Edukasi kepada Masyarakat dan TNI Penting untuk Cegah Karhutla

Edukasi kepada Masyarakat dan TNI Penting untuk Cegah Karhutla
Ketua Perkumpulan Profesional Lingkungan Tasdiyanto. ( Foto: Istimewa )
Carlos KY Paath / AO Minggu, 22 September 2019 | 21:23 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Perkumpulan Profesional Lingkungan mengingatkan tentang perlunya edukasi kepada masyarakat dan aparat TNI agar kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak terulang. Sebab, karhutla sudah menjadi peristiwa yang sering terjadi di Tanah Air.

“Kebakaran hutan dan lahan telah menjadi peristiwa rutin. Saya sempat mengira kebakaran hutan pada 2015 menjadi kejadian yang terakhir,” kata Ketua Perkumpulan Profesional Lingkungan, Tasdiyanto dalam keterangan pers yangg diterima Beritasatu.com di Jakarta, Minggu (22/9/2019).

Menurut Tasdiyanto, pemerintah tentu telah melakukan banyak melakukan upaya untuk mengatasi karhutla. Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah membuat aplikasi SiPongi untuk mendeteksi kebakaran hutan secara dini. Melalui aplikasi ini, pencegahan kebakaran hutan bisa lebih cepat.

Badan Pengkajian Penerapan Teknologi (BPPT) juga berinovasi lewat modifikasi cuaca. Alhasil, ketika kebakaran terjadi, pemadamannya diharap bisa lebih cepat. “Kita tahu telah terjadi hujan di daerah yang kemarin terkena kebakaran,” ujar Tasdiyanto.

Tasdiyanto menyatakan, edukasi kepada masyarakat di sekitar hutan dan lahan yang berpotensi terbakar sepatutnya ditingkatkan. “Masyarakat di Sumatera sampai sekarang masih mempunyai tradisi membakar lahan ketika akan bercocok tanam. Ini tradisi lama yang harus berubah,” ucap Tasdiyanto.

Praktik membuka lahan dengan membakar itu tidak bisa diterapkan karena berpengaruh pada daya dukung lingkungan di sekitarnya. “Daya dukung lingkungan sudah memprihatinkan, sehingga praktik itu sudah tidak bisa lagi digunakan,” ujar Sekretaris Jenderal Komnas HAM tersebut.

Masyarakat yang telah diberi edukasi lambat laun akan membentuk suatu asosiasi atau perkumpulan yang diisi oleh figur-figur yang mempunyai kompetensi, termasuk manajer-manajer perkebunan. Asosiasi itu akan melahirkan suatu kode etik untuk ditaati oleh seluruh anggota. Pelanggar aturan, lanjut Tasdiyanto, termasuk jika ada yang membuka lahan dengan cara membakar, akan dikenai sanksi.

Selain itu, pelatihan juga perlu untuk aparat TNI supaya lebih kompeten saat bertugas memadamkan api di daerah karhutla. Karakter lahan yang terbakar, seperti gambut, tidak seperti lahan pada umumnya. Lahan gambut, ujarnya, memiliki kedalaman sampai belasan meter dan berpotensi terbakar. Pelatihan aparat TNI ini diperlukan karena memiliki kompetensi di bidang militer.

“Aparat TNI kompetensinya untuk melakukan pertahanan negara, menghalau musuh-musuh. Jadi perlu ada kompetensi memadamkan kebakaran,” kata Tasdiyanto.



Sumber: Suara Pembaruan