Membakar Sampah Plastik Bukan Solusi yang Tepat

Membakar Sampah Plastik Bukan Solusi yang Tepat
Satu peti kemas dibuka oleh pejabat di pelabuhan Sihanoukville di Kamboja, dan ditemukan mengandung sekitar 1.600 ton sampah plastik, Juli 2019. ( Foto: AFP / Kementerian Lingkungan Hidup Kamboja )
Winda Ayu Larasati / WIN Kamis, 8 Agustus 2019 | 19:17 WIB

Jakara, Beritasatu.com - Tidak sedikit barang-barang yang kita gunakan sehari-hari berbahan dasar plastik, seperti helm sepeda, botol, rak sepatu, dan hingga kantong plastik. Pernahkah terpikir, bagaimana jika barang-barang tersebut kita buang atau menggantinya dengan barang berbahan serupa? Apakah sampah plastik dapat terurai dengan cepat?

Lebih dari 99 persen plastik terbuat dari bahan kimia petrokimia yang biasanya terbuat dari minyak bumi dan gas alam. Bahan baku tersebut disuling agar membentuk etilena, propilena, butena dan bahan dasar lain sebelum diangkut ke pabrik.

Dalam produksi dan transportasi bahan-bahan plastik dibutuhkan banyak energi dan bahan bakar. Emisi gas rumah kaca terjadi selama proses pembuatan plastik tersebut. Proses itu melibatkan "pemecahan" hidrokarbon yang lebih besar dari petrokimia, lalu menjadi lebih kecil hingga cocok membuat plastik yang melepaskan karbon dioksida dan metana.

Berdasarkan penelitian, sekitar 61 persen dari total emisi gas rumah kaca plastik berasal dari tahap produksi dan transportasi resin.

Sementara 30 persen lainnya dikeluarkan pada tahap pembuatan produk plastik. Sebagian besar emisi tersebut berasal dari energi yang dibutuhkan untuk memberi daya pada pabrik yang mengubah bahan plastik mentah menjadi kantong sampah, botol dan helm sepeda yang biasa kita digunakan.

Sisa emisi tersebut dihasilkan selama proses kimia dan pembuatan seperti produksi styrofoam menggunakan hidrofluorokarbon (HFC) gas yang dipakai dalam pendingin ruangan dan lemari es yang merupakan gas rumah kaca yang kuat.

Akhirnya, jejak karbon dari plastik selalu ada ketika dibuang. Jika dibakar, sampah plastik melepaskan semua karbon yang tersimpan ke udara, serta polutan udara seperti dioksin, furan, merkuri dan bifenil poliklorinasi yang beracun dan akan merusak kesehatan manusia. Hal itu karena plastik membutuhkan waktu berabad-abad untuk terurai.

Secara teori, pembuangan plastik dalam Tempat Pembuangan Akhir (TPA) hanya menghasilkan gas emisi yang kecil. Namun, sebanyak 40 persen limbah TPA yang dibakar secara terbuka, maka mempercepat pelepasan karbon yang terkurung.

Penelitian berhasil menghitung dalam seluruh siklus hidupnya, plastik menyumbang 3,8 persen dari emisi gas rumah kaca secara global. Angka tersebut berarti hampir dua kali lipat dari emisi sektor penerbangan. Jika plastik adalah sebuah negara,"Kerajaan Plastik" akan menjadi penghasil emisi tertinggi kelima di dunia.

380 juta ton per tahun memproduksi plastik 190 kali lebih banyak daripada yang kita lakukan pada 1950. Jika permintaan plastik terus meningkat secara konsisten empat persen per tahun, emisi dari produksi plastik akan mencapai 15 persen dari emisi global pada 2050.

Oleh karena itu, mulai dari sekarang kita mulai mengurangi penggunaan plastik dalam kebutuhan sehari-hari. Mungkin bisa mengganti barang berbahan plastik dengan bahan lain yang lebih ramah lingkungan.



Sumber: The Conversation