Hati-hati, Kasus HIV/AIDS pada Ibu Rumah Tangga Meningkat

Hati-hati, Kasus HIV/AIDS pada Ibu Rumah Tangga Meningkat
Kampanye anti-HIV/AIDS. ( Foto: Antara )
Dina Manafe / EAS Senin, 9 Desember 2019 | 13:37 WIB

Jakarta, Beritasatu.com - Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) kembali mengingatkan ancaman HIV/AIDS di Indonesia. Ada tren yang cukup mengkhawatirkan, di mana kasus penularan ke ibu rumah tangga terus meningkat. Mengacu pada data Kementerian Kesehatan (Kemkes), saat ini kira-kira 16.844 ibu rumah tangga yang menderita HIV dan AIDS.

Ironisnya mereka ini bukan tergolong kelompok berisiko, tetapi tertular dari pasangan resmi atau suami. Lebih mengkhawatirkan, dari ibu rumah tangga yang positif ini akan berpotensi menularkan pada bayinya apabila tidak terdeteksi sejak awal dan dilakukan upaya pencegahan.

Plt Direktur Kesehatan Reproduksi BKKBN, Widwiono, mengatakan, penyebaran HIV saat ini tidak hanya menyerang orang berperilaku risiko tinggi, melainkan juga kepada ibu rumah tangga yang aktifitasnya banyak di rumah mengurus anak-anak, namun tertular oleh suami mereka sendiri yang melakukan hubungan seksual tidak aman atau memakai jarum suntik tidak steril. Dari ibu yang tidak tahu apa-apa akan menularkan kepada bayinya. Inilah yang menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus HIV di Indonesia.

"Meningkatnya jumlah kasus HIV di kalangan ibu rumah tangga salah satunya akibat kurangnya pengetahuan mereka tentang pencegahan dan faktor penyebab penularan HIV AIDS,” kata Widwiono saat membuka seminar nasional peringatan Hari AIDA Sedunia di Kantor BKKBN, Jakarta, Senin (9/12/2019).

Menurut Widwiono, Hari AIDS Sedunia yang diperingati setiap tanggal 1 Desember tidak hanya bersifat seremonial, namun untuk mengingatkan semua pihak dan masyarakat bahwa HIV/AIDS belum hilang bahkan akan terus mengalami peningkatan jika tidak diatasi bersama sedini mungkin. Karena itu momentum peringatan Hari AIDS tahun ini juga sekaligus dijadikan sebagai bentuk solidaritas kepada orang dengan HIV/AIDS (ODHA).

Dengan kegiatan peringatan Hari AIDS Sedunia tahun ini diharapkan bisa meningkatkan kesadaran, kepedulian dan keterlibatan seluruh masyarakat dalam mencegah dan menanggulangi HIV/AIDS untuk mencapai target three zero pada 2030 nanti. Tiga target tersebut yaitu tidak ada lagi penularan HIV, tidak ada lagi kematian akibat AIDS, dan tidak ada lagi stigma atau diskriminasi pada ODHA.

Menurut Widwiono, penyebaran HIV/AIDS di Indonesia saat ini semakin memprihatinkan sehingga memerlukan perhatian dari lintas sektor. Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan RI Triwulan II tahun 2019 secara kumulatif terdapat 117.064 kasus AIDS dan 349.882 kasus HIV positif. Faktor risiko penularan HIV terbanyak adalah melalui hubungan seks berisiko pada heteroseksual (70.2%), pengguna jarum suntik atau penasun (8.2 %), homoseksual (7%), dan penularan melalui perinatal (2.9%). Ada lima provinsi di Indonesia tertinggi kasus HIV yaitu DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Papua dan Jawa Tengah. Sedangkan lima provinsi dengan jumlah AIDS terbanyak yaitu Papua, Jawa Timur, Jawa tengah, DKI Jakarta dan Bali.

Edukasi
Widwiono mengatakan, salah satu upaya yang perlu dilakukan dalam menangkal penyebaran HIV adalah melalui peningkatan ketahanan keluarga. Edukasi dan sosialisasi penerapan 8 fungsi keluarga, yaitu agama, budaya, kasih sayang, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, dan lingkungan perlu dilakukan secara terus menerus oleh kader dalam setiap kegiatan pembinaan keluarga. Ini tidak hanya dapat mencegah perilaku risiko anggota keluarga namun juga dapat mencegah dampak negatif dari masalah HIV AIDS.

"Fungsi keluarga dapat terwujud melalui peran suami istri secara bersama-sama untuk memproteksi diri dari penularan HIV," kata Widwiono.

Widwiono berharap, para pengelola program keluarga berencana, KB dan pembangunan keluarga khususnya para kader yang merupakan ujung tombak program BKKBN di lapangan. Diharapkan kader ini terlibat secara langsung membantu pemerintah dalam mencegah dan mengendalikan HIV/AIDS di masyarakat.

Widwiono juga berharap para kader dapat lebih berperan aktif dalam melakukan sosialisasi dan edukasi tentang pengenalan, cara penularan dan pencegahan HIV AIDS kepada masyarakat dan perencanaan kehamilan, menyusui, serta kontrasepsi bagi ODHA.



Sumber: Suara Pembaruan