Pandemi Virus Corona, Persiapan PON Papua Melambat

Pandemi Virus Corona, Persiapan PON Papua Melambat
Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali. (Foto: kemenpora.go.id)
Hendro D Situmorang / YUD Rabu, 8 April 2020 | 16:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Zainudin Amali mengakui bahwa persiapan Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua 2020 yang dijadwalkan digelar pada 20 Oktober hingga 2 Oktober melambat karena akibat pandemi virus corona atau Covid-19.

“Laporan yang saya terima dari KONI Pusat, KONI Daerah maupun pengurus cabang olahraga (cabor), memang tetap ada kegiatan tapi sudah sangat melambat. Kami tentu harus memperhatikan pandemi virus korona ini sampai kapan. Kalau situasi masih tetap seperti ini, tentu kami akan putuskan opsinya akan terus atau ditunda,” ujar Menpora ketika dikonfirmasi ulang Rabu (8/4).

Baca juga: Digelar atau Tidaknya PON 2020 Tunggu Putusan Bersama

Menurutnya semua pekerjaan di lapangan kini praktis terganggu. Masalahnya, semua daerah, termasuk Papua sebagai tuan rumah PON 2020, akan lebih berkonsentrasi untuk mengatasi pandemi virus corona.

“Semua sumber daya, keuangan, pasti dikonsentrasikan ke urusan pandemi virus corona. Itu harus dipahami, sehingga jika rencana tetap jalan, harus ada batas waktu untuk menentukan,” ujar politisi Golkar itu.

Saat ini, Kempora terus mengumpulkan data dan berbagai masukan dari semua pihak. Pada persiapan tersebut, ada empat arena olahraga yang sedang masa pembanguan oleh Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kempupera), yakni Stadion Akuatik, Istora Papua Bangkit, venue cricket, dan lapangan hoki.

Baca juga: Corona Melanda, Bagaimana Nasib PON Papua?

Pada laporan per 26 Maret lalu, progres pembangunan Istora Papua Bangkit mencapai 82,95 persen, Stadion Akuatik mencapai 80,87 persen, sedangkan arena kriket dan lapangan hoki mencapai 92,14 persen.

Namun, akibat virus corona yang belum mereda Menpora mengatakan bahwa venue pada pembangunan tersebut mengalami hambatan dan terlambat.

"Ketum KONI menyampaikan memang benar dengan kondisi pelatda mandiri tentu tidak maksimal untuk prestasi hingga jadi pertimbangan untuk minta ditunda. Tetapi kita harus memperkuat alasan penundaan kalau itu jadi pilihan," ucapnya.

Menpora juga tidak menampik adanya permintaan dari sejumlah KONI daerah untuk menunda PON Papua. Namun, ia menegaskan pihaknya bukan yang memutuskan terkait nasib PON Papua.

Keputusan Presiden

Zainudin menyatakan bahwa kondisi tersebut akan menjadi data dan informasi yang akan disampaikan kepada Presiden Joko Widodo. Menurutnya, keputusan menunda atau tetap digelarnya pesta olahraga empat tahunan itu akan ditentukan melalui rapat kabinet bersama Presiden RI.

“Nantinya, presiden yang akan memutuskan penyelenggaraan PON ini kemana arahnya, setelah mendapat informasi dari Kempora, KONI, PB PON, dan informasi lainnya. Harus ada batas akhir untuk menentukan kapan tahapan PON akan dimulai,” ungkap dia.

“Kami sedang mengumpulkan informasi yang akan kita tuangkan dalam rapat kabinet dalam waktu dekat. Saya berharap bisa pekan ini bisa terlaksana. Kalau sudah ada bahan masukan dariberbagai pihak sebagai dasar dari penentu mundur atau tidaknya PON Papua, baru kami laporkan ke Presiden (Joko Widodo) untuk mendapatkan arahan,” ungkap dia.

Sebelumnya, Komisi X DPR RI mendesak pemerintah untuk memberikan kepastian penyelenggaraan PON 2020 di tengah pandemi virus corona.

Baca juga: Menpora Sebut PON 2020 Masih Sesuai Rencana

“Tentu usulan dari berbagai kalangan kami perhatikan dan itu menjadi bahan pertimbangan. Jadi ini seperti yang saya katakan sejak awal, bahwa Kempora tidak bisa memutuskan sendiri,” terang Amali.

Sejauh ini, lanjut Menpora, pihaknya telah menyiapkan dua opsi terkait penyelenggaraan PON Papua 2020. Tetap melaksanakan sesuai jadwal dengan memperhatikan kondisi-kondisi tertentu yang harus dipenuhi, atau ditunda ke 2021.

Apabila harus ditunda, Menpora akan memperhitungkan ulang terkait anggaran peralatan dan pelaksanaannya, terlebih banyak event olahraga lain yang juga digelar di tahun 2021.

"Kita juga harus mencari waktu supaya tidak bertabrakan dengan agenda olahraga lain. Ini mengingat pada 2021 adalah tahun sibuk untuk olahraga Indonesia, baik itu Piala Dunia U-20 2021 maupun Olimpiade dan SEA Games serta lainnya. Kami akan bicara dengan KONI pusat dan cabor-cabor. Yang paling diutamakan adalah keselamatan, baik itu keselamatan para atlet maupun ofisial. Jadi itu yang menjadi pertimbangan utamanya," tutup dia.



Sumber: BeritaSatu.com