Jelang Idulfitri, BPOM Temukan Pangan Tidak Standar Meningkat

Jelang Idulfitri, BPOM Temukan Pangan Tidak Standar Meningkat
Kepala Badan POM Penny Kusumastuti Lukito memaparkan mengenai intensifikasi pengawasan pangan selama Ramadan dan jelang Idulfitri dalam diskusi media daring, Jumat 15 Mei 2020. (Foto: istimewa)
Dina Manafe / EAS Jumat, 15 Mei 2020 | 18:39 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Meski di tengah pandemi Covid-19 dan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah wilayah, pengawasan terhadap peredaran pangan menjelang Idulfitri diperketat. Dari pengawasan BPOM dalam dua minggu terakhir, sejak 27 April 2020, masih banyak ditemukan produk tidak memenuhi ketentuan (TMK), seperti ilegal, kedaluwarsa, rusak, dan mengandung bahan berbahaya. Temuan bahkan meningkat dibanding 2019.

Kepala Badan POM, Penny Kusumastuti Lukito mengatakan akan terus melakukan pengawasan hingga 22 Mei 2020. Badan POM melalui 33 Balai Besar/Balai POM dan 40 Kantor Badan POM di kabupaten/kota di seluruh Indonesia serentak melakukan intensifikasi pengawasan pangan sampai tahap kedua.

Penny mengatakan, dari 1.197 sarana distribusi pangan yang diperiksa terdapat 38,10% sarana distribusi TMK karena menjual pangan rusak, pangan kedaluwarsa, maupun pangan tanpa izin edar (TIE). Jumlah total temuan produk pangan TMK sebanyak 290.681 pieces dengan total nilai ekonomi mencapai Rp 654 juta.

"Jika dibandingkan dengan data intensifikasi pangan 2019, terjadi peningkatan jumlah temuan produk TMK. Tetapi terjadi penurunan besaran nilai ekonomi temuan. Temuan produk TMK tahun ini didominasi oleh pangan kedaluwarsa,” kata Penny dalam diskusi media secara daring tentang intensifikasi pengawasan pangan selama bulan ramadan, Jumat (15/5/2020).

Penny menjelaskan, hasil pengawasan pangan jajanan berbuka puasa (takjil) menunjukkan bahwa dari 6.677 sampel yang diperiksa sebanyak 73 sampel (1,09%) tidak memenuhi syarat (TMS). Kebanyakan pangan mengandung bahan yang disalahgunakan seperti formalin, boraks, rhodamin B, dan methanyl yellow. Bahan-bahan kimia ini tentu membahayakan kesehatan jika dikonsumsi.

Temuan bahan berbahaya yang paling banyak disalahgunakan adalah formalin yaitu 45%. Disusul rhodamin B 37%, boraks 17%, dan methanyl yellow 1%. Jenis pangan yang banyak ditemui mengandung bahan berbahaya tersebut adalah kudapan, minuman berwarna, makanan ringan, mi, lauk-pauk, bubur, dan es. 

Penny mengatakan, pihaknya sudah menindaklanjuti pangan olahan kemasan yang rusak, kedaluwarsa, dan TIE tersebut. Produk tersebut disarankan untuk dikembalikan dan dimusnahkan. Sementara kepada penjual/manajemen ritel dilakukan pembinaan agar tidak menerima produk yang TMK.



Sumber: BeritaSatu.com