Tiongkok Longgarkan Investasi Asing di Pasar Saham dan Obligasi

Tiongkok Longgarkan Investasi Asing di Pasar Saham dan Obligasi
Ilustrasi mata uang asia yuan. ( Foto: Suara Pembaruan / Ruht Semiono )
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Rabu, 11 September 2019 | 10:41 WIB

Tiongkok, Beritasatu.com - Tiongkok pada Selasa (11/9/2019) menghapus pembatasan lembaga atau investor institusi asing yang akan berinvestasi di pasar saham dan obligasi Tiongkok menyusul melemahnya nilai tukar yuan dan meningkatnya arus modal keluar (capital outflow). Langkah ini sebagai upaya menarik lebih banyak modal asing ke Negeri Tirai Bambu tersebut.

"China State Administration of Foreign Exchange (SAFE) akan menghapus pembatasan investor asing institusi (Qualified Foregin Institutitional Investor/QFII) berbasis dolar dan investor lainnya berdenominasi yuan, RQFII," katanya dalam sebuah pernyataan yang dipublikasikan di webnya.

SAFE mengatakan, batas total pembelian aset oleh asing sebesar US$ 300 miliar telah dicabut. Sehingga pemodal institusi asing dapat dengan bebas mengakses pasar saham dan obligasi Tiongkok.

Dikatakan, langkah itu akan membuat nyaman investor luar negeri untuk berpartisipasi di pasar keuangan domestik Tiongkok, sehingga pasar obligasi dan saham Tiongkok lebih luas diterima pasar internasional.

Penghapusan kuota terjadi di tengah meningkatnya perang perdagangan Tiongkok-AS yang mengancam pertumbuhan ekonomi terbesar kedua di dunia.

Beijing berharap arus masuk modal asing dapat mengimbangi meningkatnya arus keluar sehingga memberikan dukungan kepada yuan, yang telah turun ke level terendah terhadap dolar AS sejak awal krisis keuangan global pada 2008.

Arus modal asing yang masuk juga membantu meningkatkan neraca pembayaran Tiongkok karena beberapa analis khawatir Beijing akan tergelincir ke arah defisit fiskal.

"Penghapusan adalah sinyal yang jelas bahwa pembuat kebijakan ingin mendorong arus masuk modal," tulis Global Head of Currency Strategy di Brown Brothers Harriman, Won Thin.

Tiongkok pada Januari menetapkan batas kuota QFII US$ 300 miliar, tetapi yang dimanfaatkan invesor asing pada Agustus 2019 hanya US$ 111,4 miliar, atau sepertiganya.

Regulator sekuritas Tiongkok juga menerbitkan rancangan peraturan awal tahun ini yang menggabungkan program QFII dan RQFII. Hal ini sebagai wujud menyederhanakan akses bagi investor luar negeri.

Wakil Kepala pendapatan tetap pasar negara berkembang di BNP Paribas Asset Management Jean-Charles Sambor, mengatakan bahwa penghapusan batasan itu adalah langkah besar ke arah yang benar.

Tiongkok memperkenalkan skema QFII pada tahun 2002 dan RQFII pada tahun 2011 sebagai upaya mendorong partisipasi asing di pasar keuangannya.

Deregulasi QFII muncul seiring meningkatnya jumlah penerbit indeks global, seperti MSCI, FTSE Russell dan Indeks-indeks S&P Dow Jones yang menambahkan saham dan obligasi Tiongkok ke dalam tolok ukur mereka. "Reformasi seperti saat ini, dikombinasikan dengan pencantuman indeks yang berkelanjutan, memastikan bahwa pasar modal Tiongkok terus bergerak ke arus utama investasi global," kata Head of Market Asia-Pasifik, di HSBC, Justin Chan.

Head of Asset Management Group di Asifma, Eugenie Shen, mengatakan bahwa penghapusan kuota adalah cara baik untuk menjaga daya tarik QFII dan RQFII.

Head of Greateer China Investment di Barings, Khiem Do mengatakan bahwa penghapusan kuota dapat mendorong arus masuk ke pasar saham dan obligasi Tiongkok. "Pada akhirnya apakah investor asing akan berinvestasi lebih banyak di Tiogkok atau tidak tergantung prospek fundamental ekonomi, tren pendapatan perusahaan, daya tarik imbal hasil dan selisih imbal hasil, serta kekuatan atau kelemahan yuan, ” katanya.

Terlepas dari berakhirnya kuota QFII dan RQFII, SAFE tidak melakukan tindakan apa pun untuk mengurangi pembatasan pada skema Investor Institusional Domestik Investor (Qualified Domestic Institutitional Investor/QDII).



Sumber: CNBC