BCL dan Super Antioksidan Bantu Melawan Virus Covid-19

BCL dan Super Antioksidan Bantu Melawan Virus Covid-19
PT PUF Sains Lab, Nucleus Farma, dan Profesor Nidom Foundation bekerja sama dalam pengembangan formula BCL. (Foto: Beritasatu Photo / Istimewa)
Feriawan Hidayat / FER Rabu, 8 April 2020 | 14:25 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - PT PUF Sains Lab, Nucleus Farma, dan Profesor Nidom Foundation bekerja sama dalam pengembangan formula BCL dan penggunaan formula BCL melalui teknologi PUFF untuk mengatasi virus corona jenis baru atau Covid-19.

Baca: Obat Corona dari Herbal Masih dalam Proses Riset

Ketua Tim Riset Corona dan Formulasi Vaksin Professor Nidom Foundation, Prof Chaerul Anwar Nidom mengatakan, formula BCL berfungsi sebagai receptor blocker untuk menghalau Covid-19, agar tidak menempel di paru-paru. Formula ini terdiri dari beberapa kandungan, yaitu BCL (Bromhexine Hydrochloride), Guaiphenisin, dan beberapa zat lainnya.

Keunggulan PUFF adalah mengadopsi teknologi PHP (Perforated Heating Plate) yang sudah dipatenkan. Pada teknologi ini ada lubang-lubang di pelat coil, sehingga akan menghasilkan panas yang lebih merata. Dengan demikian, aerosol uap yang dihasilkan dari alat PUFF lebih baik.

"Jika paru-paru sudah terinfeksi, akan sulit sekali untuk direhabilitasi, apalagi saat ini belum ada obatnya, perawatan yang diandalkan sekarang adalah infus vitamin, dan beberapa rumah sakit menggunakan chloroquine dan tambahan oksigen untuk respirasi. Oleh karena itu, terkait formula BCL, kami mendapat respon positif dari rekan-rekan dokter serta akademisi,” ujar Prof Nidom dalam keterangan pers yang diterima Beritasatu.com, di Jakarta, Rabu (8/4/2020).

Baca: Nucleus Farma, PUFF Farma dan PNF Kembangkan Obat Covid-19

Guru Besar Biologi Molekuler Unair itu menjelaskan, formula BCL bisa diterima secara logika karena mengikat receptor virus corona di paru-paru, bukan mengganggu atau membunuh virusnya. Jika virus tidak menempel di receptor ACE2 paru-paru, maka virus tidak dapat berkembang biak dan akan mati dengan sendirinya.

"Kita tidak boleh hanya menggunakan konsep yang monoton dalam menghadapi Covid-19. Salah satu cara menangani virus ini yang diusulkan oleh teman-teman fakultas kedokteran adalah dengan mengendalikan receptor blocker,” tutur Prof Nidom.

Lebih jauh, Prof Nidom menerangkan, formula BCL yang diaplikasikan melalui penguapan atau aerosol dapat digunakan oleh mereka yang berisiko tinggi terpapar Covid-19. Mereka adalah para dokter dan tenaga medis yang bertugas di garis depan, pasien atau penderita Covid-19, dan orang dalam pengawasan (ODP).

Baca: 15 Juta Orang Gunakan Platform Kesehatan Online

"Pasien dalam pengawasan (PDP) yang mengisolasi diri di rumah juga bisa menggunakan formula BCL ini,” tutur virologist senior yang sudah meneliti virus selama 35 tahun, termasuk penelitian virus Ebola, virus SARS dan MERS.

Dibutuhkan tools khusus seperti device yang membantu proses penguapan formula BCL ke paru-paru. Terkait ini, PT PUF Sains Lab sudah menghadirkan perangkat PUFF.

CEO Nucleus Farma, Edward Basilianus mengatakan, perangkat PUFF dapat difungsikan sebagai drug delivery system (DDS) untuk mengantarkan formula obat melalui metode aerosol atau penguapan. Mekanisme ini juga dapat digunakan sebagai obat anti influenza atau batuk yang berhubungan dengan respiratory dan pulmonary, seperti sesak nafas dan obat mukolitik.

Baca: Inovasi Nucleus Farma Diganjar Penghargaan LEPRID

“PUFF aman untuk digunakan karena telah didesain dengan konsep closed-system sehingga cairan di dalamnya tidak dapat diubah, ditambahkan, dan diisi ulang. Berbeda dengan perangkat open-system, dimana cairan atau likuid bisa dimasukkan ke dalam perangkat tanpa memperhatikan takaran yang dianjurkan oleh ahlinya,” tegas Edward Basilianus.

Sementara itu, Presiden Direktur PT PUF Sains Labs, Iwan Setiawan menuturkan, PUFF didirikan di Indonesia oleh tim berpengalaman yang terdiri dari insinyur, ilmuwan, ahli kimia, petinggi di industri FMCG, ritel, elektronik, dan obat-obatan alami. "Kami berkomitmen untuk mencapai misi kami, yaitu meningkatkan kualitas hidup orang banyak melalui ilmu dan inovasi yang memanfaatkan bahan alami terbaik," jelasnya.

Iwan menambahkan, seluruh bagian produk PUFF, baik perangkat maupun PUFFpod atau cartridge telah memenuhi standar keselamatan dan kualitas internasional, seperti Restriction of Hazardous Substances (RoHS) dan Electromagnetic Compatibility (EMC), serta telah menjalani pengujian dan inspeksi ekstensif. "Paten PUFF (patent WIPO) sudah didaftarkan di beberapa negara di benua Amerika, Eropa, Asia, termasuk Tiongkok dan Indonesia,” kata Iwan Setiawan.

Baca: Peneliti Monash University Temukan Obat Potensial Lawan Covid-19

Menurut Iwan, material dasar PUFF menggunakan plastik tahan panas dengan standar food-grade, dan mengandung jalur uap berbahan dasar PCTG kualitas tinggi yang tahan panas sesuai dengan standar industri, sehingga tidak akan terasa panas ketika digunakan, serta tidak akan meleleh ketika dilalui uap panas, dan memakai pemanas berteknologi tinggi berbasis bahan nichrome yang telah dipatenkan.

“Disamping itu, shell alumunium PUFF yang membungkus baterai lithium-ion, papan sirkuit, dan sensor tekanan, semuanya terpisah dari jalur uap dan cairan, sehingga memberikan tingkat keamanan yang lebih baik,” tandas Iwan Setiawan.

 



Sumber: BeritaSatu.com