IDI: 60 Dokter Indonesia Telah Gugur Melawan Covid-19

IDI: 60 Dokter Indonesia Telah Gugur Melawan Covid-19
Ucapan duka cita dokter meninggal (Foto: istimewa)
Dina Fitri Anisa / IDS Minggu, 12 Juli 2020 | 22:51 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat selama pandemi melanda Tanah Air, sudah ada 60 orang dokter yang meninggal akibat Covid-19. Menurut Humas IDI, dr Halik Malik, seluruh dokter tersebut meninggal dunia ketika bertugas menangani pasien saat pandemi.

Kepada Suara Pembaruan, Minggu (12/7/2020) ia mengatakan, ada berbagai sebab yang melatarbelakangi tingginya kematian dokter yang berhubungan dengan Covid-19 di Indonesia. Antara lain adalah, minimnya alat pelindung diri (APD), tidak ada screening pasien, dan alur layanan untuk Covid-19 yang tidak dibedakan. Selain itu, sistem kesehatan seperti deteksi, isolasi, dan terapi di Indonesia juga tidak memadai.

“Selain itu, ada lagi faktor risiko kerentanan lain seperti usia dan penyakit komorbid lainnya,” terangnya melalui pesan singkat.

Agar persoalan ini tidak berujung panjang, PB IDI sudah membentuk tim audit untuk mendalami dan menelusuri lebih jauh terkait kematian dokter sepanjang pandemi ini. PB IDI juga turut mengadvokasi adanya jaminan keselamatan dan perlindungan dokter yang bertugas di masa pandemi.

“Adanya jaminan keselamatan bagi petugas misalnya pengaturan shift atau jam kerja yang tidak berlebihan, APD yang standar, insentif tambahan, dukungan akomodasi dan transportasi, dan screening berkala,” terangnya.

Menurut Halik, screening ketat di setiap fasilitas kesehatan dan penetapan rumah sakit (RS) khusus Covid-19 juga diyakini mampu menekan angka kejadian infeksi silang antar petugas maupun pasien di RS.

“Pemerintah perlu membuka akses RT PCR atau swab test ke semua RS untuk kepentingan screening petugas secara berkala,” tuturnya.

Angka penularan Covid-19 di kalangan medis terus bertambah. Diketahui, saat ini sebanyak 25 dokter residen yang bertugas di RSUD dr Moewardi, Solo, Jawa Tengah dinyatakan positif. Mereka adalah mahasiswa Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Paru Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret (UNS).

“Saat ini, RS UNS menerima rujukan sebanyak 25 pasien positif Covid-19 dari RS Moewardi untuk menjalani masa isolasi di RS UNS. Selanjutnya akan dilakukan penanganan sesuai Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 dari Kemkes, bersama-sama dengan FK UNS dan RS Moeward,” ungkap Wakil Direktur Penelitian dan Pendidikan RS UNS Solo, dr Tonang Dwi Ardyanto, kepada Suara Pembaruan.

Tonang mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Solo untuk mengambil langkah pencegahan dan pengendalian peyebaran Covid-19 di wilayah Solo dan sekitarnya.

“RS UNS memohon dukungan dan doa dari semua pihak, kiranya kondisi ini dapat ditangani dan diselesaikan dengan sebaik-baiknya,” tuturnya.



Sumber: BeritaSatu.com