Kolaborasi, Kunci Utama Kabupaten Siak Cegah Karhutla

Kolaborasi, Kunci Utama Kabupaten Siak Cegah Karhutla
Bupati Siak, Alferdi (berpeci), tengah diwawancara media seusai acara diskusi 'Kabupaten Hijau, Upaya Siak Cegah Karhutla' di Jakarta, Selasa 8 Oktober 2019. ( Foto: Beritasatu Photo / Istimewa )
Feriawan Hidayat / FER Selasa, 8 Oktober 2019 | 14:58 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kawasan terparah yang mengalami kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Indonesia adalah Provinsi Riau. Menurut angka sementara BPBD Riau, area terbakar mencapai 50.730 hektare, dengan jumlah titik panas atau hotspot mencapai sekitar 8.168 titik, dengan 72 persen di antaranya terjadi di areal lahan gambut.

Baca Juga: BIG-KLHK Susun Peta Rawan Karhutla

Kabupaten Siak, seperti halnya beberapa kawasan lain di Provinsi Riau juga mengalami peristiwa karhutla. Jumlah hotspot di Kabupaten Siak tahun 2019 ini mencapai 493 titik. Namun, dari segi presentasi hotspot di kabupaten Siak merupakan salah satu yang terendah di Provinsi Riau, yaitu hanya sekitar 6 persen.

Padahal, Siak merupakan kabupaten dengan lahan gambut terbesar di Pulau Sumatera. Lebih dari separuh atau 57 persen luas kawasan Kabupaten Siak berupa lahan gambut, yaitu mencapai area seluas 479.485 hektare. Dari total seluruh kawasan gambut tersebut, 21 persen di antaranya adalah lahan gambut dalam, dengan kedalaman 3 meter hingga 12 meter.

Bupati Siak, Alferdi, mengungkapkan, rendahnya persentasi hotspot merupakan hasil dari upaya pencegahan karhutla yang diupayakan dari tahun ke tahun. Kabupaten Siak telah mendorong upaya pemanfaatan lahan agar lahan terjaga. Upaya-upaya tersebut tidak hanya berupa kerja pemerintah daerah, namun juga melibatkan masyarakat, mitra pembangunan dan pemerintah kabupaten, organisasi masyarakat sipil, juga pihak swasta yang dipayungi oleh Peraturan Bupati (Perbup) Nomor 22/2018 mengenai Inisiatif Siak Hijau.

"Peraturan Siak Hijau ini menjadi pedoman bagi pemerintah daerah Siak, masyarakat, juga pihak swasta dalam melakukan pengelolaan sumberdaya alam yang berkelanjutan, demi kesejahteraan masyarakat Siak,” ujar Alferdi, dalam acara diskusi 'Kabupaten Hijau, Upaya Siak Cegah Karhutla' di Jakarta, Selasa (8/10/2019).

Baca Juga: KLHK Segel 62 Lahan Perusahaan yang Terbakar

Setelah peristiwa karhutla yang masif di tahun 2015, Kabupaten Siak mulai berbenah melakukan tahap tahapan pembuatan peta jalan (road map) Kabupaten Siak Hijau pada tahun 2016. Bekerja sama dengan organisasi masyarakat sipil yang tergabung dalam Saudagho Siak, menganalisis apa saja penyebab terjadinya kebakaran hutan dan lahan, serta meninjau dan mengembangkan peraturan-peraturan daerah untuk mencegah dan mengatasi karhutla. Di tahun 2017, Kabupaten Siak menggandeng pihak swasta dan pengusaha kecil untuk menerapkan Good Agriculture Practice (GAP) untuk pengelolaan kebun sawit yang berkelanjutan.

"Peraturan Siak Hijau menjadi komitmen kami di Kabupaten Siak, untuk melakukan pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang berkelanjutan, serta upaya penting bagi kami untuk mencegah dan melakukan penanganan karhutla. Termasuk kami sudah tidak mengizinkan penebangan kayu alam, dan tidak lagi memberikan pembukaan konsesi lahan perkebunan sawit. Saat ini, kami sedang mengembangkan lahan Tanah Objek Reforma Agraria (TORA), intesifikasi komoditas pertanian di lahan gambut seperti Sagu, Kayu Mahang dan juga Aren," tegas Alferdi.

Kepala Badan Restorasi Gambut (BRG), Nazir Foead, mengatakan, pengembangan daerah TORA merupakan salah satu upaya mencegah terjadinya kebakaran, terutama di lahan gambut.

“Selain upaya untuk terus menjaga ketinggian muka air, kunci pencegahann kebakaran lahan gambut adalah memastikan lahan-lahan TORA itu tetap produktif. Karena bila memberikan manfaat ekonomi, otomatis masyarakat akan tetap menjaga lahan dan memahami pentingnya pertanian dan perkebuman di lahan gambut tanpa mengeringkan lahan gambut,” kata Nazir.

Baca Juga: Pembasahan Lahan Gambut Prioritas Utama Cegah Karhutla

Perwakilan dari koalisi mitra pembangunan Kabupaten Siak, Saudagho Siak, Susanto Kurniawan, menyampaikan, upaya pencegahan karhutla di Kabupaten Siak dapat didukung berbagai karena adanya peraturan yang menjadi pedoman.

“Peraturan Bupati tahun 2018 adalah acuan bersama bagi siapapun dalam pembangunan berkelanjutan di kabupaten Siak. Banyak langkah yang dilakukan untuk mendukung inisiatif Siak Hijau, seperti mendorong kabupaten untuk melakukan tata kelola hutan dan lahan gambut, mendorong perhutanan sosial, membangun demplot-demplot tanaman yang ramah gambut. Selain itu didorong juga pengembangan ekowisata. Harapannya kegiatan-kegiatan ekonomi dapat mendukung pencegahan karhutla langsung oleh masyarakat,” tandas Susanto.

Inisiatif Siak Hijau ini juga didukung oleh beberapa perusahaan yang tergabung dalam CORE (aliansi sektor swasta di Siak), di antaranya Unilever, Musim Mas, Cargil, Unilever, Pepsico, Neste dan Danone. Dukungan dari perusahaan-perusahaan ini ditunjukan melalui komitmen mereka dalam pelaksanaan NDPE (No-Deforestation, Peat, and Exploitation) yang lebih efektif, khususnya pada empat topik utama, deforestasi, restorasi gambut, dukungan pada pekebun dan HAM.

 



Sumber: BeritaSatu.com