Belum Ada Vaksin untuk Pneumonia Tiongkok

Belum Ada Vaksin untuk Pneumonia Tiongkok
Penumpang kereta di Tiongkok menggunakan masker sebagai alat perlindungan terhadap virus pneumonia di Kota Wuhan. ( Foto: istimewa )
Dina Manafe / EAS Jumat, 17 Januari 2020 | 21:04 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Kejadian luar biasa penyakit pneumonia di Kota Wuhan, Tiongkok, masih terus diwaspadai. Meski tingkat fatalitasnya terbilang rendah, tetapi penularannya cepat dan dan menyerang banyak orang dalam waktu relatif singkat. Di dunia sampai saat ini belum ada vaksin untuk mencegah pneumonia jenis Wuhan, karenanya kewaspadaan harus ditingkatkan tiap individu maupun pemerintah untuk mencegah masuknya penyakit ini ke Indonesia.

Dokter Spesialis Paru dari Rumah Sakit Persahabatan, Erlina Burhan pada temu media di Rumah Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Jakarta, Jumat (17/1/2020) mengatakan, di dunia belum ada vaksin untuk mencegah pneumonia yang terjadi Wuhan. Adapun vaksin yang ada saat ini hanya untuk mencegah pneumonia yang disebabkan oleh kuman pneumokokus, bukan virus seperti di Wuhan.

Vaksin Pneumokokus atau Pneumococcal Conjugate Vaccine (PCV) 13 dengan merek dagang Prevnar memberikan kekebalan terhadap 13 strain bakteri streptococcus pneumoniae, yang paling sering menyebabkan penyakit pneumokokus pada manusia. Masa perlindungan sekitar 3 tahun. Vaksin PCV13 utamanya ditujukan kepada bayi dan anak di bawah usia 2 tahun.

Adapula vaksin Pneumokokus PPSV23 dengan nama dagang Pneumovax 2 memberikan proteksi terhadap 23 strain bakteri pneumokokus. Vaksin PPSV23 ditujukan kepada kelompok umur yang lebih dewasa. Mereka adalah orang dewasa usia 65 tahun ke atas, atau usia 2 hingga 64 tahun dengan kondisi khusus. Sementara di negara berkembang seperti Indonesia, bakteri Haemophilus influenzae type B (Hib) merupakan penyebab pneumonia dan radang otak (meningitis) yang utama. Di Indonesia vaksinasi Hib telah masuk dalam program nasional imunisasi untuk bayi.

"Sedangkan untuk pencegahan pneumonia yang sedang marak saat ini, belum ada vaksin untuk mencegahnya karena pneumonia yang di Wuhan ini disebabkan oleh corona virus jenis baru,” kata Erlina.

Erlina menegaskan, vaksin yang beredar saat ini hanya efektif untuk membunuh pneumonia karena bakteri/pneumokokus. Kondisi saat ini menurut Erlina, banyak orang salah persepsi mengenai manfaat vaksin tersebut. Sejak muncul kasus di Tiongkok, tidak sedikit orang yang minta divaksinasi. Padahal, menurut Erlina, vaksin tersebut tidak memberikan efek apa pun jika tujuannya untuk mencegah tertular pneumonia dari Tiongkok.

Selain Tiongkok, beberapa negara melaporkan kasus-kasus suspek serupa dengan di Wuhan, yaitu Singapura, Seoul, Thailand dan Hongkong. Terkait hal tersebut Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi ada satu kasus di Thailand terdeteksi virus baru yang berasal dari outbreak pneumonia di Tiongkok. Kasus tersebut merupakan traveler dari Wuhan.

Menurus data United Nations Maret 2018, terdapat banyak negara atau tempat yang menjadi tujuan pengunjung dari Wuhan di antaranya Bangkok, Hong Kong, Tokyo, Singapura, Denpasar Bali, Macau, Dubai, Sydney dan masih banyak negara lainnya. Namun, WHO belum merekomendasikan secara spesifik untuk traveler atau restriksi perdagangan dengan Tiongkok. Saat ini WHO masih terus melakukan pengamatan.

Diketahui, 31 Desember 2019 di Kota Wuhan dilaporkan adanya kasus-kasus pneumonia berat yang belum diketahui etiologinya. Awalnya terdapat 27 kasus kemudian meningkat menjadi 59 kasus, dengan usia, antara 12-59 tahun. Terdapat laporan kematian pertama terkait kasus pneumonia ini, yaitu pasien usia 61 tahun dengan penyakit penyerta yaitu penyakit liver kronis dan tumor abdomen atau perut.

"Sampai sekarang belum terbukti adanya penularan dari manusia ke manusia. Namun tetap harus diwaspadai terutama mereka yang bepergian ke Wuhan dan negara lain yang memiliki kasus serupa. Karena mobilitas orang ini padat, dan penularannya mudah lewat udara,” kata Erlina.

Jangan Panik
Perhimpunn Dokter Paru Indonesia (PDPI) mengimbau masyarakat untuk tetap waspada, tetapi jangan panik. Imbauan yang sama juga telah disampaikan Kementerian Kesehatan lewat dinas kesehatan sampai ke fasilitas kesehatan dan masyarakat.

"Masyarakat tetap waspada terutama bila mengalami gejala demam, batuk disertai kesulitan bernafas, segera mencari pertolongan ke rumah sakit terdekat,” kata Ketua Umum PDPI, Agus Dwi Susanto.

Diketahui pmeumonia adalah infeksi atau peradangan akut di jaringan paru yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme, seperti bakteri, virus, parasit, jamur, pajanan bahan kimia atau kerusakan fisik paru. Pneumonia dapat menyerang siapa aja, seperti anak-anak, remaja, dewasa muda dan lanjut usia. Tetapi lebih banyak pada balita dan lanjut usia.

Pneumonia menyerang sekitar 450 juta orang setiap tahunnya. Data Riskesdas 2018 menunjukkan, prevalensi pneumonia berdasarkan diagnosis tenaga kesehatan yaitu 2%, naik dari 2013 adalah 1,8%. Jumlah penderita pneumonia sendiri di Indonesia menurut data Kemkes 2014 berkisar antara 23%-27% dan kematian akibat pneumonia 1,19%. Tahun 2010 di Indonesia pneumonia termasuk dalam 10 besar penyakit rawat inap di rumah sakit dengan angka kematian pada periode waktu tertentu dibagi jumlah kasus adalah 7,6%.



Sumber: Suara Pembaruan