Kulminasi Matahari Memicu Panas Terik

Kulminasi Matahari Memicu Panas Terik
Ilutsrasi. Sejumlah penari membawakan tarian etnik khas Melayu Kalbar, saat Perayaan Kulminasi di Tugu Khatulistiwa, Pontianak, Kalbar, Senin (21/3). ( Foto: Antara )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Selasa, 10 September 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Peristiwa kulminasi matahari akan terjadi dua kali dalam setahun. Fenomena lumrah di wilayah Indonesia yang berada dekat garis khatulistiwa ini hanya akan membuat cuaca lebih terik. Kenaikan suhu bisa sekitar dua derajat.

Kepala Bidang Analisis Variabilitas Iklim Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Indra Gustari mengatakan, saat kulminasi intensitas matahari berpotensi meningkat sekitar 9% atau suhu udara lebih tinggi sekitar dua derajat celcius.

"Faktor kulminasi memang meningkatkan intensitas penyinaran matahari di daerah mengalami, tetapi bukanlah faktor dominan yang mempengaruhi peningkatan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di September ini," katanya di Jakarta, Senin (9/9).

Sebelumnya, BMKG memprediksi akan terjadi peningkatan kemudahan lahan terbakar di bulan September ini karena kondisi cuaca kering masih terjadi. Bahkan diperkirakan mayoritas zona musim baru memasuki musim hujan pada Oktober 2019.
Kulminasi sendiri adalah fenomena ketika matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit. Saat deklinasi matahari sama dengan lintang pengamat, fenomenanya disebut sebagai kulminasi utama.

Pada saat itu, matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat atau titik zenit. Akibatnya, bayangan benda tegak akan terlihat menghilang karena bertumpuk dengan benda itu. Oleh sebab itu, hari kulminasi utama dikenal juga sebagai hari tanpa bayangan.

Hal ini bisa terjadi karena bidang ekuator bumi atau bidang rotasi bumi tidak tepat berhimpitan dengan bidang ekliptika atau bidang revolusi bumi. Sehingga, posisi matahari dari bumi akan terlihat terus berubah sepanjang tahun antara 23,5 derajat lintang utara sampai dengan 23,5 derajat lintang selatan. Hal ini kerap disebut gerak semu harian matahari.

Tahun ini matahari tepat berada di khatulistiwa pada 21 Maret 2019 pukul 05.00 WIB dan 23 September 2019 pukul 14:51 WIB.

Sementara itu lanjut Indra, untuk potensi karhutla, BMKG menganalisis berdasarkan kondisi kemarau dan prediksi hujan yang masih rendah, membuat kondisi lahan menjadi lebih kering untuk beberapa waktu ke depan.

Menurutnya, dengan adanya kulminasi dapat menyebabkan panas yang lebih terik, dan bahan bakar pohon, gambut menjadi lebih mudah terbakar.

"Tetapi ini (kulminasi) bukan faktor dominan. Potensi karhutla lebih dominan karena musim kemarau dan prediksi hujan yang rendah di sebagian besar wilayah Indonesia," ucapnya.

Sebelumnya lanjutnya, BMKG menyebut El Nino (kondisi minim hujan) yang sebelumnya berada di skala lemah telah berakhir dan mengarah ke netral.

Namun karena masih terpengaruh kondisi suhu air laut di wilayah selatan Hindia membuat pembentukan awan hujan minim. Akibatnya, curah hujan sangat rendah hingga Oktober 2019.

Awal musim hujan akan mundur 10-30 hari dari normalnya di seluruh wilayah Indonesia. Wilayah tersebut yakni Sumatera, sebagian besar Riau, Jambi bagian tengah, Sumatera Selatan, sebagian kecil Lampung, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur, sebagian kecil Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan dan Maluku Utara.

Sementara itu, untuk Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Pegunungan Jayawijaya sudah mulai masuk musim hujan pada Agustus, September dan Oktober.

Untuk Papua, awal musim hujan akan jatuh pada November. Namun di bagian selatan Marauke, awal musim hujan terjadi di bulan Desember sehingga tidak serempak di kepulauan ini.

"Puncak musim hujan diprediksi terjadi Januari-Februari 2020," imbuhnya.



Sumber: Suara Pembaruan