Kemkes Keluarkan Surat Edaran Protokol Imunisasi di Tengah Pandemi

Kemkes Keluarkan Surat Edaran Protokol Imunisasi di Tengah Pandemi
Petugas menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) memberikan vitamin kepada anak batita di Posko Imunisasi Bhakti Jaya, Setu, Tangerang Selatan, Senin (11/5/2020). Petugas kesehatan dari kelurahan tetap memberikan pelayanan kesehatan pada anak dengan memberikan imunisasi rutin dan vitamin di saat pandemi Covid-19. (Foto: Beritasatu Photo / Mohammad Defrizal)
Ari Supriyanti Rikin / IDS Senin, 8 Juni 2020 | 18:52 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Orang tua diminta tidak menunda pemberian imunisasi pada anak-anak yang masih harus menerima imunisasi lengkap, meskipun pandemi Covid-19 belum berakhir. Sebab, jika imunisasi lengkap tidak dilakukan, akan terjadi outbreak wabah lain karena imunisasi untuk mencegah sejumlah penyakit tidak dilakukan.

Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemkes), Vensya Sitohang mengungkapkan, Kemkes sudah mengeluarkan surat edaran ke seluruh daerah yang menekankan agar imunisasi tetap dilakukan pada masa pandemi Covid-19.

"Jangan sampai di masa Covid-19 ada kejadian luar biasa karena penyakit yang sudah ada vaksinnya dan bisa dicegah," katanya dalam telekonferensi di Kantor BNPB, Jakarta, Senin (8/6/2020).

Dalam pelaksanaan imunisasi juga ditekankan penerapan protokol kesehatan baik bagi orang tua, anak, maupun petugas kesehatan. Kondisi anak sehat juga menjadi syarat utama ketika diberikan vaksin.

Begitu pula pemberian imunisasi ulang yang diberikan kepada anak sekolah dasar kelas 1, 2, 5, dan 6. Setelah pembelajaran jarak jauh usai dan anak kembali ke sekolah, imunisasi berulang harus diberikan.

Ia menjelaskan, untuk mendapatkan kekebalan suatu komunitas dari transmisi penyakit, dari 100 anak di komunitas itu, 95%-nya harus mendapatkan imunisasi dasar lengkap.

"Kalau tidak, tinggal tunggu waktu akan terjadi kejadian luar biasa dari penyakit yang sebenarnya vaksinnya sudah ada," imbuhnya.

Dari survei lapangan yang pihaknya lakukan bersama Unicef pada April 2020 lalu, sebanyak 83,9% pelayanan kesehatan terdampak Covid-19. Artinya, pemberian imunisasi tidak dapat dilaksanakan. Kondisi ini jauh berbeda dibanding cakupan imunisasi pada April 2019.



Sumber: BeritaSatu.com