Sampah Plastik Harus Dikelola, Bukan Dilarang

Sampah Plastik Harus Dikelola, Bukan Dilarang
Peserta menampilkan busana berbahan sampah plastik dalam peragaan busana daur ulang di Denpasar, Bali, Minggu (5/5). Kegiatan tersebut untuk mengedukasi masyarakat khususnya anak-anak agar peduli terhadap lingkungan serta mendorong kreativitas memanfaatkan sampah plastik menjadi barang bernilai ekonomis ( Foto: ANTARA FOTO )
Ari Supriyanti Rikin / IDS Jumat, 9 Agustus 2019 | 11:00 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (Adupi) dan Asosiasi Olefin, Aromatik, dan Plastik (Inaplas) menyebut, sampah plastik memiliki nilai ekonomi tinggi jika dikelola dengan benar. Salah satunya, dengan pemilahan sampah dari sumbernya.

Kedua asosiasi yang merupakan perwakilan dari industri hulu sampai ke hilir dalam rantai suplai dan rantai nilai plastik di Indonesia ini menyerukan pemilahan sampah di sumber dan peningkatan pengelolaan sampah terpadu. Hal ini diperlukan untuk menyelesaikan permasalahan sampah plastik.

Pewakilan Adupi, Indra Novint mengungkapkan, jutaan orang menggantungkan hidupnya dari daur ulang sampah plastik. Bisa dibayangkan jika ruang pekerjaan ini tidak ada lagi, maka jutaan orang itu akan kehilangan pekerjaannya.

Indra menegaskan, untuk mendukung pertumbuhan industri, diperlukan iklim usaha yang kondusif, bukan pelarangan terhadap produk plastik seperti kantong plastik.

"Plastik itu dapat didaur ulang dan perlu dilihat sebagai produk bernilai, bukan sampah," kata Indra di Jakarta, Kamis (8/8).

Apalagi kata dia, industri daur ulang Adupi adalah industri padat karya yang rantai nilainya menyerap jutaan tenaga kerja yang meliputi unit usaha kecil menengah, pelapak, pengepul, dan pemulung yang akan terkena dampak buruk jika produk plastik dilarang.

Kedua asosiasi ini menyebut, kunci utama permasalahan sampah plastik adalah perubahan perilaku memilah sampah plastik dari sumber yang bisa dilakukan dalam gerakan nasional serempak di Indonesia. Selanjutnya perlu ditingkatkan jumlah fasilitas pengelolaan sampah secara signifikan, baik infrastruktur maupun sumber daya manusia di setiap daerah. Selain itu, perlu dipupuk pertumbuhan industri daur ulang agar bisa menyerap lebih banyak sampah plastik.

Direktur Bidang Olefin dan Aromatik Inaplas, Edi Rivai menambahkan, saat ini Inaplas telah menerapkan program jalan aspal yang terbuat dari campuran sampah plastik serta program manajemen sampah zero yang diterapkan oleh pelaku usaha anggotanya.

Sementara Adupi telah bekerja sama dengan bank-bank sampah terpadu serta pengepul, pelapak, dan pemulung sampah di seluruh Indonesia dalam menggenjot jumlah plastik postconsumer. Plastik-plastik itu lalu didaur ulang menjadi barang bernilai seperti kantong plastik hasil daur ulang, tali rafia, palet plastik daur ulang untuk penggunaan di pabrik, serta banyak hal lainnya.



Sumber: Suara Pembaruan