

Dia mengatakan, warga yang bermukim di sekitar Sungai Cileungsi mengeluhkan bau menyengat hingga berjarak 100 meter dari pinggir sungai.

Melalui pesan berantai media sosial, termasuk WhattApps, warga memviralkan kondisi tersebut dan sekaligus melaporkan kepada KP2C.

"Kami sempat mengecek mulai dari Jembatan Cikuda Wanaherang, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor hingga wilayah Curug Parigi di Vila Nusa Indah 5, perbatasan Kabupaten Bogor dan Kota Bekasi," katanya.

Bahkan, warga yang sedang hamil sampai muntah-muntah tidak tahan mencium bau busuk menyengat dari sungai.

Kejadian ini selalu terjadi setiap tahun saat debit Sungai Cileungsi surut karena musim kemarau.‎ "Diduga penyebab menghitam dan baunya air sungai karena buangan limbah industri dan limbah rumah tangga ke Sungai Cileungsi," imbuhnya.

KP2C mengakui sejak akhir tahun 2018 pemerintah telah melakukan berbagai upaya mengatasi pencemaran di Sungai Cileungsi. Tetapi, perlu langkah lebih tegas dan keras lagi terhadap oknum yang membuang limbah ke sungai.

"Inilah ironi yang terjadi Sungai Cileungsi. Jika musim hujan terjadi banjir. Ketika musim kemarau, sungai menghitam dan sangat berbau," pungkasnya.



Sumber: Suara Pembaruan