Belum Ada Kepastian Pemulangan ABK Diamond Princess

Belum Ada Kepastian Pemulangan ABK Diamond Princess
Kapal pesiar Diamond Princess dikarantina di Daikoku Pier Cruise Terminal, Yokohama, Jepang, karena kekhawatiran akan covid-19. ( Foto: AFP )
Dina Manafe / IDS Selasa, 25 Februari 2020 | 20:20 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Nasib warga negara Indonesia (WNI) yang merupakan anak buah kapal (ABK) Diamond Princess di Jepang hingga saat ini belum mendapatkan kepastian. Pemerintah belum memutuskan kapan memulangkan mereka. Hingga saat ini masih terus dilakukan koordinasi diplomatik antara pemerintah Indonesia dan pemerintah Jepang. Dari sejumlah skenario yang sudah dibicarakan, rencananya ABK ini akan dijemput dengan pesawat Garuda.

Sesditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemkes), Achmad Yurianto mengatakan, dari 78 ABK WNI di kapal pesiar Diamond Princes, sembilan di antaranya positif terinfeksi novel coronavirus atau Covid-19 melalui pemeriksaan polymerase chain reaction (PCR). Mereka sudah diturunkan dari kapal dan tengah menjalani perawatan di rumah sakit di Jepang.

Sedangkan 69 ABK lainnya yang negatif masih berada di atas kapal. Diperkirakan, jumlah ABK yang positif terjangkit Covid-19 kemungkinan akan terus bertambah. Di kapal ini masih ada sekitar 1.000 lebih orang, yang semuanya ABK dari sejumlah negara termasuk Indonesia.

Yurianto mengatakan, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri terus berkoordinasi dengan otoritas Jepang untuk menyepakati teknis penjemputan ABK tersebut. Selama mereka masih berada di kapal Diamond Princess, maka menjadi otoritas kesehatan pemerintah Jepang.

“Pada prinsipnya kita akan jemput, tapi masih diperlukan koordinasi diplomatik antara kita dengan pemerintah Jepang terkait rencana penjemputannya. Kita maklumi karena ini bukan sesuatu yang mudah,” kata Yurianto di kantor Kemkes, Jakarta, Selasa (25/2/2020).

Yurianto menjelaskan, ada sejumlah pertimbangan mengapa belum ada kepastian pemulangan ABK Diamond Princess. Pertama, Diamond Princes kini jadi episentrum baru penularan Covid-19. Bahkan tingkat penularannya hampir 20% dari total orang di atas kapal tersebut, lebih tinggi dari Wuhan yang hanya sekitar 5%. Selalu ditemukan kasus positif, dan kapan pun ABK WNI ini berisiko terinfeksi.

Inilah yang membuat pemerintah Indonesia lebih berhati-hati. Pemerintah berkaca pada kasus Amerika Serikat yang memulangkan warga negaranya dari Diamond Princes. Dari mereka yang dipulangkan itu, 21 di antaranya sekarang justru positif meski awalnya masih negatif.

“Pemerintah sangat berhati-hati dalam mengambil keputusan. Karantina tahap pertama (14 hari) sudah selesai. Tapi kita mulai berpikir bahwa seharusnya untuk kasus Diamond Princes ini perlu dilakukan observasi selama 28 hari atau dua kali masa inkubasi virus,” kata Yurianto.

Pertimbangan lainnya, menurut Yurianto, pemulangan ABK ini diperlukan manajemen yang tidak biasa. Karena selain ABK Indonesia, adapula ABK dari negara lain, seperti Filipina yang jumlahnya terbanyak sekitar 521 orang, India, dan Hong Kong.

Tiap negara juga masih dalam proses untuk menjemput warganya. Dibutuhkan pengaturan lebih teliti lagi terkait penggunaan sarana angkut dari kapal ke bandara atau pesawat. Sebab, ABK yang akan dievakuasi ini bukanlah penumpang biasa yang menunggu di bandara. Mereka diperlakukan khusus dan sesegera mungkin dari kapal langsung masuk pesawat.

“Ada penjadwalan yang cukup ketat, sehingga sampai sekarang kita belum mendapatkan kepastian kapan akan berangkat,” kata Yurianto.

Pemerintah sendiri, lanjut Yurianto, sudah menyiapkan skenario untuk penjemputannya, yaitu dengan menggunakan pesawat Garuda. Sebab secara formal hanya Garuda yang memiliki registrasi untuk melakukan penerbangan langsung dari Indonesia ke Jepang dan sebaliknya. Namun sampai sekarang belum ditentukan kapan.

Skenario lainnya adalah mengenai masa karantina. Berbeda dengan ABK World Dream maupun WNI yang dievakuasi dari Wuhan, karantina terhadap ABK Diamond Princess secara klaster atau pengelompokan. Mereka akan dipisahkan ruang dan aktivitas sehari-hari. Yang punya riwayat kontak erat dengan ABK positif yang kini dirawat di Jepang akan dipisahkan dengan yang kontak minim. Masa observasi mereka juga bukan lagi 14 hari melainkan 28 hari. Namun sampai sekarang pemerintah belum juga menentukan tempat karantina atau observasi.



Sumber: BeritaSatu.com