Penularan Covid-19 Lewat Udara, Ini Penjelasan Pakar

Penularan Covid-19 Lewat Udara, Ini Penjelasan Pakar
Ilustrasi "swab test". (Foto: Antara)
Dina Manafe / YUD Jumat, 10 Juli 2020 | 19:47 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Saat ini muncul kekhawatiran di masyarakat bahwa virus SARS Cov-2 penyebab Covid-19 juga dapat menularkan lewat udara (airbone) selain penularan langsung dari manusia ke manusia.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana dan Anggota Tim Pakar Medis Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Prof. I Gusti Ngurah Kade Mahardika mengungkapkan, sebagai virus yang menyerang saluran pernapasan, maka potensi untuk menularkan secara aerosol (percikan di udara) tidak bisa diabaikan.

Selama ini, virus SARS Cov-2 hanya dianggap menularkan secara langsung dari orang yang sudah terinfeksi kepada orang lain melalui droplet yaitu percikan cairan dari pernapasan kepada orang lain ketika bicara, batuk atau bersin, jabat tangan, dan lain-lain. Kemudian secara tidak langsung, penularannya bisa lewat alat-alat yang tercemat, seperti telepon, bulpen, meja, buku, gagang pintu, dan lain-lain.

Tetapi sebagai virus pernapasan, menurut Mahardika, virus ini berpeluang menular lewat udara. Kemungkinan ini sudah dicurigai sejak awal munculnya virus ini.

“Karena ini tidak hanya melalui droplet makro pada saat orang yang sudah terinfeksi batuk, bersin, atau bicara, melainkan juga muncul mikro droplet yang berpeluang melalui udara,” kata Mardika pada dialog secara daring bersama Gugus Tugas Nasional, Jumat (10/7/2020).

Jadi, menurut Mahadika, kabar mengenai penularan secara aerosol ini adalah isu lama. Sejak SARS Cov-12 lahir di Wuhan, Tiongkok, penularan secara aerosol sudah tidak bisa diabaikan karena ini adalah virus pernapasan. Oleh karena itu, menurut Mahardika, mestinya kabar ini tidak membuat masyarakat semakin panik.

Ia menjelaskan, aerosol secara ilmu virologi bukanlah true aerosol atau aerosol sebenarnya yang ditularkan lewat udara atau aliran angin di ruang terbuka. Di mana angin bertiup di situlah virus terjangkiti. Ini tidak terjadi pada Covid-19. Aerosol yang dimaksudkan pada Covid-19 adalah virusnya menginfeksi atau menularkan di situasi ruangan tertutup, seperti bus, perkantoran, restoran, hotel, dan lain-lain yang menggunakan ventilasi buatan serta ber-AC.

“Jadi ini setingannya pada ruangan tertutup. Tidak ada sirkulasi udara yang baik dan menggunakan AC,” kata Mahardika.

Karena itu ia menyarankan usahakan gunakan ventilasi alami, misalnya buka jendela atau pintu. Kalau pun ada yang tertular, virus ini akan larut. Karena diketahui untuk virus membuat seseorang sakit perlu beban virus atau viral load tertentu. Dengan ventilasi terbuka, konsentrasi virus yang terpapar pada individu tersebut akan jauh lebih sedikit.

Staf Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan Anggota Tim Pakar Medis Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid - 19 Dr. Budiman Bela, mengatakan, selama ini Badan Kesehatan Dunia (WHO) belum pernah mengarahkan adanya potensi penularan secara aerosol. Potensi penularan tinggi terjadi di tempat-tempat tertentu, terutama di rumah sakit. Karena di rumah sakit itu segala macam prosedur medis dilakukan, yang bisa menimbulkan aerosol. Kemudian di laboratorium, terutama tempat kultur dimana jumlah virusnya banyak dan aerosol terbentuk, sehingga kosentras virus bisa menjadi tinggi.

“Di tempat-tempat tertutup berpotensi menular juga, apalagi kalau kondisi udara dingin,” kata Budiman.

Budiman menambahkan, dalam kondisi ruang tertutup dan lembab, virus termasuk SARS Cov-2 akan bertahan. Sebaliknya ketika cuacanya panas dan kering, virus tidak bertahan. Karena itu ia juga menyarankan adanya sirkulasi udara yang lancar dalam sebuah ruangan untuk mengurangi kemungkinan terpapar.

Tetapi yang paling penting, menurut Budiman adalah laksanakan protokol kesehatan, terutama jaga jarak, dan pakai masker. Meski dalam satu tempat berisiko tinggi, tetapi jiga protokol pencegahan Covid-19 dilakukan, maka risiko tertular minimal. Ia mencontohkan tenaga di laboratorium FKUI tiap hari memeriksa Covid-19, tetapi sampai saat ini semuanya negatif karena protokol kesehatan dilakukan secara disiplin.

“Jadi kalau ditanya pencegahannya, saya sarankan tetap gunakan masker, jaga jarak, dan sesering cuci tangan. Kalau ini dilakukan dengan disiplin, maka kemungkinkan penularan lebih kecil,” kata Budiman.



Sumber: BeritaSatu.com