WHO: Dunia Kekurangan 5,9 Juta Perawat untuk Perangi Corona

WHO: Dunia Kekurangan 5,9 Juta Perawat untuk Perangi Corona
Ilustrasi perawat dalam wabah Covid-19. (Foto: AFP)
Whisnu Bagus Prasetyo / WBP Selasa, 7 April 2020 | 07:54 WIB

Jenewa, Beritasatu.com - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendesak seluruh negara di dunia untuk mencetak setidaknya 6 juta pekerjaan bidang keperawatan baru pada 2030 untuk mengimbangi kekurangan profesi itu menanggapi pandemi virus corona (Covid-19).

Keperawatan adalah kelompok pekerjaan terbesar di sektor kesehatan. "Terhitung sekitar 59 persen dari profesi kesehatan adalah perawat," demikian laporan baru WHO, the International Council of Nurses dan Nursing Now, yang diterbitkan Senin atau Selasa WIB (7/4/2020).

Baca juga: Kasus Corona di AS 364.086, Trump: Ada Cahaya di Ujung Terowongan

WHO mengatakan, hanya ada 28 juta perawat di seluruh dunia, sehingga ada kekurangan 5,9 juta untuk merawat penduduk yang tumbuh dengan pesat. Kekurangan perawat terbesar ada di negara berpenghasilan rendah hingga menengah di Afrika, Asia Tenggara, wilayah Mediterania Timur dan beberapa bagian Amerika Latin, menurut laporan itu, yang mengamati 191 negara berdasarkan data 2013 dan 2018.

Lebih dari 80 persen perawat bekerja di negara-negara yang menyumbang setengah dari populasi dunia, menurut laporan itu. "Perawat adalah tulang punggung sistem kesehatan," kata Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam sebuah pernyataan.

“Hari ini, banyak perawat berdiri di garis depan dalam melawan Covid-19. Laporan ini adalah pengingat akan peran perawat sekaligus seruan untuk memastikan mereka mendapatkan dukungan dalam menjaga dunia tetap sehat.”

Baca juga: Jokowi Minta Kecepatan Rapid Test dan Laboratorium Ditingkatkan

Corona yang muncul di Tiongkok 3 bulan lalu, telah menyebar ke hampir seluruh negara. Virus telah menginfeksi lebih 1,3 juta orang di seluruh dunia dan menewaskan 72.700 pada Senin sore, menurut data yang dikumpulkan oleh Universitas Johns Hopkins.

Lebih dari 350.000 kasus tersebut ada di Amerika Serikat, di mana dokter, perawat, dan petugas kesehatan lainnya berjuang merawat pasien ketika rumah sakit mengalami kelebihan permintaan. Sementara pasokan medis semakin menipis. Puluhan perawat dan petugas kesehatan lainnya memprotes di luar rumah sakit New York pada Senin meminta alat pelindung diri yang lebih baik.

Pada Jumat, Wali Kota New York City Bill de Blasio menyerukan pendaftaran tenaga medis nasional di kota itu ketika pejabat setempat memperkirakan akan ada lonjakan pasien virus corona selama beberapa minggu ke depan.

WHO merekomendasikan negara-negara yang mengalami kekurangan perawat perlu meningkatkan sekolah lulusan perawat sekitar 8 persen setiap tahun. WHO juga merekomendasikan bahwa para pemimpin dunia mendidik keterampilan perawat di samping aspek teknologi, dan sosiologis untuk mendorong kemajuan sektor kesehatan.

Para pejabat WHO mengatakan para pemimpin juga harus memperkuat peran perawat dalam sistem kesehatan. WHO mencatat sekitar 90 persen perawat adalah perempuan, tetapi hanya sedikit yang memegang posisi kepemimpinan.



Sumber: CNBC