Sampah Plastik Mengancam Kita, Bagaimana Solusinya?

Sampah Plastik Mengancam Kita, Bagaimana Solusinya?
Para petugas pelabuhan membuka peti kemas penuh dengan sampah plastik impor ilegal di Batam, Senin (29/7/2019) ( Foto: AFP / SEI RATIFA )
Winda Ayu Larasati / WIN Kamis, 8 Agustus 2019 | 20:09 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Meningkatnya sampah plastik tentu mengancam bumi kita. Lamanya mengurai sampah plastik mempengaruhi kehidupan biota laut, tanah dan air kita. Membakar sampah plastik pun ternyata kurang tepat. Karbon dari plastik yang dibakar akan tersebar di udara yang juga berbahaya bagi kita. Lalu, bagaimana caranya?

Dalam sebuah studi yang dilansir dalam The Conversation Indonesia, transisi ke sistem energi nol karbon berpotensi mengurangi emisi dari plastik hingga 51 persen. Studi tersebut memberikan alasan untuk segera menghapus secara bertahap bahan bakar fosil.

Di luar sistem energi nol karbon, kita pun perlu mengurangi kebutuhan plastik berbahan karbon, salah satunya mendaur ulang plastik yang berkualitas tinggi. Jika kita mendaur ulang botol berbahan plastik dengan kualitas tinggi, kita dapat menghilangkan kebutuhan sekitar 20.000 botol sekali pakai yang dibeli setiap detik di seluruh dunia.

Selain daur ulang, mengganti pemakaian barang berbahan plastik ke bahan yang lebih ramah lingkungan seperti kayu, tepung jagung dan tebu. Bahan-bahan tersebut bersifat karbon netral yang dapat menghilangkan dampak buruk pada lingkungan dari biaya energi selama produksi, transportasi dan pengolahan limbah.

Namun, peningkatan besar-besaran dalam produksi bioplastik sangat membentuk kurang dari satu persen dari total produksi plastik yang membutuhkan lahan pertanian yang luas. Populasi yang meningkat secara dramatis, tanah pertanian tidak memenuhi permintaan.

Sebuah studi mengungkapkan, mengurangi permintaan plastik per tahun dari empat persen menjadi dua persen dapat menghasilkan 60 persen emisi lebih rendah dari sektor ini pada 2050 mendatang.

Pemerintah, perusahaan dan individu sebaiknya memprioritaskan membuat penelitian untuk mencari cara alternatif mencegah sampah plastik yang tidak dibutuhkan kembali.

Jika beberapa solusi seperti mengurangi pengurangan permintaan, daur ulang, dekarbonisasi energi dan adopsi besar-besaran bioplastik dilakukan, maka bisa memotong emisi plastik hingga tujuh persen dari level saat ini.

Di lain sisi, plastik tidak sepenuhnya dianggap bencana bagi lingkungan. Bahan yang terjangkau, tahan lama dan serbaguna membuat plastik bermanfaat dalam keseharian. Namun penggunaan yang tak terkendali dan budaya membuang sampah masyarakat kita dapat mencemari tanah dan air.

Penting bagi kita untuk mengurangi penggunaan plastik dan mengurangi jejak karbon dari plastik yang dibakar. Oleh karena itu, yuk kurangi penggunaan plastik mulai dari sekarang.



Sumber: The Conversation Indonesia