Berkurangnya Kemacetan di Jakarta Diklaim Akibat Delapan Program Ini

Berkurangnya Kemacetan di Jakarta Diklaim Akibat Delapan Program Ini
Kemacetan Jakarta. ( Foto: Antara / Aprilio Akbar )
Lenny Tristia Tambun / MPA Senin, 17 Juni 2019 | 19:26 WIB

 

Jakarta, Beritasatu.com - Pemerinfah Provisni (Pemprov) DKI menyambut baik hasil laporan Indeks Lalu Lintas Tomtom yang menyatakan tingkat kemacetan lalu lintas di Kota Jakarta mengalami penurunan sebanyak 8 persen.

Menurut laporan itu, pada 2018 ini tingkat kemacetan menurun, dari 61 persen pada 2017 menjadi 53 persen pada 2018. Kondisi ini menempatkan Jakarta dalam peringkat tujuh yang paling tercemar di dunia, naik dari peringkat keempat pada 2017.

TomTom mencatat Senin, 18 Juni 2018, menjadi hari dengan tingkat kemacetan terendah di Jakarta. Adapun kemacetan terburuk di Jakarta tahun lalu terjadi pada Kamis, 15 Februari 2018.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan DKI, Sigit Widjatmoko mengatakan hasil survei yang dikeluarkan Indeks Lalu Lintas Tomtom berdasarkan perkembangan pembangunan infrastruktur di bidang transportasi yang di inisiasi oleh Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan.

“Hasil survei Tomtom tersebut adalah berdasarkan perkembangan pembangunan di bidang transportasi oleh Pak Gubernur. Hasil survei yang dilakukan juga berdasarkan prinsip prinsip ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan,” kata Sigit Widjatmoko, Senin (17/6/2019).

Pengurangan kemacetan di Jakarta yang cukup signifikan, dinilainya diakibatkan delapan program pembangunan yang dilakukan Pemprov DKI selama ini.

Ketujuh program tersebut, diantaranya pertama, telah beroperasinya beberapa underpass dan flyover yang sudah rampung dibangun Pemprov DKI.

Sepanjang tahun 2018, Pemprov DKI telah membangun empat flyover (jalan layang) dan tiga underpass (jalan bawah tanah) sepanjang tahun 2018. Dengan alokasi anggaran sebesar Rp 92 miliar.

Empat FO yang akan dibangun adalah, pembangunan simpang tak sebidang atau FO Cipinang Lontar dengan anggaran Rp 13 miliar, pembangunan FO Pancoran sebesar Rp 15 miliar, pembangunan simpang tak sebidang Lenteng Agung-IISP sebesar Rp 618,3 juta, dan pembangunan simpang tak sebidang Bintaro Permai-Rel KA sebesar Rp 14,8 miliar.

Kemudian untuk tiga UP yang akan dibangun adalah, pembagnunan UP Senen Extension sebesar Rp 616,9 juta, pembangunan UP Mampang-Kuningan dengan anggaran Rp 33 miliar dan pembangunan UP Matraman-Salemba Rp 15 miliar.

Kemudian rencana akan dibangun simpang tak sebidang Lenteng Agung-IISIP dan UP Senen Extension.

Program kedua, adalah penutupan perlintasan sebidang kereta rel listrik (KRL). Hingga saat ini sebanyak 14 perlintasan kereta api sebidang sudah ditutup Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Pemprov DKI menargetkan 19 perlintasan sebidang lagi yang secara bertahap juga akan ditutup.

“Program ketiga adalah kebijakan pembatasan kendaraan bermotor dengan sistem nomor polisi ganjil-genap yang diperluas area penerapannya dan diperpanjang waktunya,” ujar Sigit Widjatmoko.

Kebijakan pembatasan lalu lintas dengan sistem ganjil-genap diperpanjang pada 2019. Perpanjangan ini mulai berlaku pada 2 Januari 2019.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah menetapkan pemberlakuan aturan ganjil-genap itu melalui Peraturan Gubernur Nomor 155 Tahun 2018 tentang Pembatasan Lalu Lintas dengan Sistem Ganjil-Genap pada Senin (31/12/2018).

Dengan pergub tersebut, ganjil-genap tetap berlaku di Jalan Medan Merdeka Barat, MH Thamrin, Sudirman, Gatot Subroto, sebagian Jalan Jenderal S Parman dari ujung simpang Jalan Tomang Raya sampai Simpang KS Tubun. Selanjutnya, Jalan MT Haryono, HR Rasuna Said, DI Panjaitan, dan Jalan Ahmad Yani.

Sistem ganjil-genap berlaku Senin-Jumat, mulai pukul 06.00-10.00 dan pukul 16.00-20.00. Aturan ini tidak berlaku pada Sabtu, Minggu, dan hari libur nasional.

Program keempat, redesign Jalan MH Thamrin dan Jend Sudirman sehingga semakin lebar tanpa adanya jalur lambat. Dengan demikian, orang semakin banyak yang berjalan kaki dengan aman dan nyaman.

Program kelima, adanya program Jaklingko yang merangkul angkutan umum dalam manajemen Dishub DKI sehingga tidak ngetem sembarangan karena sudah mengacu pada sistem rupiah per kilometer.

“Program keenam membuka rute-rute baru untuk area layanan Transjakarta,” ungkap Sigit Widjatmoko.

Adapun , PT TransJakarta menargetkan penambahan armada dari 2.100 unit menjadi 3.558 unit pada 2019. Jumlah rute pun juga akan ditambah yang pada 2018 mencapai 163 rute menjadi 236 rute, sedangkan total pelanggan pun ditargetkan meningkat dari 189,7 juta menjadi 231,8 juta pelanggan. Peningkatan yang paling signifikan terdapat di moda Jak Lingko yang ditargetkan memiliki 1.441 unit, 63 rute, dan 11 operator.

Ketujuh, menugaskan PT Transjakarta untuk berintegrasi dengan angkutan perkotaan dan mewadahi program JakLingko. Seperti terintegrasi dengan MRT Jakarta, LRT Jakarta dan Commuter Line.

“Kedelapan, bersama dengan Stake holder terkait, baik BPTJ maupun Dishub di kawasan Bodetabek untuk bersama sama mengembangkan transportasi dari dan ke daerah pemukiman ke kota serta ke bandara,” tuturnya.

Dengan semua program tersebut yang akan terus berkembang dan diterapkan oleh Pemprov DKI, Sigit Widjatmoko mengharapkan pada survey tahun 2019 nanti akan semakin besar persentase penurunan kemacetannya.

“Karena MRT sudah beroperasi, disusul dengan LRT, dan integrasi angkutan umum dalam program Jaklingko bersama Transjakarta sudah berjalan,” pungkas Sigit Widjatmoko.



Sumber: BeritaSatu.com